Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ujian Kesenangan dalam Islam: Memahami Bahaya Istidraj

Kompas.com, 17 Januari 2026, 17:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Dalam kehidupan manusia, nikmat sering dipahami sebagai tanda kasih sayang Allah SWT.

Kekayaan, kesehatan, jabatan, dan popularitas kerap dianggap sebagai bukti keberhasilan sekaligus keberkahan.

Namun dalam perspektif ajaran Islam, tidak semua kenikmatan bermakna rahmat. Ada kondisi tertentu di mana kesenangan justru menjadi bentuk ujian yang berbahaya, yang dalam khazanah keislaman dikenal dengan istilah istidraj.

Baca juga: Istidraj: Jebakan Kenikmatan yang Melenakan dan Membinasakan

Istidraj merujuk pada keadaan ketika seseorang terus diberi kelapangan hidup, padahal ia berada dalam kelalaian dan kemaksiatan.

Kenikmatan tersebut tidak lagi mengantarkan pada rasa syukur, melainkan menumbuhkan kesombongan dan menjauhkan hati dari Allah SWT.

Dalam konteks ini, nikmat berubah fungsi: dari sarana mendekatkan diri kepada Tuhan menjadi alat penundaan hukuman yang datang secara tiba-tiba.

Baca juga: Doa Nabi Yusuf AS: Wajah Bercahaya, Akhlak Mulia, dan Perlindungan dari Maksiat

Istidraj dalam Al-Qur’an dan Tafsir Ulama

Konsep istidraj memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-An’am ayat 44 yang menjelaskan bahwa ketika manusia melupakan peringatan, pintu-pintu kesenangan dibukakan hingga mereka larut dalam kegembiraan, lalu datang azab secara mendadak.

Ayat ini menegaskan bahwa kelapangan hidup tidak selalu identik dengan keridhaan Allah, melainkan bisa menjadi bagian dari sunnatullah dalam menguji manusia.

Dalam kitab Tafsir Al-Misbah karya Prof. Dr. M. Quraish Shihab dijelaskan bahwa istidraj adalah bentuk “penangguhan” yang tampak sebagai kebaikan, tetapi sejatinya merupakan ujian berat bagi hati.

Menurut beliau, seseorang yang terus diberi kenikmatan tanpa dibarengi kesadaran spiritual berisiko kehilangan kepekaan nurani.

Akibatnya, ia tidak lagi mampu membedakan antara karunia yang membawa keberkahan dan kelapangan yang justru menjebak.

Pandangan serupa juga dikemukakan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin. Al-Ghazali menyebut bahwa salah satu bentuk tipu daya dunia adalah ketika manusia merasa aman karena limpahan harta dan kedudukan.

Padahal, keamanan semu inilah yang sering melalaikan manusia dari introspeksi diri dan taubat.

Dalam konteks ini, istidraj menjadi peringatan agar manusia tidak menilai keberhasilan hanya dari ukuran materi.

Mengapa Kenikmatan Bisa Menjadi Ujian?

Secara psikologis dan spiritual, kenikmatan memiliki daya tarik yang kuat. Ketika seseorang memperoleh kesuksesan duniawi, ada kecenderungan untuk merasa cukup dengan dirinya sendiri.

Rasa bergantung kepada Allah SWT perlahan memudar, digantikan oleh keyakinan bahwa semua capaian adalah hasil usaha pribadi semata.

Dalam buku Tazkiyatun Nafs karya Syekh Said Hawwa dijelaskan bahwa hati manusia sangat mudah terpengaruh oleh kenyamanan.

Jika tidak dibentengi dengan dzikir, syukur, dan kesadaran akan akhirat, kenikmatan dapat menutup pintu muhasabah.

Inilah yang membuat istidraj menjadi ujian yang lebih berat dibandingkan kesulitan. Saat diuji dengan musibah, manusia cenderung kembali kepada Allah. Namun saat diuji dengan kelapangan, banyak yang justru semakin jauh.

Baca juga: Dosa Muslim Meninggalkan Shalat Fardhu Tanpa Rasa Penyesalan

Tanda-Tanda Istidraj dalam Kehidupan Sehari-hari

Istidraj tidak selalu tampak dalam bentuk yang ekstrem. Ia sering hadir secara perlahan dan halus.

Salah satu tandanya adalah ketika seseorang semakin makmur, tetapi semakin jarang beribadah.

Tanda lainnya adalah munculnya sikap meremehkan dosa, merasa kebal terhadap peringatan agama, serta mengukur keberhasilan hidup hanya dari standar duniawi.

Dalam perspektif sosial, fenomena ini juga terlihat ketika kekuasaan dan kekayaan tidak lagi digunakan untuk kemaslahatan, melainkan untuk memperkuat dominasi dan kepentingan pribadi. Dalam kondisi seperti ini, nikmat berubah menjadi sumber kerusakan moral dan spiritual.

Jalan Menghindari Jebakan Istidraj

Islam tidak melarang umatnya menikmati rezeki dunia. Yang ditekankan adalah cara menyikapi nikmat tersebut.

Syukur, kerendahan hati, dan kesadaran akan tanggung jawab moral menjadi kunci utama agar kenikmatan tetap berada dalam koridor rahmat, bukan istidraj.

Doa juga menjadi sarana penting untuk menjaga hati. Salah satu doa yang sering dijadikan rujukan adalah doa Nabi Yunus AS saat berada dalam perut ikan, yang mencerminkan pengakuan dosa dan ketundukan total kepada Allah.

Selain itu, doa yang tercantum dalam Surah Al-Baqarah ayat 201 mengajarkan keseimbangan antara kebaikan dunia dan akhirat, sehingga manusia tidak terjebak dalam orientasi materi semata.

Doa lain yang relevan adalah permohonan agar diberi kemampuan bersyukur, sebagaimana disebutkan dalam Surah An-Naml ayat 19.

Dalam ayat ini, Nabi Sulaiman AS tidak hanya meminta nikmat, tetapi juga memohon kekuatan untuk mensyukuri dan menggunakannya dalam amal saleh.

Ini menunjukkan bahwa inti dari keberkahan bukan terletak pada banyaknya nikmat, melainkan pada cara memanfaatkannya.

Baca juga: Bacaan Doa Agar Terhindar dari Maksiat Lengkap dengan Artinya

Refleksi Spiritual di Tengah Budaya Materialisme

Di era modern, ketika standar kesuksesan sering diukur dari kekayaan dan popularitas, pemahaman tentang istidraj menjadi semakin relevan.

Masyarakat dihadapkan pada arus konsumerisme yang mendorong gaya hidup berlebihan. Tanpa kesadaran spiritual, kondisi ini berpotensi menjauhkan manusia dari nilai-nilai ketakwaan.

Sebagaimana dikemukakan oleh Nurcholish Madjid dalam buku Islam, Doktrin dan Peradaban, keberagamaan yang matang tidak hanya tercermin dalam ritual, tetapi juga dalam sikap hidup yang sederhana, adil, dan bertanggung jawab.

Dalam konteks ini, nikmat seharusnya menjadi sarana untuk memperluas manfaat sosial, bukan sekadar simbol status.

Istidraj mengajarkan bahwa ujian tidak selalu hadir dalam bentuk kesulitan. Justru kenikmatan yang berlimpah bisa menjadi cobaan paling berat ketika tidak diiringi dengan kesadaran spiritual.

Karena itu, umat Islam diajak untuk terus melakukan muhasabah, menjaga keikhlasan ibadah, serta menempatkan nikmat dunia sebagai amanah, bukan tujuan akhir.

Dengan sikap ini, kenikmatan tidak lagi menjadi jebakan yang menyesatkan, melainkan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperkuat kualitas iman di tengah tantangan zaman.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com