Editor
KOMPAS.com - Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syamsul Anwar mengungkapkan alasan utama mengapa Muhammadiyah mampu bertahan lebih dari satu abad, bahkan terus tumbuh semakin kuat hingga usia ke-113 tahun.
Menurutnya, kekuatan Muhammadiyah tidak hanya terletak pada struktur organisasi, tetapi terutama pada nilai-nilai yang dijaga secara konsisten sejak awal berdiri.
Hal tersebut disampaikan Syamsul Anwar saat mengisi Kajian Jelang Ramadhan yang digelar Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sukolilo Surabaya, Sabtu (17/1/2026), di Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta, sebagaimana dilansir dari situs Muhammadiyah.or.id.
Baca juga: Milad ke-113 Muhammadiyah Jadi Gerakan Kemanusiaan, Lingkungan, dan Penguatan Wakaf
Syamsul menegaskan, kunci utama keberlanjutan Muhammadiyah adalah ruh keikhlasan yang hidup di dalam diri para penggeraknya.
Keikhlasan ini menjadi penggerak semangat warga Muhammadiyah untuk terus berjuang tanpa pamrih dan tanpa hitung-hitungan keuntungan pribadi.
“Orang di Muhammadiyah itu bekerja tanpa pamrih. Tidak menghitung untung rugi secara duniawi. Kalau diberi amanah, jangan berharap imbalan selain dari Allah SWT,” ujar Syamsul.
Ia menekankan bahwa Muhammadiyah sejak awal memang dibangun sebagai organisasi sosial dan keagamaan, bukan organisasi yang berorientasi pada keuntungan.
Hal itu tercermin dari seluruh amal usaha Muhammadiyah yang badan hukumnya bukan Perseroan Terbatas (PT), melainkan dimiliki sepenuhnya oleh organisasi.
“Apa pun hasil dari usaha Muhammadiyah, semuanya dikembalikan untuk kepentingan Muhammadiyah. Tidak dijadikan keuntungan pribadi,” jelasnya.
Selain keikhlasan, Syamsul menjelaskan bahwa keberlanjutan Muhammadiyah juga ditopang oleh sistem tata kelola organisasi yang tertuang dalam Fikih Tata Kelola hasil rumusan Majelis Tarjih dan Tajdid.
Tata kelola ini mengatur dua aspek penting, yakni tata kelola bagi fungsionaris Muhammadiyah dan tata kelola organisasi secara keseluruhan.
Untuk menjadi fungsionaris Muhammadiyah, Syamsul menyebut ada syarat utama yang harus dimiliki, yakni amanah.
Amanah, menurutnya, memiliki dua dimensi penting. Pertama, kemampuan membangun kepercayaan. Kedua, komitmen untuk melaksanakan tanggung jawab yang telah dipercayakan.
Selain amanah, fungsionaris Muhammadiyah juga dituntut memiliki visi jauh ke depan. Sikap visioner ini dinilai penting agar Muhammadiyah mampu membaca tantangan zaman dan menyusun program yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
“Setiap orang hendaknya memikirkan apa yang akan diperbuatnya untuk hari esok. Itulah makna visioner, mampu membaca masa depan,” kata Syamsul.
Ia menegaskan, kombinasi antara amanah, visi ke depan, dan keikhlasan inilah yang membuat Muhammadiyah tetap kokoh dan terus berkemajuan selama lebih dari satu abad.
“Menjadi Muhammadiyah itu harus amanah, punya komitmen, visioner, dan ikhlas. Karena Muhammadiyah adalah organisasi berkemajuan,” pungkasnya.
Muhammadiyah merupakan gerakan Islam modernis tertua dan terbesar di Indonesia yang hingga kini tetap eksis dan berpengaruh.
Dengan anggota diperkirakan mencapai 30–40 juta orang dari beragam latar belakang, Muhammadiyah telah memperluas kiprahnya hingga mendirikan 30 cabang istimewa di luar negeri serta aktif dalam misi kemanusiaan global untuk perdamaian dan keadilan sosial.
Selama lebih dari satu abad, Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi sosial-keagamaan yang mandiri dan terpercaya, terutama di bidang pendidikan, kesehatan, filantropi, dan pemberdayaan sosial.
Amal usahanya menjangkau masyarakat urban hingga wilayah terpencil, masyarakat adat, dan kawasan rawan bencana.
Muhammadiyah juga tercatat sebagai pelopor pendidikan Islam modern, tata kelola organisasi keagamaan yang akuntabel, serta gerakan emansipasi perempuan Muslim di Indonesia.
Muhammadiyah berdiri pada 18 November 1912 di Yogyakarta, diprakarsai oleh KH. Ahmad Dahlan berawal dari pendirian Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah.
Organisasi ini resmi diakui sebagai badan hukum oleh Pemerintah Hindia-Belanda pada 1914.
Sejak awal, Muhammadiyah membawa semangat dakwah pembaruan untuk membebaskan umat dari kejumudan dan kebodohan, serta mendorong pengamalan Islam yang berdampak nyata bagi kehidupan sosial.
Pemikiran dan gerakan Muhammadiyah berlandaskan dakwah, tajdid (pembaruan), dan Islam Berkemajuan yang berpandangan wasathiyah atau moderat.
Salah satu fondasi teologisnya adalah “Teologi Al-Ma’un”, yang menekankan bahwa ajaran Islam harus diwujudkan dalam aksi nyata untuk menolong kaum miskin dan lemah, seperti melalui pendirian rumah sakit, panti asuhan, dan layanan sosial.
Baca juga: Muhammadiyah Masuk Organisasi Keagamaan Terkaya Ke-4 di Dunia
Ideologi Islam Berkemajuan mendorong Muhammadiyah untuk tidak hanya meneguhkan aspek akidah dan ibadah, tetapi juga melakukan pembaruan dalam urusan sosial dan kemanusiaan demi kemajuan umat dan bangsa.
Dengan sikap moderat, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan, Muhammadiyah terus berperan sebagai kekuatan moral dan sosial yang mencerahkan dalam kehidupan berbangsa dan beragama.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang