Penulis
KOMPAS.com - Banyak orang mendambakan hidup mewah, pekerjaan stabil, keluarga harmonis, dan status sosial yang tinggi. Namun di balik semua itu, tidak sedikit yang diam-diam merasa kosong hidupnya, selalu merasa gelisah, dan kehilangan ketenangan batin.
Dalam pandangan Islam, kondisi ini bukan hal yang asing. Islam mengajarkan bahwa ketenangan hati tidak selalu sejalan dengan kelimpahan dunia. Kelimpahan dunia hanya bersifat materialis yang memuaskan raga manusia, sementara manusia mempunyai sisi spiritual berupa ruh yang membutuhkan asupan iman.
Baca juga: Riya’, Ujub, dan Sum’ah: Tiga Penyakit Hati yang Merusak Amal Ibadah
Islam memandang perasaan kosong sebagai isyarat dari hati (qalb) yang jauh dari Allah. Padahal berdasarkan Al Quran surat Al A'raf ayat 172, Manusia telah bersaksi bahwa Allah SWT adalah Rabb-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa manusia membutuhkan Allah SWT dalam setiap kehidupannya.
Hati manusia diciptakan untuk mengenal dan mengingat-Nya. Ketika hati disibukkan oleh dunia namun lalai dari Sang Pencipta, maka kekosongan pun muncul.
Allah SWT berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Q.S. Ar Ra’d: 28)
Ayat ini menegaskan bahwa ketenangan sejati tidak bersumber dari harta, jabatan, keluarga, atau pujian manusia, melainkan dari hubungan yang dekat dengan Allah SWT.
Kekosongan ini seringkali dirasakan orang yang sudah mencapai kemapanan. Ia tidak membutuhkan dunia lagi, maka jiwanya terasa kosong dan hampa. Pencapaian yang telah dicapai tidak membawa kebahagiaan hakiki lagi.
Sementara bagi orang yang masih serba kekurangan, mereka disibukkan oleh keinginan mengejar dunia, sehingga kekosongan hati akan Tuhan sejenak terlupakan.
Tanda seseorang jauh dari Allah SWT adalah lalai dari mengingat Allah SWT. Padahal hati yang tidak pernah mengingat Allah SWT dengan dzikir akan mudah gelisah, meski secara lahiriah hidup tampak nyaman.
Rasulullah SAW bersabda:
“Perumpamaan orang yang berzikir kepada Rabb-nya dan yang tidak berzikir adalah seperti orang hidup dan orang mati.” (H.R. Bukhari).
Baca juga: Salah Kaprah Istilah Hati dalam Islam. Berikut Penjelasan Lengkapnya
Manusia pada dasarnya diciptakan untuk beribadah. Hal ini ditegaskan dalam surat Adz Dzariyat ayat 56. Ketika hidup hanya diarahkan untuk mengejar dunia, popularitas, dan pengakuan manusia, maka jiwa akan kehilangan arah dan makna.
Riya', hasad, cinta dunia berlebihan, dan ketergantungan pada penilaian manusia adalah penyakit hati yang dapat menggerogoti ketenangan batin. Nikmat yang didapat tidak membuat merasakan kebahagiaan, hanya kekosongan yang dirasakan.
Syukur adalah salah satu kunci untuk merasakan kebahagiaan hakiki. Semakin orang bersyukur, hidupnya semakin bahagia dan bermakna. Ketika tidak ada kesyukuran dalam diri seseorang, maka sebesar apapun nikmat yang didapatkan hanya menambah kekosongan dan kehampaan dalam hidup.
Al Quran adalah penyembuh bagi hati. Ketika seseorang jarang membaca, mendengar, atau merenungkan ayat-ayat Allah SWT, maka jiwanya kehilangan sumber ketenangan.
Allah SWT berfirman:
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Al Isra’: 82).
Baca juga: 6 Faktor Kesabaran dan Keteguhan Hati Masa Rasulullah yang Relevan Hingga Kini
Ada beberapa tanda yang bisa dirasakan bagi hati yang kosong, diantaranya adalah:
Apabila tanda-tanda ini muncul dari dalam diri, patut diwaspadai. Seseorang harus segera berbenah dan kembali kepada Allah SWT.
Berikut ini beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengisi kekosongan hati.
Bisa dimulai dengan bertaubat dan banyak-banyak memohon ampunan Allah SWT. Kemudian mulai memperbaiki kualitas dan kuantitas ibadah, seperti sholat tepat waktu, memperbanyak zikir, dan berdoa dengan penuh kesadaran.
Baca juga: Doa Saat Sakit Hati agar Diberi Ketenangan dan Kesabaran
Hidup adalah untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT. Dengan meluruskan niat dalam hidup, Allah SWT akan mengisi kekosongan hati dengan cahaya ilahi sehingga hidup menjadi lebih tenang dan damai.
Istighfar dan taubat akan meluruhkan dosa-dosa yang menutupi, menyembuhkan penyakit hati, dan membuat hati yang keras menjadi lembut. Hati yang kembali bersih akan menjadi hidup dan mampu merasakan ketenangan.
Kebahagiaan tertinggi adalah berbagi, melihat orang lain tersenyum akan memantulkan kebahagiaan hakiki. Berbagi adalah bentuk syukur yang akan membuat nikmat semakin bertambah dan membawa kebahagiaan dan makna dalam hidup.
Semua harta benda, jabatan, penghormatan dan pujian dari manusia hanya akan membawa kesenangan untuk sementara, sisanya adalah kekosongan hati dan kehampaan hidup.
Kosongnya hati disebabkan jauhnya diri dari Allah SWT. Maka langkah untuk mengobatinya adalah kembali mendekat kepada Allah SWT, memprbaiki ibadah, dan meluruskan tujuan hidup.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang