Penulis
KOMPAS.com – Kabar meninggalnya Yurizal Tri Chaerawan setelah sebelumnya mengeluhkan sulitnya mendapatkan ruang perawatan di rumah sakit mengundang duka sekaligus refleksi bagi masyarakat.
Tragedi yang sempat viral di media sosial itu bukan hanya memunculkan kritik terhadap layanan kesehatan, tetapi juga mengingatkan pentingnya menjaga empati ketika melihat orang yang sedang sakit.
Sebelum wafat pada 31 Juli 2026, Yurizal sempat mencurahkan pengalamannya melalui Threads. Ia mengaku telah menunggu hingga delapan jam untuk mendapatkan ruang perawatan meski menjadi peserta aktif BPJS Kesehatan.
Baca juga: Sakit atau Safar? Ini Cara Amalanmu Tetap Berpahala Sempurna
Alih-alih mendapat dukungan dan doa, unggahannya justru dibanjiri komentar bernada sinis. Bahkan, beberapa akun yang mengaku sebagai tenaga kesehatan ikut memberikan respons yang dinilai tidak menunjukkan rasa empati.
Setelah kabar duka meninggalnya Yurizal tersebar, publik bereaksi keras. Tiga tenaga kesehatan yang sebelumnya menuliskan komentar bernada nyinyir akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Mereka mengakui komentar tersebut tidak pantas, tidak profesional, dan telah melukai perasaan keluarga almarhum.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa seseorang yang sedang sakit bukan membutuhkan cibiran, melainkan dukungan moral, doa, dan penguatan.
Dalam ajaran Islam, menjenguk orang sakit merupakan sunnah yang sangat dianjurkan. Tidak hanya hadir secara fisik, seorang Muslim juga diajarkan untuk mendoakan kesembuhan saudaranya.
Buku Kumpulan Doa-doa Sehari-hari terbitan Kementerian Agama RI memuat doa yang diajarkan Rasulullah SAW ketika menjenguk orang sakit.
Doa tersebut berbunyi:
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَأْسَ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا
Allahumma Rabban-nās, adzhibil ba'sa, isyfi anta asy-syāfī, lā syifā'a illā syifā'uka, syifā'an lā yughādiru saqamā.
Artinya:
"Ya Allah, Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah penyakit. Sembuhkanlah, Engkaulah Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan selain kesembuhan dari-Mu, yaitu kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit."
Dalam penjelasan buku tersebut disebutkan bahwa doa ini dibaca tiga kali sambil mengusap tubuh orang yang sakit dengan tangan kanan. Amalan ini dicontohkan Rasulullah SAW ketika salah seorang anggota keluarganya mengalami sakit dan diriwayatkan dalam hadis sahih Al-Bukhari dan Muslim.
Media sosial sering kali membuat seseorang mudah berkomentar tanpa mengetahui kondisi sebenarnya. Padahal, orang yang sedang sakit bisa saja tengah berjuang menghadapi rasa nyeri, kecemasan, bahkan ancaman kehilangan nyawa.
Karena itu, Islam mengajarkan agar seorang Muslim menjaga lisan, termasuk tulisan di media sosial. Ketika melihat orang yang sedang sakit, pilihan terbaik bukanlah menghakimi atau merendahkan, melainkan memberikan doa, semangat, dan bantuan sesuai kemampuan.
Baca juga: Ratusan Jemaah Haji Pulang Lebih Awal Lewat Program Tanazul karena Sakit, Ini Prosedurnya
Tragedi yang menimpa Yurizal menjadi pelajaran bahwa satu kalimat dapat menjadi penghibur, tetapi juga bisa menjadi luka yang membekas. Empati yang diwujudkan melalui doa dan sikap lembut jauh lebih bernilai daripada komentar yang menyakitkan hati.
Di tengah derasnya arus media sosial, semoga setiap Muslim mampu menghidupkan akhlak Rasulullah SAW: menghadirkan kasih sayang kepada sesama, terutama kepada mereka yang sedang diuji dengan sakit.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang