Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Doa Tawaf Wada’ saat Perpisahan dengan Ka’bah, Lengkap Arab dan Artinya

Kompas.com, 16 Mei 2026, 10:01 WIB
Add on Google
Khairina

Editor

Sumber MUI

KOMPAS.com-Tawaf wada’ menjadi momen perpisahan jamaah haji dengan Ka’bah setelah seluruh rangkaian manasik selesai dilakukan.

Pada saat itu, banyak jamaah merasakan haru karena harus meninggalkan Baitullah dan belum tentu mendapat kesempatan kembali ke Tanah Suci.

Dilansir dari laman MUI, para ulama terdahulu memberi perhatian besar terhadap doa ketika tawaf wada’, terutama saat jamaah berada di Multazam, yakni tempat di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.

Doa tawaf wada’ berisi permohonan ampunan, keberkahan rezeki, perlindungan selama perjalanan pulang, serta harapan agar ibadah haji diterima Allah SWT.

Baca juga: Ketentuan Ibadah Haji bagi Perempuan Haid, Tawaf Ifadah Harus Menunggu Suci

Makna tawaf wada’ bagi jamaah haji

Tidak sedikit jamaah haji yang menangis ketika berada di hadapan Ka’bah untuk terakhir kalinya sebelum meninggalkan Makkah.

Setelah rangkaian manasik haji dilalui, tibalah saat bagi jamaah melakukan thawaf wada’ atau thawaf perpisahan dengan Baitullah.

Pada momen tersebut, hati seorang mukmin biasanya menjadi lembut karena berharap hajinya diterima, dosanya diampuni, dan dirinya mendapat ridha Allah SWT.

Jamaah juga menyadari bahwa kesempatan kembali ke Tanah Suci belum tentu datang lagi pada masa berikutnya.

Anjuran berdoa di Multazam

Dalam konteks perpisahan dengan Ka’bah, para ulama saleh terdahulu memberikan perhatian besar terhadap doa saat tawaf wada’.

Doa tersebut terutama dianjurkan ketika jamaah berada di Multazam, yaitu area di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.

Dalam kitab Ad-Du‘a karya Imam ath-Thabrani, disebutkan sejumlah riwayat mengenai doa-doa yang dianjurkan ketika hendak meninggalkan Makkah.

Salah satu riwayat tersebut berasal dari tabi’in besar, Sa’id bin Jubair.

Beliau menganjurkan seseorang berdoa di Multazam ketika hendak berpamitan dengan Ka’bah.

عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، أَنَّهُ كَانَ يَسْتَحِبُّ أَنْ يَدْعُوَ عِنْدَ وَدَاعِ الْبَيْتِ فِي الْمُلْتَزَمِ بَيْنَ الْحِجْرِ وَالْبَابِ

“Diriwayatkan dari Sa‘id bin Jubair, bahwa beliau senang berdoa ketika berpamitan dengan Baitullah di Multazam antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.”

Baca juga: 3 Opsi Keringanan Tawaf Ifadah bagi Haji Perempuan Haid

Bacaan doa tawaf wada’ di Multazam

Adapun lafaz doa yang dapat dibaca ketika tawaf wada’ di Multazam adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي، وَقَنِّعْنِي بِمَا رَزَقْتَنِي، وَبَارِكْ لِي فِيهِ، وَاخْلُفْ عَلَى كُلِّ غَائِبَةٍ لِي بِخَيْرٍ

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, jadikan aku merasa cukup dengan rezeki yang Engkau berikan kepadaku, berkahilah rezeki itu untukku, dan gantilah setiap sesuatu yang hilang dariku dengan kebaikan.”

Doa ini berisi permohonan ampunan, kecukupan rezeki, keberkahan, serta pengganti yang baik atas segala sesuatu yang hilang dari kehidupan seorang hamba.

Doa tawaf wada’ yang lebih panjang

Dalam riwayat lain yang lebih panjang, Abdur Razzaq ash-Shan’ani menjelaskan adab seseorang ketika hendak pulang dari Makkah.

Setelah tawaf wada’, jamaah dianjurkan shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim.

Setelah itu, jamaah berdiri di Multazam dan membaca doa berikut:

اللَّهُمَّ عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ، حَمَلْتَنِي عَلَى دَابَّتِكَ، وَسَيَّرْتَنِي فِي بِلَادِكَ حَتَّى أَدْخَلْتَنِي حَرَمَكَ وَأَمْنَكَ، وَهَذَا بَيْتُكَ، وَقَدْ رَجَوْتُكَ رَبِّ فِيهِ بِحُسْنِ ظَنِّي بِكَ أَنْ يَكُونَ قَدْ غَفَرْتَ لِي، فَإِنْ كُنْتَ رَبِّ غَفَرْتَ لِي فَازْدَدْ عَنِّي رِضًا، وَقَرِّبْنِي إِلَيْكَ زُلْفًا، وَإِنْ كُنْتَ رَبِّ لَمْ تَغْفِرْ لِي فَمِنَ الْآنَ رَبِّ فَاغْفِرْ لِي قَبْلَ أَنْ يَنْأَى عَنِّي بَيْتُكَ، يَا رَبِّ هَذَا أَوَانُ انْصِرَافِي إِنْ أَذِنْتَ لِي غَيْرَ رَاغِبٍ عَنْكَ، وَلَا عَنْ بَيْتِكَ، وَلَا مُسْتَبْدِلٍ بِكَ يَا رَبِّ وَلَا بِبَيْتِكَ، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي وَمِنْ أَمَامِي وَمِنْ وَرَائِي حَتَّى تُقَدِّمَنِي إِلَى أَهْلِي، فَإِذَا قَدَّمْتَنِي رَبِّي فَلَا تَتَخَلَّ عَنِّي وَاكْفِنِي مَئُونَةَ أَهْلِي وَمَئُونَةَ خَلْقِكَ، إِنَّكَ وَلِيِّي وَوَلِيُّهُمْ

“Ya Allah, aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba laki-laki-Mu dan anak dari hamba perempuan-Mu. Engkau telah membawaku di atas kendaraan-Mu dan menjalankanku di negeri-negeri-Mu hingga Engkau memasukkanku ke tanah haram-Mu dan keamanan-Mu. Inilah rumah-Mu. Aku berharap kepada-Mu, wahai Tuhanku, dengan prasangka baikku kepada-Mu, semoga Engkau telah mengampuniku. Jika Engkau telah mengampuniku, maka tambahkanlah keridhaan-Mu kepadaku dan dekatkanlah aku kepada-Mu. Namun, jika Engkau belum mengampuniku, maka ampunilah aku mulai saat ini sebelum rumah-Mu jauh dariku. Ya Tuhanku, inilah saat keberangkatanku jika Engkau mengizinkanku pergi, bukan karena aku membenci-Mu, bukan pula membenci rumah-Mu, dan bukan karena aku mencari pengganti selain Engkau dan selain rumah-Mu. Ya Allah, jagalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri, dan seluruh arahku hingga Engkau mengembalikanku kepada keluargaku. Jika Engkau telah mengembalikanku kepada mereka, maka janganlah Engkau meninggalkanku, dan cukupkanlah kebutuhan keluargaku serta kebutuhan seluruh makhluk-Mu. Sesungguhnya Engkaulah pelindungku dan pelindung mereka.” (Ad-Du‘a [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah], h. 276)

Makna doa tawaf wada’

Doa tawaf wada’ ini menyiratkan pengakuan seorang hamba di hadapan Allah SWT.

Di dalamnya terdapat rasa syukur karena telah diberi kesempatan datang ke Tanah Suci, harapan besar atas ampunan, dan rasa takut apabila ibadahnya belum diterima.

Doa ini juga menunjukkan bahwa hati orang beriman tetap tertambat kepada Allah dan Baitullah, meskipun raganya harus kembali ke kampung halaman.

Baca juga: Urutan Ibadah Haji 2026: Dari Tarwiyah hingga Tawaf Wada’

Doa perlindungan saat pulang dari Tanah Suci

Hal menarik dari doa tawaf wada’ adalah adanya permohonan perlindungan selama perjalanan pulang.

Jamaah juga memohon agar Allah SWT menjaga keluarga dan mencukupkan kebutuhan mereka setelah dirinya kembali dari Tanah Suci.

Hal ini menunjukkan bahwa spiritualitas Islam tidak memisahkan ibadah ritual dari tanggung jawab kehidupan sehari-hari.

Dengan doa tersebut, seorang haji tidak diajarkan tenggelam dalam kesalehan pribadi semata.

Jamaah juga diajak kembali ke keluarga dan masyarakat dengan hati yang lebih bersih, harapan yang lebih kuat, serta tanggung jawab yang lebih besar setelah menunaikan ibadah haji.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Rahasia Cita Rasa Makanan Jemaah Haji, Ada Koki Indonesia yang Jadi Andalan Dapur di Makkah
Rahasia Cita Rasa Makanan Jemaah Haji, Ada Koki Indonesia yang Jadi Andalan Dapur di Makkah
Aktual
Jemaah Haji Indonesia Dapat 15 Porsi Makanan Siap Santap saat Puncak Armuzna
Jemaah Haji Indonesia Dapat 15 Porsi Makanan Siap Santap saat Puncak Armuzna
Aktual
Terminal Ajyad Sediakan Jalur Khusus Lansia, Jemaah Haji Tak Perlu Berdesakan
Terminal Ajyad Sediakan Jalur Khusus Lansia, Jemaah Haji Tak Perlu Berdesakan
Aktual
Revano, Siswa Katolik di SMK Muhammadiyah Pekalongan yang Lulus Berprestasi dan Siap ke Jepang
Revano, Siswa Katolik di SMK Muhammadiyah Pekalongan yang Lulus Berprestasi dan Siap ke Jepang
Aktual
Jemaah Haji Bisa Kekurangan Vitamin D meski Cuaca Panas di Tanah Suci, Ini Saran Dokter
Jemaah Haji Bisa Kekurangan Vitamin D meski Cuaca Panas di Tanah Suci, Ini Saran Dokter
Aktual
Rendang hingga Soto Disiapkan untuk Jemaah Selama Puncak Ibadah Haji
Rendang hingga Soto Disiapkan untuk Jemaah Selama Puncak Ibadah Haji
Aktual
Kapan Idul Adha 2026? Kemenag Gelar Sidang Isbat 17 Mei
Kapan Idul Adha 2026? Kemenag Gelar Sidang Isbat 17 Mei
Aktual
Doa Tawaf Wada’ saat Perpisahan dengan Ka’bah, Lengkap Arab dan Artinya
Doa Tawaf Wada’ saat Perpisahan dengan Ka’bah, Lengkap Arab dan Artinya
Doa dan Niat
Kiai Imjaz, Gus Yahya, dan Gus Yusuf Hadir di PMKNU Cirebon, Sinyal Panas Menuju Muktamar NU 2026
Kiai Imjaz, Gus Yahya, dan Gus Yusuf Hadir di PMKNU Cirebon, Sinyal Panas Menuju Muktamar NU 2026
Aktual
Arab Saudi Ajak Muslim Pantau Hilal 17 Mei, Penentu Awal Zulhijah dan Jadwal Idul Adha 2026
Arab Saudi Ajak Muslim Pantau Hilal 17 Mei, Penentu Awal Zulhijah dan Jadwal Idul Adha 2026
Aktual
Bolehkah Langsung Membunuh Ular yang Masuk Rumah? Ini Penjelasan Ulama
Bolehkah Langsung Membunuh Ular yang Masuk Rumah? Ini Penjelasan Ulama
Aktual
Operasional Haji 2026 Masuk Hari ke-25, 159 Ribu Jemaah Tiba di Saudi
Operasional Haji 2026 Masuk Hari ke-25, 159 Ribu Jemaah Tiba di Saudi
Aktual
Bolehkah Puasa Dzulhijjah Digabung Qadha Ramadhan? Ini Hukumnya
Bolehkah Puasa Dzulhijjah Digabung Qadha Ramadhan? Ini Hukumnya
Aktual
Tawakkalna Hadirkan 19 Bahasa untuk Haji 2026, Termasuk Indonesia!
Tawakkalna Hadirkan 19 Bahasa untuk Haji 2026, Termasuk Indonesia!
Aktual
Kapan Batas Akhir Potong Kuku bagi Shahibul Kurban 2026? Cek Tanggalnya
Kapan Batas Akhir Potong Kuku bagi Shahibul Kurban 2026? Cek Tanggalnya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com