KOMPAS.com - Khazanah perjalanan Islam mencatat sebuah peristiwa monumental yang bukan sekadar sejarah, melainkan sumber nilai spiritual yang terus hidup hingga kini, yaitu Isra Miraj.
Pada tahun ini, umat Islam memperingati Isra Miraj pada 27 Rajab 1447 Hijriah yang bertepatan dengan Jumat, 16 Januari 2026.
Momentum ini mengajak kaum beriman untuk kembali merenungi perjalanan ruhani Nabi Muhammad SAW ketika beliau diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu diangkat hingga Sidratul Muntaha sebagai simbol kedekatan tertinggi seorang hamba dengan Rabb-nya.
Peringatan Isra Miraj kerap diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan, salah satunya pidato atau ceramah.
Aktivitas ini bukan hanya melatih kemampuan berbicara di depan umum, tetapi juga menjadi sarana dakwah untuk menyampaikan pesan moral dan spiritual yang terkandung dalam peristiwa agung tersebut. Oleh karena itu, berikut disajikan lima contoh pidato Isra Miraj yang dapat dijadikan referensi.
Berikut lima contoh pidato Isra Miraj yang bisa menjadi referensi bagi Anda yang mendapat tugas memberi tausiyah pada peringatan Isra Miraj:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji hanya milik Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat, nikmat, dan karunia-Nya kepada kita semua. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.
Hadirin yang dirahmati Allah SWT,
Khazanah perjalanan Islam menyimpan sebuah peristiwa agung yang bukan sekadar catatan sejarah, melainkan sumber nilai spiritual yang tak pernah lekang oleh waktu, yaitu Isra Miraj. Pada tahun ini, umat Islam memperingatinya pada 27 Rajab 1447 Hijriah yang bertepatan dengan Jumat, 16 Januari 2026. Peristiwa ini menjadi momentum penting untuk merenungi kembali perjalanan ruhani Nabi Muhammad SAW yang diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu diangkat hingga Sidratul Muntaha sebagai bukti kekuasaan Allah dan kemuliaan seorang hamba yang taat.
Allah SWT mengabadikan peristiwa ini dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya:
“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al-Isra: 1)
Ayat ini menegaskan bahwa Isra Miraj bukan peristiwa biasa, melainkan tanda kebesaran Allah SWT yang melampaui batas nalar manusia. Namun, di balik keajaiban tersebut, terdapat pesan mendalam yang sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Isra Miraj terjadi pada masa yang sangat berat bagi Rasulullah SAW. Beliau baru saja kehilangan dua sosok penopang dakwah, yaitu Khadijah RA dan Abu Thalib. Tekanan, penolakan, dan cemoohan datang silih berganti. Namun justru di tengah kesempitan itulah Allah SWT menghadirkan Isra Miraj sebagai penghiburan sekaligus penguatan iman. Ini mengajarkan kepada kita bahwa ujian hidup bukan tanda kebencian Allah, melainkan sering kali menjadi jalan menuju kedekatan dengan-Nya.
Dari peristiwa Isra Miraj, Rasulullah SAW menerima perintah shalat lima waktu. Shalat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan fondasi kehidupan seorang muslim. Ia membentuk kedisiplinan waktu, kejernihan hati, dan keteguhan moral. Shalat mengajarkan kita untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, menundukkan ego, dan menyadari bahwa hidup ini sepenuhnya berada dalam genggaman Allah SWT.
Hadirin sekalian,
Jika kita perhatikan, shalat yang benar tidak hanya berdampak pada hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga membentuk hubungan horizontal dengan sesama manusia. Orang yang menjaga shalatnya akan terjaga lisannya, sikapnya, dan perbuatannya. Ia akan lebih jujur dalam bekerja, lebih adil dalam bersikap, dan lebih peduli terhadap lingkungan sosialnya. Inilah esensi nilai kehidupan yang diwariskan oleh Isra Miraj.
Di tengah tantangan zaman modern yang penuh godaan, krisis moral, dan kegelisahan batin, Isra Miraj hadir sebagai pengingat bahwa kemajuan sejati bukan hanya soal teknologi dan materi, tetapi juga kekuatan iman dan akhlak. Tanpa landasan spiritual yang kokoh, manusia mudah kehilangan arah, meskipun hidup dalam kemewahan.
Hadirin yang berbahagia,
Peringatan Isra Miraj seharusnya tidak berhenti pada seremoni semata. Ia harus menjadi titik tolak perubahan diri. Apakah shalat kita sudah benar dan khusyuk? Apakah ibadah kita telah melahirkan akhlak mulia? Apakah kita sudah menjadikan nilai-nilai Islam sebagai pedoman dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, dan masyarakat?
Mari kita jadikan Isra Miraj sebagai momentum untuk memperbaiki kualitas iman, memperkuat ketakwaan, dan meneguhkan tanggung jawab kita sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di muka bumi. Dengan demikian, ajaran Islam tidak hanya kita ucapkan, tetapi benar-benar kita hidupkan dalam setiap langkah kehidupan.
Akhir kata, semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk golongan hamba-hamba-Nya yang mampu mengambil hikmah dari peristiwa Isra Miraj, mengamalkannya dalam kehidupan nyata, dan kelak dikumpulkan bersama Rasulullah SAW di surga-Nya.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Baca juga: Peristiwa Isra Miraj: Sejarah Agung Perjalanan Nabi Muhammad SAW dan Jadwal Peringatan 2026
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam, yang senantiasa melimpahkan rahmat, hidayah, dan kasih sayang-Nya kepada kita semua. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Hadirin yang dimuliakan Allah SWT,
Isra Miraj bukanlah sekadar perjalanan fisik Rasulullah SAW yang melampaui batas ruang dan waktu, tetapi sebuah perjalanan spiritual yang sarat dengan pesan moral dan nilai kehidupan. Peringatan Isra Miraj pada 27 Rajab 1447 Hijriah menjadi momentum yang sangat berharga bagi kita untuk kembali bercermin, menilai, dan memperbaiki kualitas iman, ibadah, serta akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)
Ayat ini menegaskan bahwa shalat yang diwajibkan melalui peristiwa Isra Miraj bukanlah sekadar rangkaian gerakan dan bacaan, melainkan sarana pembentukan kepribadian seorang muslim. Shalat yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran akan melatih kejujuran dalam hati, kedisiplinan dalam waktu, serta ketundukan kepada aturan Allah SWT. Dari sinilah akhlak mulia tumbuh dan berkembang.
Seorang muslim yang benar shalatnya akan tercermin dalam perilakunya. Ia menjaga lisannya dari perkataan yang menyakiti, menunaikan amanah dengan penuh tanggung jawab, serta menumbuhkan empati dan kepedulian terhadap sesama. Akhlak yang baik bukan hanya tampak di masjid, tetapi nyata dalam kehidupan sosial, di lingkungan keluarga, tempat kerja, dan masyarakat luas.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Di tengah kehidupan modern yang cenderung individualistis, materialistis, dan sering mengabaikan nilai moral, Isra Miraj hadir sebagai pengingat bahwa ibadah sejati tidak boleh berhenti pada hubungan vertikal dengan Allah semata. Ibadah harus melahirkan kesalehan sosial, kepekaan terhadap penderitaan orang lain, serta sikap adil dan beradab dalam bermasyarakat.
Islam tidak mengajarkan kesalehan yang egois, yang hanya sibuk dengan ritual pribadi namun abai terhadap lingkungan sekitar. Sebaliknya, Islam mengajarkan kesalehan yang memberi manfaat, menebar ketenangan, dan menghadirkan kebaikan bagi siapa pun. Inilah esensi akhlak mulia yang diwariskan Rasulullah SAW melalui peristiwa Isra Miraj.
Oleh karena itu, marilah kita jadikan peringatan Isra Miraj sebagai titik tolak untuk memperbaiki diri. Tidak hanya meningkatkan kualitas shalat, tetapi juga memperhalus budi pekerti, memperkuat kepedulian sosial, dan menghadirkan nilai-nilai Islam dalam setiap aspek kehidupan. Semoga dengan demikian, kita termasuk hamba-hamba Allah yang tidak hanya taat beribadah, tetapi juga berakhlak mulia.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Baca juga: Isra Miraj Itu Apa? Ini Penjelasan Lengkap Peristiwa Agung yang Diperingati Januari 2026
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah SWT, Tuhan yang Maha Mengetahui setiap isi hati hamba-Nya. Dialah yang memberi ujian, sekaligus menyediakan jalan keluar bagi siapa pun yang bersabar dan bertawakal. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, teladan terbaik dalam menghadapi ujian kehidupan.
Hadirin yang dirahmati Allah SWT,
Peristiwa Isra Miraj tidak dapat dipisahkan dari latar belakang kehidupan Rasulullah SAW yang sedang berada dalam duka mendalam. Tahun terjadinya Isra Miraj dikenal sebagai ‘Aamul Huzn, tahun kesedihan, ketika Rasulullah SAW kehilangan dua sosok yang sangat berarti dalam hidup dan perjuangannya, yaitu Khadijah RA dan Abu Thalib. Pada masa itu, beban dakwah terasa begitu berat, penolakan semakin keras, dan jalan seolah tertutup dari segala arah.
Namun justru dari titik terendah itulah Allah SWT mengangkat derajat Rasulullah SAW. Isra Miraj hadir bukan hanya sebagai mukjizat, tetapi sebagai bentuk penghiburan ilahi dan penguatan jiwa. Ini mengajarkan kepada kita bahwa kesedihan bukan akhir dari segalanya, dan kesabaran tidak pernah sia-sia di hadapan Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)
Ayat ini bukan sekadar janji, melainkan kepastian dari Allah SWT. Kesulitan dan kemudahan berjalan beriringan, meskipun sering kali manusia hanya mampu melihat sisi gelap dari sebuah ujian. Rasulullah SAW menjadi teladan sempurna dalam memaknai ayat ini. Beliau tidak berhenti berdakwah, tidak berputus asa, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan, meskipun tekanan begitu berat.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Isra Miraj mengajarkan bahwa kesabaran bukanlah sikap pasrah tanpa usaha, melainkan keteguhan hati untuk tetap berada di jalan Allah dalam kondisi apa pun. Kesabaran adalah kekuatan iman yang membuat seseorang tetap berdiri ketika harapan seolah runtuh. Dalam kehidupan kita, ujian datang dalam berbagai bentuk: masalah ekonomi, kegagalan, kehilangan orang tercinta, sakit berkepanjangan, atau luka batin yang tidak terlihat oleh mata.
Sering kali kita bertanya, mengapa ujian itu datang silih berganti. Namun Isra Miraj mengingatkan bahwa Allah SWT tidak pernah menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Setiap ujian menyimpan hikmah, meskipun hikmah itu baru terasa setelah kita mampu melewatinya dengan sabar dan ikhlas.
Kesabaran yang diajarkan melalui Isra Miraj juga melahirkan kedewasaan spiritual. Ia membentuk jiwa yang tidak mudah mengeluh, hati yang tetap bersyukur, dan keyakinan yang semakin kokoh kepada Allah SWT. Dari kesabaran itulah lahir ketenangan batin, kekuatan moral, dan harapan baru untuk melangkah ke depan.
Oleh karena itu, marilah kita jadikan peringatan Isra Miraj sebagai penguat hati dalam menghadapi ujian kehidupan. Ketika jalan terasa sempit, ingatlah bahwa Rasulullah SAW pernah berada di posisi yang sama, bahkan lebih berat, namun Allah SWT mengangkat beliau dengan cara yang luar biasa. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang mampu bersabar, meyakini pertolongan Allah, dan menjadikan setiap ujian sebagai tangga menuju kedekatan dengan-Nya.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah SWT yang telah menganugerahkan kepada kita nikmat iman dan Islam, nikmat yang paling agung dalam kehidupan manusia. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, suri teladan terbaik dalam mendidik umat dan membangun peradaban.
Hadirin yang berbahagia,
Peristiwa Isra Miraj bukan hanya mengisahkan perjalanan luar biasa Rasulullah SAW melintasi langit, tetapi juga menghadirkan pesan mendalam tentang pentingnya pendidikan spiritual bagi umat Islam. Dari peristiwa inilah Allah SWT mewajibkan shalat lima waktu, sebuah ibadah yang menjadi fondasi utama dalam membentuk kepribadian dan karakter seorang muslim, khususnya bagi generasi muda.
Allah SWT berfirman:
“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132)
Ayat ini menegaskan bahwa shalat bukan hanya kewajiban individual, tetapi juga tanggung jawab pendidikan dalam keluarga. Orang tua memiliki peran sentral dalam menanamkan nilai shalat sejak dini, bukan sekadar melalui perintah, tetapi melalui teladan dan kesabaran. Dari sinilah spiritualitas generasi Muslim dibangun secara bertahap dan berkelanjutan.
Hadirin yang dirahmati Allah SWT,
Di tengah arus zaman yang semakin kompleks, generasi muda dihadapkan pada berbagai tantangan yang menguji iman dan moral. Kemajuan teknologi, derasnya arus informasi, serta perubahan nilai sosial sering kali membuat anak-anak dan remaja kehilangan arah. Dalam kondisi seperti inilah shalat menjadi jangkar spiritual yang menenangkan jiwa dan menuntun langkah.
Shalat mengajarkan disiplin waktu, karena ia mengikat seorang muslim pada keteraturan. Shalat melatih tanggung jawab, karena ia menuntut konsistensi dan komitmen. Lebih dari itu, shalat menumbuhkan kesadaran moral, karena di dalamnya terdapat pengakuan bahwa Allah SWT selalu mengawasi setiap perbuatan manusia. Nilai-nilai inilah yang sangat dibutuhkan oleh generasi Muslim agar tidak mudah goyah oleh godaan zaman.
Isra Miraj mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah SWT adalah sumber kekuatan sejati. Ketika generasi muda memiliki hubungan yang kuat dengan Tuhannya, mereka akan memiliki keberanian untuk berkata benar, keteguhan untuk menolak keburukan, dan kepekaan untuk peduli terhadap sesama. Spiritualitas yang kokoh akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan moral.
Hadirin sekalian,
Peringatan Isra Miraj seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat komitmen kita dalam membina generasi Muslim. Pendidikan agama tidak boleh berhenti pada pengetahuan semata, tetapi harus menyentuh pembiasaan dan penghayatan. Shalat yang hidup dalam keluarga dan lingkungan akan melahirkan generasi yang menjadikan Islam sebagai pedoman hidup, bukan sekadar identitas.
Marilah kita jadikan Isra Miraj sebagai pengingat bahwa masa depan umat Islam sangat ditentukan oleh kualitas spiritual generasinya hari ini. Dengan menanamkan shalat sebagai pondasi utama, kita sedang membangun benteng iman yang kokoh untuk menghadapi masa depan yang penuh tantangan.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mampu menjaga amanah pendidikan generasi, menuntun mereka dengan kesabaran, dan mengantarkan mereka menjadi generasi Muslim yang beriman, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi umat dan bangsa.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Baca juga: Tema Isra Miraj 2026: Saatnya Menguatkan Shalat dan Akhlak di Tengah Ujian Zaman
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji hanya milik Allah SWT, Tuhan yang Maha Mengetahui kegelisahan setiap hati manusia. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, pembawa risalah yang mengajarkan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat.
Hadirin yang dimuliakan Allah SWT,
Kita hidup di tengah dunia yang bergerak sangat cepat. Segala sesuatu dituntut serba instan, serba praktis, dan serba hasil. Teknologi memudahkan banyak hal, informasi datang tanpa henti dan manusia seolah tidak diberi ruang untuk berhenti sejenak. Namun di balik kemudahan tersebut, tidak sedikit manusia yang justru merasa letih secara batin, gelisah tanpa sebab yang jelas, dan kehilangan arah dalam menjalani hidup.
Dalam kondisi seperti ini, manusia sering terjebak pada ukuran-ukuran lahiriah. Kesuksesan diukur dari pencapaian materi, kebahagiaan dinilai dari pengakuan sosial dan ketenangan dianggap bisa dibeli dengan fasilitas dunia. Padahal, hati manusia memiliki kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh apa pun selain kedekatan dengan Allah SWT. Ketika kebutuhan batin ini diabaikan, kegelisahan akan terus hadir, meskipun hidup tampak serba cukup.
Allah SWT berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini mengingatkan bahwa ketenangan sejati bukanlah hasil dari kecepatan hidup atau kemajuan teknologi, melainkan buah dari hubungan yang kuat antara hamba dan Tuhannya. Mengingat Allah bukan hanya melalui lisan, tetapi juga melalui kesadaran bahwa setiap langkah hidup berada dalam pengawasan-Nya. Kesadaran inilah yang menumbuhkan ketenteraman, bahkan di tengah tekanan dan kesibukan.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Ibadah, khususnya shalat, menjadi ruang bagi manusia untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Di dalam shalat, manusia diajak untuk menundukkan ego, melepaskan beban pikiran, dan menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT. Shalat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan kebutuhan jiwa agar manusia tetap waras dan seimbang dalam menjalani kehidupan.
Di era serba instan ini, manusia sering ingin segala sesuatu berjalan cepat tanpa proses. Namun kehidupan mengajarkan bahwa kematangan jiwa tidak lahir dari kecepatan, melainkan dari kesabaran dan kedalaman makna. Ketika seseorang mampu meluangkan waktu untuk beribadah dengan khusyuk, berdzikir dengan penuh kesadaran, dan merenungi hidup dengan jujur, saat itulah ketenangan perlahan tumbuh dalam hati.
Hadirin sekalian,
Agama hadir bukan untuk menjauhkan manusia dari dunia, tetapi untuk menuntun manusia agar tidak tersesat di dalamnya. Dengan iman sebagai pegangan, manusia mampu menjalani kehidupan modern tanpa kehilangan nilai, tetap produktif tanpa kehilangan nurani, dan tetap maju tanpa melupakan tujuan akhir kehidupan.
Marilah kita jadikan kehidupan spiritual sebagai fondasi dalam menghadapi dunia yang serba cepat ini. Jangan sampai kesibukan dunia mengeringkan hati, dan jangan biarkan kemajuan zaman menjauhkan kita dari Allah SWT. Semoga dengan memperkuat iman dan memperbaiki kualitas ibadah, kita mampu menemukan ketenangan sejati di tengah kehidupan modern yang penuh tantangan.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Lima contoh pidato berikut dapat digunakan dalam berbagai kegiatan peringatan Isra Miraj, baik yang berlangsung di masjid maupun dalam rangkaian acara keagamaan di tengah masyarakat. Semoga uraian ini dapat menjadi bahan rujukan dan memberikan manfaat bagi para pembaca.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang