Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Childfree dalam Pandangan Islam, Apakah Dilarang?

Kompas.com, 20 Agustus 2026, 08:14 WIB
Puji Sri Rahayu,
Reni Susanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Keputusan untuk memiliki anak menjadi salah satu hal yang dipertimbangkan pasangan ketika membangun keluarga.

Kesiapan ekonomi, mental, kemampuan mengasuh, hingga tanggung jawab membesarkan anak dapat menjadi pertimbangan sebelum pasangan memutuskan memiliki keturunan.

Di tengah berbagai pertimbangan tersebut, muncul pula istilah childfree, yakni keputusan seseorang atau pasangan untuk tidak memiliki anak.

Baca juga: MUI Peringatkan Bahaya Tren Childfree dan Tidak Menikah Bagi Keberlangsungan Bangsa

Persoalan kesiapan membangun keluarga menjadi salah satu perhatian Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang diungkap kepala BKKBN Wihaji.

"Tanyangan membangun keluarga saat ini semakin beragam (termasuk childfree)," tutur Wihaji di Gedung Baznas, Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan childfree? Bagaimana Islam memandang keputusan untuk tidak memiliki anak?

Apa Itu Childfree?

Childfree secara umum merujuk pada keputusan seseorang atau pasangan untuk tidak memiliki anak berdasarkan pilihan atau pertimbangan tertentu.

Karena itu, childfree berbeda dengan kondisi seseorang atau pasangan yang belum memiliki anak karena faktor biologis, kesehatan, maupun keadaan lain di luar pilihan mereka.

Childfree juga tidak sama dengan keluarga berencana (KB).

KB merupakan upaya untuk merencanakan kehamilan dan kelahiran, termasuk mengatur jarak kelahiran dengan mempertimbangkan kondisi keluarga.

Dengan demikian, penggunaan alat kontrasepsi atau keputusan menunda kehamilan tidak serta-merta berarti pasangan tersebut memilih childfree.

Perbedaan utamanya terletak pada tujuan. Menunda kehamilan berarti pasangan masih membuka kemungkinan memiliki anak pada waktu yang dianggap lebih tepat, sedangkan childfree merujuk pada pilihan untuk menjalani kehidupan tanpa memiliki anak.

Baca juga: Di Tengah Gempuran Gawai, Mengapa Anak Tetap Perlu Bermain? Ini Pandangan Islam

Bagaimana Islam Memandang Childfree?

Dalam Islam, memiliki keturunan memiliki kedudukan penting dalam kehidupan keluarga.

Kementerian Agama menjelaskan tidak terdapat ayat Al Quran maupun hadis yang secara eksplisit mewajibkan setiap pasangan suami istri memiliki anak. Namun, Islam memberikan anjuran untuk memiliki keturunan.

Karena itu, persoalan childfree tidak dapat semata-mata dilihat dari kondisi seseorang memiliki atau tidak memiliki anak.

Dalam kajian fikih yang dimuat NU Online, hukum mengenai childfree antara lain perlu dilihat berdasarkan motif keputusan tersebut dan metode yang digunakan untuk mencegah kehamilan.

Dengan demikian, kondisi pasangan yang menunda memiliki anak, tidak dapat memiliki anak karena kondisi tertentu, dan pasangan yang sejak awal memutuskan tidak ingin mempunyai keturunan perlu dibedakan.

Islam sendiri memberikan perhatian terhadap keberlangsungan keturunan melalui salah satu tujuan syariat atau maqashid syariah, yakni hifz al-nasl atau menjaga keturunan.

Prinsip tersebut menunjukkan pentingnya keberlangsungan keturunan dalam kehidupan manusia.

Namun, hal tersebut tidak berarti pasangan yang belum mempunyai anak dapat serta-merta dianggap berdosa. Kondisi, alasan, serta cara yang ditempuh pasangan perlu diperhatikan sebelum memberikan penilaian terhadap keputusan tersebut.

Kesiapan Membangun Keluarga

Pembicaraan mengenai childfree pada akhirnya juga berkaitan dengan kesiapan seseorang dalam membangun keluarga.

Kesiapan tersebut tidak berhenti pada kemampuan menyelenggarakan pernikahan, tetapi mencakup kesiapan ekonomi, mental, kemampuan mengasuh, serta tanggung jawab terhadap kehidupan keluarga setelah menikah.

Persiapan tersebut menjadi semakin penting ketika pasangan memutuskan memiliki anak.

Sebab, kehadiran anak membawa tanggung jawab dalam pengasuhan, pendidikan, kesehatan, hingga pemenuhan kebutuhan tumbuh kembangnya.

Bagi generasi muda, pemahaman mengenai kehidupan keluarga dapat membantu agar keputusan mengenai pernikahan dan keturunan tidak semata-mata didasarkan pada ketakutan maupun tekanan lingkungan, tetapi melalui pertimbangan yang matang dan bertanggung jawab.

Pada akhirnya, kualitas keluarga bukan hanya berkaitan dengan jumlah anak, tetapi juga kesiapan menjalankan tanggung jawab serta menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang setiap anggota keluarga.

Menurut Wihaji, selain childfree, tantangan besar lainnya adalah telepon seluler. 

"Banyak, hari ini ada keluarga baru namanya handphone. Itu tantangan real yang tentu menjadi PR membangun mental manusia Indonesia," ujar Wihaji di Gedung Baznas, Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Menurut Wihaji, persoalan kesehatan mental generasi muda juga perlu mendapat perhatian dalam upaya membangun keluarga berkualitas.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar