Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Video Viral, Ayah di Gaza Saring Reruntuhan Cari Tulang Istri dan Anak

Kompas.com, 20 Januari 2026, 17:21 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Di antara debu, beton yang runtuh, dan bau kehancuran yang masih menyelimuti Jalur Gaza, seorang ayah Palestina berjuang seorang diri dengan saringan sederhana di tangannya.

Ia bukan sedang mencari harta atau barang berharga. Tujuannya hanya satu: mengumpulkan sisa-sisa tulang istri dan kelima anaknya yang tewas tertimbun reruntuhan setelah serangan Israel menghancurkan gedung enam lantai tempat keluarganya berlindung.

Pemandangan memilukan itu terekam dalam sebuah video yang beredar luas di media sosial dilansir oleh Middle East Eye, Selasa (20/1/2026).

Dalam rekaman tersebut, pria itu terlihat berjongkok, menyaring tanah bercampur puing bangunan, lalu berhenti setiap kali menemukan potongan tulang kecil.

Dengan suara bergetar, ia menyebut satu per satu temuan yang baginya bukan sekadar fragmen jasad, melainkan kenangan terakhir keluarganya.

“Ada tulang di sini, ini sisa-sisa istri dan anak-anak saya,” ujarnya dalam video.

Ia juga mengungkap bahwa salah satu korban adalah bayi perempuannya yang baru berusia tiga hari, meninggal setelah lahir di tengah kondisi layanan kesehatan Gaza yang lumpuh akibat perang.

Baca juga: Musim Dingin Ekstrem Menguji Pengungsi Gaza Utara, Selimut Hangat Jadi Penyelamat

Mencari Keluarga di Tengah Reruntuhan

Selama berhari-hari, pria itu kembali ke lokasi gedung yang telah rata dengan tanah. Tanpa alat berat, tanpa bantuan memadai, ia menyaring puing demi puing menggunakan tangan kosong dan peralatan seadanya.

Setiap potongan tulang yang ditemukan ia kumpulkan dengan hati-hati, berharap dapat memberikan pemakaman yang layak bagi keluarganya. Ia mengaku telah meminta bantuan, tetapi tidak ada yang datang.

“Kami meminta pertolongan dari semua orang, tetapi kami tidak menerima apa-apa. Jadi saya terpaksa memungut tulang mereka seperti ini,” katanya.

Di balik kalimat itu, tersimpan keputusasaan sekaligus keteguhan seorang ayah yang menolak membiarkan keluarganya hilang tanpa jejak.

Bagi banyak warga Gaza, menemukan jasad orang tercinta bukan sekadar proses fisik, melainkan juga upaya menutup luka batin.

Dalam tradisi Islam, memakamkan jenazah dengan layak adalah bentuk penghormatan terakhir kepada mereka yang telah wafat.

Di tengah perang, kewajiban kemanusiaan ini berubah menjadi perjuangan yang nyaris mustahil.

Ribuan Jenazah Masih Terkubur

Tragedi yang dialami pria tersebut bukanlah kasus tunggal. Badan Pertahanan Sipil Gaza memperkirakan sekitar 10.000 jenazah masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan.

Lebih dari 60 juta ton puing menutupi wilayah Gaza, sementara akses jalan hancur dan peralatan berat sangat terbatas, dilansir dari theguardian, Selasa (20/1/2026).

Kepala pertahanan sipil Gaza utara, Khaled al-Ayoubi, menjelaskan bahwa pada tahap awal, tim penyelamat hanya mampu mengumpulkan jenazah yang tergeletak di jalanan. Banyak korban lainnya masih tertimbun di gedung-gedung bertingkat yang runtuh.

“Kami bekerja perlahan karena puing-puing juga dipenuhi bom dan amunisi yang belum meledak,” ujarnya.

Badan pertahanan sipil, Dr. Mohammed al-Mugheer menambahkan, tanpa masuknya alat berat, proses evakuasi dapat memakan waktu hingga satu tahun. Namun bagi keluarga korban, menunggu selama itu terasa terlalu lama.

Baca juga: MUI Kecam Israel Larang Organisasi Kemanusiaan Beroperasi di Gaza

Kisah Duka yang Terus Berulang

Di Jabaliya, Gaza utara, Ghali Khadr, 40 tahun, mengalami nasib serupa. Ia menghabiskan dua hari membujuk orang tuanya agar mengungsi ke selatan.

Ayahnya menolak. Tak lama berselang, serangan udara menghantam rumah mereka dan mengubur kedua orang tuanya di bawah reruntuhan.

Ketika Khadr kembali setelah gencatan senjata diumumkan yang ia temukan hanyalah pecahan tengkorak dan bagian tangan.

Ia membawa sisa jasad itu ke pemakaman, namun mendapati area tersebut juga telah hancur. Akhirnya, ia menguburkan orang tuanya di samping beberapa makam yang masih utuh.

“Kami hanya ingin menguburkan mereka dengan layak,” kata Khadr.

Kalimat sederhana yang menggambarkan kerinduan akan ketenangan batin di tengah kekacauan perang.

Menunggu Kepastian, Menggenggam Harapan Terakhir

Yahya al-Muqra, 32 tahun, juga masih mencari saudaranya yang hilang setelah serangan udara menghantam rumah mereka pada Juli lalu.

Ia berharap menemukan setidaknya sepotong pakaian atau fragmen tulang sebagai bukti keberadaan sang saudara.

“Bahkan satu tulang pun akan membuat kami bisa memakamkannya dan merasa sedikit lega,” ujarnya.

Bagi banyak keluarga Gaza, ketidakpastian tentang nasib orang tercinta adalah luka yang terus terbuka.

Mereka menunggu di tepi reruntuhan, berharap tim penyelamat menemukan sesuatu yang bisa dijadikan tempat berpamitan terakhir.

Baca juga: IZI Kirim 189,7 Ton Bantuan Kemanusiaan untuk Gaza lewat Mesir

Duka Kemanusiaan di Tengah Perang

Kisah pria yang menyaring puing demi mengumpulkan tulang istri dan anak-anaknya telah menyentuh hati jutaan orang di media sosial.

Banyak warganet menyebutnya sebagai simbol penderitaan warga sipil Gaza dan potret paling sunyi dari tragedi kemanusiaan yang sedang berlangsung.

Lebih dari sekadar viral, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di balik angka korban dan laporan konflik, ada manusia yang kehilangan keluarga, rumah, dan masa depan mereka.

Di antara reruntuhan, seorang ayah berlutut, bukan hanya mencari tulang-belulang, tetapi juga mencoba merajut kembali makna hidup setelah segalanya direnggut oleh perang.

Di Gaza, puing-puing bangunan telah menjadi saksi bisu duka yang tak terucap. Dan di antara debu yang beterbangan, tersisa doa paling sederhana agar tragedi serupa tidak terus berulang, dan kemanusiaan kembali menemukan tempatnya di tengah konflik yang berkepanjangan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar