Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Suhail bin Amr: Dari Orator Quraisy ke Penjaga Amanah Damai

Kompas.com, 2 Januari 2026, 15:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Nama Suhail bin Amr tercatat kuat dalam sejarah Islam sebagai sosok yang mengalami perubahan paling tajam.

Ia bukan hanya tokoh Quraisy yang keras menentang Nabi Muhammad SAW, tetapi juga figur kunci dalam Perjanjian Hudaibiyah, sebuah momen damai yang mengubah arah sejarah.

Kisah hidup Suhail memperlihatkan bagaimana keyakinan, kekuasaan, dan pertobatan saling berkelindan dalam satu lintasan hidup.

Orator Quraisy dan Penentang Islam

Suhail bin Amr dikenal sebagai orator ulung Quraisy. Kata-katanya tajam, retorikanya kuat, dan pengaruhnya besar di Makkah.

Dalam fase awal dakwah Islam, ia berdiri di barisan depan penentang Nabi Muhammad. Suhail tidak sekadar menolak ajaran Islam, tetapi aktif memprovokasi masyarakat agar memusuhi kaum Muslim.

Penentangannya bersifat ideologis sekaligus politis. Bagi Suhail, Islam mengancam tatanan lama Quraisy dari kekuasaan, ekonomi, dan status sosial yang selama ini mapan.

Baca juga: Dari Penentang Menjadi Pelindung, Kisah Umar bin Al-Khattab Memeluk Islam

Ketika Anak Memilih Islam

Konflik Suhail dengan Islam mencapai titik paling personal ketika anaknya sendiri memilih memeluk Islam.

Keputusan itu dianggap pengkhianatan terhadap kehormatan keluarga. Dikutip dari buku 65 Kisah Teladan Sahabat Nabi karya Dr. Abdurrahman Ra'fat Al-Basya, Suhail disebut menyiksa anaknya, bahkan mengurungnya di ruangan gelap, demi memaksa kembali kepada agama leluhur.

Peristiwa ini menunjukkan wajah kekerasan ideologis pada masa itu, ketika keyakinan agama bercampur dengan gengsi sosial. Islam bukan hanya persoalan iman, melainkan pertaruhan identitas.

Baca juga: Ketika Nabi Pergi, Umat Bertobat: Kisah Nabi Yunus AS

Tawanan Perang Badar

Takdir kemudian membawa Suhail ke hadapan Nabi Muhammad dalam posisi yang berbalik. Pada Perang Badar, ia tertangkap dan menjadi tawanan kaum Muslim. Bagi para sahabat, Suhail bukan tawanan biasa. Ia simbol permusuhan Quraisy.

Dalam situasi itulah Umar bin Khattab mengajukan usulan keras kepada Rasulullah SAW untuk mencabut dua gigi depan Suhail, agar ia tidak lagi mampu berpidato dan menghasut orang-orang menentang Islam. Usulan itu mencerminkan kekhawatiran nyata terhadap kekuatan kata-kata Suhail.

Namun Nabi menolak. Rasulullah memilih jalan yang lebih jauh pandangannya. Ia tidak ingin melukai seseorang yang kelak bisa berubah. Keputusan itu kelak terbukti penuh hikmah.

Baca juga: Kisah Abdurrahman bin Auf, Menjadi Kaya Tanpa Terikat Dunia

Juru Runding Perjanjian Hudaibiyah

Beberapa tahun kemudian, Suhail kembali berhadapan dengan Nabi Muhammad, kali ini bukan sebagai tawanan, melainkan utusan resmi Quraisy dalam Perjanjian Hudaibiyah. Ironis sekaligus simbolis.

Suhail tampil sebagai negosiator yang keras, teliti, dan penuh perhitungan. Ia bahkan menolak penggunaan frasa “Rasulullah” dalam teks perjanjian, menuntut agar nama Muhammad ditulis sebagaimana nama biasa. Bagi banyak sahabat, sikap itu terasa menyakitkan.

Namun justru lewat ketegasan Suhail, perjanjian damai itu tercapai. Sejarah kemudian mencatat Hudaibiyah sebagai kemenangan strategis Islam tanpa perang, tanpa darah.

Masuk Islam dan Keteguhan Baru

Penaklukan Makkah menjadi titik balik. Suhail bin Amr akhirnya memeluk Islam. Banyak orang meragukan ketulusannya, mengingat masa lalunya. Namun keraguan itu perlahan pupus.

Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, ketika sebagian Arab terguncang dan murtad, Suhail berdiri di hadapan masyarakat Makkah dan berpidato, kali ini untuk meneguhkan iman. Orator yang dulu menyerang Islam kini justru menjadi penopang stabilitas umat.

Baca juga: Kejujuran Membawa Keselamatan, Kisah Imam Syafii Kecil

Nama yang Dikenang dalam Sejarah

Nama Suhail tidak hanya dikenang sebagai tokoh kunci Perjanjian Hudaibiyah. Dalam tradisi sejarah dan geografis Arab, nama Suhail kerap dikaitkan dengan Selat Suhail, sebutan lama dalam ingatan maritim kawasan selatan Arab.

Meski dalam peta modern dikenal dengan nama lain, pengaitan itu menunjukkan betapa nama Suhail melekat kuat dalam ingatan kolektif.

Kisah Suhail bin Amr adalah pengingat bahwa manusia tidak ditentukan oleh masa lalunya. Ia membuktikan bahwa bahkan musuh paling keras pun bisa berubah menjadi penjaga amanah.

Dalam sejarah Islam, Suhail dikenang bukan karena permusuhannya, melainkan karena perannya dalam membuka jalan damai, sebuah warisan yang lebih panjang dari sekadar kemenangan perang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Arab Saudi Perketat Umrah Ramadhan 2026: Pintu Masjidil Haram Pakai Indikator Hijau-Merah
Arab Saudi Perketat Umrah Ramadhan 2026: Pintu Masjidil Haram Pakai Indikator Hijau-Merah
Aktual
Jadwal Buka Puasa Kota Palembang Hari Ini, Minggu 22 Februari 2026
Jadwal Buka Puasa Kota Palembang Hari Ini, Minggu 22 Februari 2026
Aktual
Jadwal Buka Puasa Kota Tangerang Hari Ini, Minggu 22 Februari 2026
Jadwal Buka Puasa Kota Tangerang Hari Ini, Minggu 22 Februari 2026
Aktual
Jadwal Buka Puasa Kota Bekasi Hari Ini, Minggu 22 Februari 2026
Jadwal Buka Puasa Kota Bekasi Hari Ini, Minggu 22 Februari 2026
Aktual
Jadwal Buka Puasa Kota Banjarmasin Hari Ini, Minggu 22 Februari 2026
Jadwal Buka Puasa Kota Banjarmasin Hari Ini, Minggu 22 Februari 2026
Aktual
 Jadwal Buka Puasa Kota Padang Hari Ini, Minggu 22 Februari 2026
Jadwal Buka Puasa Kota Padang Hari Ini, Minggu 22 Februari 2026
Aktual
Jadwal Buka Puasa Kota Batam Hari Ini, Minggu 22 Februari 2026
Jadwal Buka Puasa Kota Batam Hari Ini, Minggu 22 Februari 2026
Aktual
5 Resep Kolak Terfavorit saat Buka Puasa Ramadhan untuk Obati Rasa Kangen Kampung Halaman
5 Resep Kolak Terfavorit saat Buka Puasa Ramadhan untuk Obati Rasa Kangen Kampung Halaman
Aktual
5 Resep Takjil Praktis Favorit Saat Ramadhan, Cocok untuk Anak Kos
5 Resep Takjil Praktis Favorit Saat Ramadhan, Cocok untuk Anak Kos
Aktual
Desainer Sebut Tren Baju Lebaran 2026 Lebih Tenang dan Timeless, Gen Z Disebut Suka yang Simple
Desainer Sebut Tren Baju Lebaran 2026 Lebih Tenang dan Timeless, Gen Z Disebut Suka yang Simple
Aktual
Masjidil Haram Gunakan Barcode untuk Pantau Kepadatan Tawaf dan Sa’i Selama Ramadhan
Masjidil Haram Gunakan Barcode untuk Pantau Kepadatan Tawaf dan Sa’i Selama Ramadhan
Aktual
Bansos Rp 15 Triliun Cair Jelang Lebaran 2026, Siapa Saja Penerimanya?
Bansos Rp 15 Triliun Cair Jelang Lebaran 2026, Siapa Saja Penerimanya?
Aktual
Jadwal Imsak dan Buka Kota Samarinda Hari Ini, 22 Februari 2026
Jadwal Imsak dan Buka Kota Samarinda Hari Ini, 22 Februari 2026
Aktual
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Pekanbaru Hari Ini, 22 Februari 2026
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Pekanbaru Hari Ini, 22 Februari 2026
Aktual
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Bandar Lampung Hari Ini, 22 Februari 2026
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Bandar Lampung Hari Ini, 22 Februari 2026
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com