Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ramadhan Datang Senyap, Pergi Terlalu Cepat: Mengapa Bulan Suci Selalu Terasa Singkat?

Kompas.com, 15 Januari 2026, 12:35 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Setiap tahun, banyak orang di Uni Emirat Arab mengatakan hal yang sama: Ramadhan datang dengan tenang, menyatu dalam keseharian, lalu menghilang sebelum benar-benar sempat dirasakan sepenuhnya. Baru kemarin dinanti, tahu-tahu sudah dihitung hari menuju akhirnya.

Padahal, selama sebulan penuh, Ramadhan membentuk rutinitas, percakapan, hingga emosi dengan begitu dalam.

Waktu seolah bergerak berbeda. Hari terasa lambat, tetapi minggu berlalu cepat. Prioritas bergeser, suasana melunak, dan makna hadir bahkan dalam momen paling sederhana.

Baca juga: Allahumma Bariklana fi Rajaba wa Sya’bana wa Balighna Ramadhan, Doa dan Maknanya

Kini, kurang dari lima minggu sebelum hilal menandai awal Ramadhan, suasana hitung mundur mulai terasa. Ia hadir secara halus—dalam obrolan yang mulai bernostalgia, daftar belanja yang berubah, hingga malam-malam yang terasa lebih reflektif.

Bersamaan dengan antisipasi itu, muncul pula kerinduan kolektif akan suara, ritme, dan kebersamaan yang hanya dimiliki bulan suci.

Ramadhan Diukur oleh Rasa, Bukan Kalender

Bagi banyak penduduk yang telah lama menetap, Ramadhan tidak diukur oleh jadwal atau kalender, melainkan oleh sensasi.

Aroma masakan di sore hari, keheningan menjelang matahari terbenam, dan cara seluruh rumah tangga melambat secara alami, seakan dipandu jam batin yang sama.

Meski kini aplikasi pengingat salat, notifikasi digital, dan layanan pesan-antar larut malam menjadi bagian dari rutinitas modern, ritual kecil itu tetap bertahan, menjaga esensi Ramadhan tetap hidup.

Iftar: Saat Segalanya Berhenti Sejenak

Bagi banyak orang, kenangan Ramadhan selalu bermula dari iftar. Dentuman meriam Ramadhan, azan Magrib yang menggema di lingkungan sekitar, dan keheningan sesaat sebelum matahari tenggelam.

Percakapan terhenti. Pandangan bergeser antara jam dan layar televisi. Orang-orang menunggu bukan notifikasi, melainkan suara yang dirasakan bersama. Dalam detik-detik terakhir sebelum azan, kota seakan menahan napas. Lalu lintas melambat, toko-toko menjadi sunyi, suara-suara merendah.

Saat azan berkumandang, rasanya bukan sekadar pengumuman, melainkan pelepasan bersama—dirasakan serentak di rumah, jalanan, dan masjid.

Masjid, Jantung Kehidupan Ramadhan

Masjid menjadi pusat pengalaman Ramadhan. Jamaah kembali ke masjid yang sama setiap malam untuk salat Tarawih, mengenali wajah-wajah yang familiar, saling menyapa singkat, lalu berdiri bahu-membahu dalam saf yang sama.

Ada kenyamanan dalam pengulangan itu. Irama yang sama, suara yang sama, dan rasa kebersamaan yang tenang. Beberapa momen bahkan dikenang dengan hangat, seperti ketika tokoh penting atau pemimpin datang tanpa pemberitahuan, ikut salat atau iftar secara sederhana, tanpa pembeda.

Di situlah pesan Ramadhan terasa nyata: kerendahan hati, kesetaraan di hadapan Tuhan, dan memudarnya jarak sosial.

Rumah, Makanan Sederhana, Makna Bersama

Di rumah, iftar berlangsung sederhana. Generasi yang lebih tua sering mengenang bahwa tak banyak yang dibutuhkan agar hidangan terasa lengkap. Kurma dan air menjadi pembuka, disusul hidangan tradisional seperti harees, thareed, atau nasi yang telah dimasak sejak siang.

Makanan dibagi dari nampan besar. Memasak dilakukan bersama. Fokusnya bukan variasi atau tampilan, melainkan kebersamaan. Tetangga saling bertukar hidangan tanpa banyak kata—ketukan pintu, senyum hangat, dan rasa syukur yang sunyi.

Ramadhan dari Mata Anak-Anak

Bagi banyak orang, Ramadhan tak terpisahkan dari masa kecil. Membantu menata meja, menunggu azan dengan tak sabar, melihat orang dewasa bergerak lebih lembut menjelang senja.

Baca juga: Doa Bulan Rajab: Persiapan Spiritual Menuju Ramadhan

Anak-anak ikut orang tua ke masjid untuk Tarawih, kadang melawan kantuk, kadang bangga bisa bertahan. Bangun sahur, tidur larut, dan merasakan bahwa aturan sehari-hari berubah—semua membuat Ramadhan terasa istimewa bahkan sebelum maknanya dipahami sepenuhnya.

Di beberapa lingkungan lama, kenangan tentang musaharati—yang berjalan membangunkan warga untuk sahur—masih hidup, suaranya mengalun lembut di dini hari.

Mengapa Ramadhan Selalu Terasa Cepat?

Mungkin karena Ramadhan padat oleh makna. Ia dibentuk oleh ritual, bukan repetisi. Ditentukan oleh momen, bukan tonggak waktu. Saat berakhir, orang sulit menjelaskan ke mana waktu itu pergi—yang pasti, ia pergi terlalu cepat, meninggalkan jejak yang bertahan lama di hati.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar