Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa Banyak Orang Merasa Kosong Meski Hidup Terlihat Baik?

Kompas.com, 17 Januari 2026, 18:30 WIB
Agus Susanto

Penulis

KOMPAS.com - Banyak orang mendambakan hidup mewah, pekerjaan stabil, keluarga harmonis, dan status sosial yang tinggi. Namun di balik semua itu, tidak sedikit yang diam-diam merasa kosong hidupnya, selalu merasa gelisah, dan kehilangan ketenangan batin.

Dalam pandangan Islam, kondisi ini bukan hal yang asing. Islam mengajarkan bahwa ketenangan hati tidak selalu sejalan dengan kelimpahan dunia. Kelimpahan dunia hanya bersifat materialis yang memuaskan raga manusia, sementara manusia mempunyai sisi spiritual berupa ruh yang membutuhkan asupan iman.

Baca juga: Riya’, Ujub, dan Sum’ah: Tiga Penyakit Hati yang Merusak Amal Ibadah

Kekosongan Batin dalam Pandangan Islam

Islam memandang perasaan kosong sebagai isyarat dari hati (qalb) yang jauh dari Allah. Padahal berdasarkan Al Quran surat Al A'raf ayat 172, Manusia telah bersaksi bahwa Allah SWT adalah Rabb-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa manusia membutuhkan Allah SWT dalam setiap kehidupannya.

Hati manusia diciptakan untuk mengenal dan mengingat-Nya. Ketika hati disibukkan oleh dunia namun lalai dari Sang Pencipta, maka kekosongan pun muncul.

Allah SWT berfirman:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Q.S. Ar Ra’d: 28)

Ayat ini menegaskan bahwa ketenangan sejati tidak bersumber dari harta, jabatan, keluarga, atau pujian manusia, melainkan dari hubungan yang dekat dengan Allah SWT.

Kekosongan ini seringkali dirasakan orang yang sudah mencapai kemapanan. Ia tidak membutuhkan dunia lagi, maka jiwanya terasa kosong dan hampa. Pencapaian yang telah dicapai tidak membawa kebahagiaan hakiki lagi.

Sementara bagi orang yang masih serba kekurangan, mereka disibukkan oleh keinginan mengejar dunia, sehingga kekosongan hati akan Tuhan sejenak terlupakan.

Penyebab Hidup Terasa Kosong

1. Jauh dari Allah SWT

Tanda seseorang jauh dari Allah SWT adalah lalai dari mengingat Allah SWT. Padahal hati yang tidak pernah mengingat Allah SWT dengan dzikir akan mudah gelisah, meski secara lahiriah hidup tampak nyaman.

Rasulullah SAW bersabda:

“Perumpamaan orang yang berzikir kepada Rabb-nya dan yang tidak berzikir adalah seperti orang hidup dan orang mati.” (H.R. Bukhari).

Baca juga: Salah Kaprah Istilah Hati dalam Islam. Berikut Penjelasan Lengkapnya

2. Tujuan Hidup yang Bergeser

Manusia pada dasarnya diciptakan untuk beribadah. Hal ini ditegaskan dalam surat Adz Dzariyat ayat 56. Ketika hidup hanya diarahkan untuk mengejar dunia, popularitas, dan pengakuan manusia, maka jiwa akan kehilangan arah dan makna.

3. Penyakit Hati yang Tidak Disadari

Riya', hasad, cinta dunia berlebihan, dan ketergantungan pada penilaian manusia adalah penyakit hati yang dapat menggerogoti ketenangan batin. Nikmat yang didapat tidak membuat merasakan kebahagiaan, hanya kekosongan yang dirasakan.

4. Kurangnya Rasa Syukur yang Hakiki

Syukur adalah salah satu kunci untuk merasakan kebahagiaan hakiki. Semakin orang bersyukur, hidupnya semakin bahagia dan bermakna. Ketika tidak ada kesyukuran dalam diri seseorang, maka sebesar apapun nikmat yang didapatkan hanya menambah kekosongan dan kehampaan dalam hidup.

5. Jauh dari Al Quran

Al Quran adalah penyembuh bagi hati. Ketika seseorang jarang membaca, mendengar, atau merenungkan ayat-ayat Allah SWT, maka jiwanya kehilangan sumber ketenangan.

Allah SWT berfirman:

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Al Isra’: 82).

Baca juga: 6 Faktor Kesabaran dan Keteguhan Hati Masa Rasulullah yang Relevan Hingga Kini

Tanda-Tanda Hati yang Kosong

Ada beberapa tanda yang bisa dirasakan bagi hati yang kosong, diantaranya adalah:

  • Merasa gelisah tanpa sebab yang jelas.
  • Sulit merasakan nikmat ibadah.
  • Mudah mengeluh dan membandingkan diri dengan orang lain.
  • Merasa jauh dari Allah meski menjalankan rutinitas agama.
  • Apa yang dimiliki tidak membawa kebahagiaan dan ketenangan.

Apabila tanda-tanda ini muncul dari dalam diri, patut diwaspadai. Seseorang harus segera berbenah dan kembali kepada Allah SWT.

Cara Mengisi Kekosongan Hati

Berikut ini beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengisi kekosongan hati.

1. Memperbaiki Hubungan dengan Allah

Bisa dimulai dengan bertaubat dan banyak-banyak memohon ampunan Allah SWT. Kemudian mulai memperbaiki kualitas dan kuantitas ibadah, seperti sholat tepat waktu, memperbanyak zikir, dan berdoa dengan penuh kesadaran.

Baca juga: Doa Saat Sakit Hati agar Diberi Ketenangan dan Kesabaran

2. Meluruskan Niat Hidup

Hidup adalah untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT. Dengan meluruskan niat dalam hidup, Allah SWT akan mengisi kekosongan hati dengan cahaya ilahi sehingga hidup menjadi lebih tenang dan damai.

3. Memperbanyak Istighfar dan Taubat

Istighfar dan taubat akan meluruhkan dosa-dosa yang menutupi, menyembuhkan penyakit hati, dan membuat hati yang keras menjadi lembut. Hati yang kembali bersih akan menjadi hidup dan mampu merasakan ketenangan.

4. Bersyukur dan Berbagi

Kebahagiaan tertinggi adalah berbagi, melihat orang lain tersenyum akan memantulkan kebahagiaan hakiki. Berbagi adalah bentuk syukur yang akan membuat nikmat semakin bertambah dan membawa kebahagiaan dan makna dalam hidup.

Penutup

Semua harta benda, jabatan, penghormatan dan pujian dari manusia hanya akan membawa kesenangan untuk sementara, sisanya adalah kekosongan hati dan kehampaan hidup.

Kosongnya hati disebabkan jauhnya diri dari Allah SWT. Maka langkah untuk mengobatinya adalah kembali mendekat kepada Allah SWT, memprbaiki ibadah, dan meluruskan tujuan hidup.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com