KOMPAS.com - Nama Suhail bin Amr tercatat kuat dalam sejarah Islam sebagai sosok yang mengalami perubahan paling tajam.
Ia bukan hanya tokoh Quraisy yang keras menentang Nabi Muhammad SAW, tetapi juga figur kunci dalam Perjanjian Hudaibiyah, sebuah momen damai yang mengubah arah sejarah.
Kisah hidup Suhail memperlihatkan bagaimana keyakinan, kekuasaan, dan pertobatan saling berkelindan dalam satu lintasan hidup.
Suhail bin Amr dikenal sebagai orator ulung Quraisy. Kata-katanya tajam, retorikanya kuat, dan pengaruhnya besar di Makkah.
Dalam fase awal dakwah Islam, ia berdiri di barisan depan penentang Nabi Muhammad. Suhail tidak sekadar menolak ajaran Islam, tetapi aktif memprovokasi masyarakat agar memusuhi kaum Muslim.
Penentangannya bersifat ideologis sekaligus politis. Bagi Suhail, Islam mengancam tatanan lama Quraisy dari kekuasaan, ekonomi, dan status sosial yang selama ini mapan.
Baca juga: Dari Penentang Menjadi Pelindung, Kisah Umar bin Al-Khattab Memeluk Islam
Konflik Suhail dengan Islam mencapai titik paling personal ketika anaknya sendiri memilih memeluk Islam.
Keputusan itu dianggap pengkhianatan terhadap kehormatan keluarga. Dikutip dari buku 65 Kisah Teladan Sahabat Nabi karya Dr. Abdurrahman Ra'fat Al-Basya, Suhail disebut menyiksa anaknya, bahkan mengurungnya di ruangan gelap, demi memaksa kembali kepada agama leluhur.
Peristiwa ini menunjukkan wajah kekerasan ideologis pada masa itu, ketika keyakinan agama bercampur dengan gengsi sosial. Islam bukan hanya persoalan iman, melainkan pertaruhan identitas.
Baca juga: Ketika Nabi Pergi, Umat Bertobat: Kisah Nabi Yunus AS
Takdir kemudian membawa Suhail ke hadapan Nabi Muhammad dalam posisi yang berbalik. Pada Perang Badar, ia tertangkap dan menjadi tawanan kaum Muslim. Bagi para sahabat, Suhail bukan tawanan biasa. Ia simbol permusuhan Quraisy.
Dalam situasi itulah Umar bin Khattab mengajukan usulan keras kepada Rasulullah SAW untuk mencabut dua gigi depan Suhail, agar ia tidak lagi mampu berpidato dan menghasut orang-orang menentang Islam. Usulan itu mencerminkan kekhawatiran nyata terhadap kekuatan kata-kata Suhail.
Namun Nabi menolak. Rasulullah memilih jalan yang lebih jauh pandangannya. Ia tidak ingin melukai seseorang yang kelak bisa berubah. Keputusan itu kelak terbukti penuh hikmah.
Baca juga: Kisah Abdurrahman bin Auf, Menjadi Kaya Tanpa Terikat Dunia
Beberapa tahun kemudian, Suhail kembali berhadapan dengan Nabi Muhammad, kali ini bukan sebagai tawanan, melainkan utusan resmi Quraisy dalam Perjanjian Hudaibiyah. Ironis sekaligus simbolis.
Suhail tampil sebagai negosiator yang keras, teliti, dan penuh perhitungan. Ia bahkan menolak penggunaan frasa “Rasulullah” dalam teks perjanjian, menuntut agar nama Muhammad ditulis sebagaimana nama biasa. Bagi banyak sahabat, sikap itu terasa menyakitkan.
Namun justru lewat ketegasan Suhail, perjanjian damai itu tercapai. Sejarah kemudian mencatat Hudaibiyah sebagai kemenangan strategis Islam tanpa perang, tanpa darah.
Penaklukan Makkah menjadi titik balik. Suhail bin Amr akhirnya memeluk Islam. Banyak orang meragukan ketulusannya, mengingat masa lalunya. Namun keraguan itu perlahan pupus.
Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, ketika sebagian Arab terguncang dan murtad, Suhail berdiri di hadapan masyarakat Makkah dan berpidato, kali ini untuk meneguhkan iman. Orator yang dulu menyerang Islam kini justru menjadi penopang stabilitas umat.
Baca juga: Kejujuran Membawa Keselamatan, Kisah Imam Syafii Kecil
Nama Suhail tidak hanya dikenang sebagai tokoh kunci Perjanjian Hudaibiyah. Dalam tradisi sejarah dan geografis Arab, nama Suhail kerap dikaitkan dengan Selat Suhail, sebutan lama dalam ingatan maritim kawasan selatan Arab.
Meski dalam peta modern dikenal dengan nama lain, pengaitan itu menunjukkan betapa nama Suhail melekat kuat dalam ingatan kolektif.
Kisah Suhail bin Amr adalah pengingat bahwa manusia tidak ditentukan oleh masa lalunya. Ia membuktikan bahwa bahkan musuh paling keras pun bisa berubah menjadi penjaga amanah.
Dalam sejarah Islam, Suhail dikenang bukan karena permusuhannya, melainkan karena perannya dalam membuka jalan damai, sebuah warisan yang lebih panjang dari sekadar kemenangan perang.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang