Editor
KOMPAS.com - Wilayah utara Arab Saudi mulai memasuki salah satu fase musim dingin paling ekstrem seiring berakhirnya Desember dan datangnya Tahun Baru.
Fenomena yang dikenal dengan sebutan “Al-Azeerq” atau blue cold ini menandai periode terdingin dalam musim dingin, bertepatan dengan puncak titik balik matahari musim dingin (winter solstice).
Pada fase ini, durasi malam mencapai titik terpanjang sepanjang tahun, sementara siang hari berlangsung sangat singkat.
Baca juga: Dingin Ekstrem Kembali Hantam Arab Saudi, Riyadh Terancam Beku
Kondisi tersebut menyebabkan paparan sinar matahari menjadi minim sehingga permukaan bumi sulit memperoleh kehangatan alami.
Anggota Afaq Society for Astronomy, Burgis Al-Fulaij, menjelaskan bahwa ekstremnya dingin Al-Azeerq dipicu oleh kombinasi faktor astronomi dan cuaca.
Selain pendeknya waktu siang dan panjangnya malam, angin utara turut berperan besar dengan membawa udara kering, mengurangi kelembapan, serta membuat langit lebih cerah—kondisi yang justru mempercepat pelepasan panas dari permukaan bumi.
“Al-Azeerq bukan sekadar penurunan suhu biasa, tetapi merupakan kondisi cuaca menyeluruh yang mencerminkan fase paling menantang dari musim dingin,” ujar Al-Fulaij dilansir dari Saudi Gazette.
Ia menekankan pentingnya peningkatan kewaspadaan dan langkah-langkah pencegahan, terutama bagi pekerja luar ruang, lansia, dan anak-anak.
Baca juga: Gelombang Udara Dingin Landa Arab Saudi, Suhu Turun hingga Minus 1 Derajat
Kesadaran terhadap risiko cuaca ekstrem dinilai krusial untuk menjaga keselamatan dan kesehatan selama periode dingin yang intens ini.
Fenomena Al-Azeerq secara tradisional dikenal masyarakat sebagai penanda puncak musim dingin, sekaligus pengingat bahwa perlindungan diri dari cuaca ekstrem menjadi kebutuhan utama di penghujung tahun.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang