Editor
KOMPAS.com-Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta mencatatkan capaian penting dalam bidang riset dengan menjadi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) paling produktif dalam publikasi internasional sepanjang 2025.
Capaian tersebut berdasarkan pemeringkatan SciVal, platform analisis kinerja riset milik Elsevier yang terintegrasi dengan basis data Scopus.
Dilansir dari laman Kemenag, sepanjang 2025, UIN Sunan Kalijaga membukukan 236 publikasi terindeks Scopus, tertinggi dibandingkan PTKIN lain di Indonesia.
Baca juga: PMB PTKIN 2026 Resmi Diluncurkan, Ini Kuota, Jalur Seleksi, dan Jadwal Lengkapnya
Jumlah publikasi tersebut melampaui UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang mencatatkan 229 publikasi serta UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan 228 publikasi.
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama, Sahiron, mengapresiasi meningkatnya produktivitas riset internasional di lingkungan PTKIN.
Menurut Sahiron, riset merupakan ruh perguruan tinggi sehingga produktivitas dan kualitasnya perlu terus diperkuat secara berkelanjutan.
“Tahun 2025 terdapat tiga PTKIN yang menonjol, yakni UIN Yogyakarta, UIN Jakarta, dan UIN Malang, dan saya berharap ke depan semakin banyak kampus yang produktif serta kompetitif dalam publikasi riset internasional,” ujar Sahiron di Jakarta, Jumat (2/1/2026).
Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Noorhaidi Hasan, menyampaikan rasa syukur atas capaian kampusnya sebagai PTKI dengan produktivitas riset internasional tertinggi di Indonesia.
Ia menilai capaian tersebut menegaskan posisi UIN Sunan Kalijaga sebagai perguruan tinggi keagamaan yang konsisten mengembangkan riset bereputasi global.
Baca juga: PMB PTKIN 2026 Diluncurkan, Berikut Jadwal UMPTKIN Resmi Kemenag
Menurut Noorhaidi Hasan, keunggulan UIN Sunan Kalijaga tidak hanya tercermin dari jumlah publikasi, tetapi juga dari dampak ilmiah yang dihasilkan.
Dari sisi sitasi, UIN Sunan Kalijaga kembali mencatatkan performa terbaik dibandingkan PTKIN lain dan melanjutkan tren positif yang telah dibangun sejak 2024.
Pada 2024, jumlah sitasi jurnal internasional bereputasi UIN Sunan Kalijaga tercatat sebanyak 977 dan menempati posisi tertinggi di lingkungan PTKIN.
Selain itu, dari aspek kualitas terbitan, UIN Sunan Kalijaga juga menempati peringkat pertama dalam jumlah publikasi pada jurnal Scopus kuartil pertama atau Q1.
Noorhaidi Hasan menyebutkan bahwa pada 2025 sebanyak 57,3 persen karya dosen UIN Sunan Kalijaga terbit di jurnal Q1 yang merepresentasikan jurnal bereputasi tertinggi di tingkat global.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa riset yang dihasilkan tidak hanya produktif secara kuantitas, tetapi juga diakui dan dirujuk secara luas oleh komunitas ilmiah internasional.
Selain unggul dalam jumlah publikasi dan kualitas jurnal, UIN Sunan Kalijaga juga mencatatkan performa terbaik berdasarkan indikator Field-Weighted Citation Impact (FWCI).
Baca juga: 5 Ilmuwan PTKIN Masuk Daftar Top 2% Scientist Dunia 2025 Versi Stanford–Elsevier
FWCI merupakan indikator yang mengukur dampak sitasi publikasi dengan membandingkannya dengan rata-rata sitasi global pada bidang, tahun, dan jenis dokumen yang sama.
Nilai FWCI di atas satu menunjukkan bahwa publikasi suatu institusi memiliki tingkat sitasi lebih tinggi dibandingkan rata-rata dunia.
Noorhaidi Hasan menjelaskan bahwa keunggulan nilai FWCI menegaskan riset UIN Sunan Kalijaga memiliki kualitas tinggi, relevansi global, serta pengaruh akademik yang kuat.
Capaian tersebut dinilai turut memperkuat reputasi UIN Sunan Kalijaga di tingkat nasional maupun internasional.
Berdasarkan data SciVal, skor FWCI PTKIN secara berurutan adalah UIN Sunan Kalijaga (2,68), UIN Sunan Gunung Djati (2,03), UIN Walisongo (1,73), UIN Maulana Malik Ibrahim (1,50), UIN Sunan Ampel (1,36), UIN Surakarta (1,19), UIN Sumatera Utara (1,19), dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (0,95).
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang