Editor
KOMPAS.com-Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan calon jemaah haji Indonesia 2026 agar membatasi pelaksanaan tradisi walimatus safar atau acara syukuran pelepasan haji, terutama memasuki H-7 atau satu pekan sebelum keberangkatan ke Tanah Suci.
Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes, Liliek Marhaendro Susilo, menyebut walimatus safar yang digelar secara berlebihan berpotensi memicu kelelahan berat, bahkan sebelum jamaah memulai rangkaian ibadah haji.
Kemenkes mencontohkan sebuah peristiwa pada musim haji sebelumnya, ketika seorang jamaah dilaporkan meninggal dunia di dalam pesawat saat perjalanan menuju Arab Saudi, sebelum sempat tiba di Madinah.
Baca juga: Nusuk Hajj Dibuka, Saudi Mulai Pemilihan Paket Haji 2026 untuk Program Haji Langsung
Hasil penelusuran tim kesehatan menunjukkan bahwa jamaah tersebut mengalami kelelahan ekstrem akibat menggelar open house walimatus safar selama tujuh hari tujuh malam menjelang keberangkatan.
“Jemaah itu kelelahan karena tujuh hari tujuh malam open house menerima tamu untuk walimatus safar, sampai di pesawat dia kelelahan, mau ke toilet tidak sempat menunggu, akhirnya pingsan dan tidak tertolong, itu contoh yang kita tidak harapkan terulang,” ujar Liliek usai memberikan paparan dalam Diklat Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Asrama Haji Pondok Gede, Selasa (14/1/2025),dilansir dari Antara.
Belajar dari kejadian tersebut, Kemenkes meminta jamaah haji dan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) mengatur agenda pelepasan secara lebih bijak dan proporsional.
Liliek mengimbau agar seluruh rangkaian kegiatan seremonial, termasuk walimatus safar, diselesaikan paling lambat satu minggu sebelum jadwal keberangkatan ke embarkasi.
“Kami mohon, walimatus safar ini kalau bisa diadakan sesederhana mungkin, ini sebenarnya acara tradisi, bukan sunnah, tolong dilakukan maksimal satu minggu sebelum berangkat, jangan lebih dari itu, supaya seminggu terakhir jemaah benar-benar menggunakan waktunya untuk istirahat total,” kata Liliek.
Baca juga: Kemenhaj Tegaskan PK Haji Khusus, Jamaah Terima Dana hingga USD 8.685,5
Kemenkes menilai masa tenang selama satu pekan sebelum keberangkatan sangat penting sebagai fase pemulihan stamina fisik dan kesiapan mental jemaah.
Periode tersebut disarankan hanya diisi dengan aktivitas ringan, persiapan barang secukupnya, serta menjaga pola tidur dan asupan gizi secara optimal.
Kemenkes menegaskan bahwa ibadah haji menuntut kesiapan fisik yang kuat karena dihadapkan pada cuaca ekstrem dan aktivitas intens selama di Tanah Suci.
Kondisi kesehatan jamaah berisiko menurun apabila energi sudah terkuras sejak di Tanah Air akibat kelelahan melayani tamu, sehingga potensi sakit hingga kematian saat perjalanan dapat meningkat.
Menjaga kesehatan menjelang keberangkatan menjadi prioritas utama jamaah haji agar ibadah dapat dijalani dengan aman, lancar, dan khusyuk.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang