Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Masih Salah Tulis Isra Mikraj? Ini Penulisan yang Benar Menurut KBBI

Kompas.com, 14 Januari 2026, 10:31 WIB
Khairina

Editor

KOMPAS.com-Penulisan kosakata dan istilah yang bersumber dari bahasa Arab masih kerap menimbulkan kekeliruan dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari.

Salah satu istilah keagamaan yang sering ditulis tidak seragam adalah Isra Mikraj, peristiwa penting dalam sejarah Islam yang diperingati setiap 27 Rajab.

Dalam praktiknya, istilah ini dijumpai dalam berbagai bentuk penulisan di ruang publik.

Baca juga: 30 Ucapan Isra Miraj 2026: Singkat, Islami, dan Menyejukkan Hati

Dilansir dari laman Balai Bahasa Aceh, beberapa bentuk yang sering digunakan antara lain isra’ mi’raj, israk mikraj, isra mi’raj, isra miraj, dan isra mikraj.

Sebagian penulis bahkan mengganti vokal a menjadi o sehingga muncul bentuk seperti isro’ mikroj.

Keragaman tersebut ditemukan dalam buku, media cetak, hingga media daring.

Bentuk Mana yang Baku?

Perbedaan penulisan ini memunculkan pertanyaan mengenai bentuk mana yang baku dan sesuai kaidah bahasa Indonesia.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring, bentuk yang dinyatakan baku adalah isra mikraj.

Penetapan ini menjadikan “isra mikraj” sebagai rujukan resmi selama KBBI digunakan sebagai pedoman bahasa Indonesia baku.

Pertanyaan selanjutnya berkaitan dengan alasan linguistik di balik pemilihan bentuk tersebut.

Istilah isra mikraj berasal dari bahasa Arab sehingga proses pembentukannya mengikuti kaidah penyerapan istilah asing ke dalam bahasa Indonesia.

Baca juga: Isra Miraj Nabi Muhammad SAW 2026: Sejarah Peristiwa dan Makna Pensyariatan Sholat

Dalam Pedoman Umum Pembentukan Istilah dijelaskan bahwa istilah asing dapat diserap melalui penerjemahan, penyerapan, atau gabungan keduanya.

Dilihat dari bentuknya, isra mikraj tergolong sebagai istilah serapan.

Bentuk asalnya dalam bahasa Arab adalah إِسْرَاء وَ مِعْرَاج (isrā’ wa mi‘rāj).

Penyerapan istilah asing ke dalam bahasa Indonesia harus mempertimbangkan keterpahaman, keringkasan, serta kesesuaian makna.

Tantangan Fonologis

Dalam praktik penyerapan dari bahasa Arab, terdapat tantangan fonologis karena tidak semua bunyi Arab memiliki padanan dalam bahasa Indonesia.

Bunyi huruf ‘ain (ع) dan hamzah (ء) menjadi contoh yang paling sering menimbulkan perbedaan penulisan.

Baca juga: Dari Masjid Al-Aqsa ke Langit Ketujuh, Ini Tempat Nabi Muhammad SAW Naik Saat Isra Miraj

Bahasa Indonesia juga tidak mengenal vokal panjang sehingga bunyi tersebut harus disesuaikan.

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) memberikan aturan jelas dalam penyesuaian unsur serapan dari bahasa Arab.

Vokal a dalam bahasa Arab, baik pendek maupun panjang, tetap diserap menjadi a dalam bahasa Indonesia.

Huruf ‘ain dan hamzah di akhir suku kata diserap menjadi huruf k.

Hamzah di akhir kata dihilangkan dalam penulisan bahasa Indonesia.

Huruf sin tetap diserap sebagai s, sedangkan jim, mim, dan ra tetap menjadi j, m, dan r.

Berdasarkan kaidah tersebut, bentuk “isra mikraj” merupakan hasil penyerapan yang paling sesuai dengan aturan ejaan bahasa Indonesia.

Pemilihan bentuk ini bukan keputusan sembarangan, melainkan hasil penerapan kaidah linguistik yang sistematis.

Selain penyesuaian ejaan, istilah ini juga mengalami penyederhanaan dengan penghilangan kata sambung “wa” yang berarti “dan”.

Penggabungan tersebut dilakukan demi keringkasan tanpa mengubah makna peristiwa yang dirujuk.

Dua Peristiwa Berbeda yang Digabung

Dalam bahasa Arab, Isra dan Mikraj tetap dipahami sebagai dua peristiwa yang berbeda meskipun digabung dalam bahasa Indonesia.

Pemahaman makna istilah ini juga ditegaskan dalam KBBI.

Dalam KBBI, Isra didefinisikan sebagai perjalanan Nabi Muhammad SAW pada malam hari dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Baitulmakdis dengan kendaraan burak.

Sementara itu, Mikraj dimaknai sebagai peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, kemudian naik hingga Sidratul Muntaha.

Dalam peristiwa Mikraj tersebut, Nabi Muhammad SAW menerima perintah salat lima waktu secara langsung dari Allah SWT.

Berdasarkan definisi tersebut, Isra dan Mikraj merupakan dua peristiwa berbeda yang saling berkaitan dalam satu rangkaian perjalanan spiritual.

Penggunaan istilah Isra Mikraj dalam bahasa Indonesia berfungsi menyebut keseluruhan rangkaian peristiwa tersebut secara ringkas.

Dengan memahami kaidah penyerapan dan rujukan KBBI, penulisan “Isra Mikraj” dapat digunakan secara tepat dan konsisten dalam bahasa Indonesia baku.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com