Penulis
KOMPAS.com - Bahasa Indonesia termasuk bahasa yang cukup rancu dalam mengartikan kata hati. Ada ketidak konsistenan dalam menerjemahkan kata tersebut sehingga membuat pemahaman menjadi salah kaprah.
Dalam Bahasa Inggris, hati disebut dengan heart yang mengarah pada organ jantung. Demikian pula dalam bahasa Arab, hati disebut dengan qalbu yang juga mengarah pada kata jantung.
Sementara dalam bahasa Indonesia, heart diartikan sebagai hati. Padahal hati adalah organ yang disebut dengan liver, bukan jantung. Dalam mengartikan beberapa istilah juga rancu. Heart diartikan hati, sementara heart beat diartikan detak jantung, bukan detak hati.
Baca juga: Dzikir Penenang Hati: Hasbunallah wa Nimal Wakil
Dalam diri manusia, ada sebuah organ yang merupakan pusat kendali seluruh aktivitas manusia, baik aktivitas lahir maupun batin. Organ ini sangat vital bagi manusia karena keberlangsungan hidup manusia tergantung padanya.
Jika organ ini berfungsi dengan baik, maka semuanya akan menjadi baik. Jika organ ini rusak atau tidak berfungsi, semuanya akan terganggu. Organ tersebut adalah hati.
“Ingatlah bahwa di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging, apabila ia baik, maka baiklah seluruh badan, tetapi apabila ia rusak, maka rusak pulalah seluruh badan. Ingatlah bahwa benda itu adalah qalb (hati).” (Muttafaq 'alaih).
Qalbu dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi hati. Padahal hati dalam arti fisik merujuk pada organ hati yang terletak di dalam rongga perut sebelah kanan di bawah diafragma. Dalam bahasa Inggris, organ ini disebut liver dan dalam bahasa Arab disebut kibdatun.
Sedangkan yang dimaksud dengan qalbu adalah organ yang terletak di dalam dada.
“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (Q.S. Al Hajj: 46).
Baca juga: Kumpulan Doa Dijauhkan dari Penyakit Hati Lengkap dengan artinya
Qalbu mempunyai dua dimensi, yaitu fisik dan batiniah. Kata qalb adalah bentuk masdar (kata benda dasar) dari qabala yang berarti berubah, berpindah, atau berbalik (bolak-balik).
Jika dikaitkan dengan dimensi fisik, makna qalbu lebih tepat diartikan sebagai jantung yang terus berdetak sehingga bentuknya berubah-ubah atau berbolak-balik.
Definisi ini juga bisa dikaitkan dengan tugas jantung untuk mengatur sirkulasi darah dalam tubuh. Darah bersih dipompakan keluar dari dalam jantung menuju ke seluruh tubuh, kemudian darah kotor dibawa dari organ-organ tubuh menuju ke jantung.
Apabila kerja jantung terganggu, metabolisme tubuh juga akan terganggu. Bahkan jika kerja jantung terhenti, maka berakhirlah kehidupan manusia. Sedangkan secara batiniah, hati adalah penguasa atau raja dengan anggota tubuh menjadi bawahannya. Semua gerak dan aktivitas tubuh maupun jiwa diperintah oleh hati.
Berdasarkan pemahaman di atas, dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan hati adalah jantung sebagai wujud fisiknya. Sedangkan secara batin, hati bermakna pusat jiwa dengan segala dinamikanya.
Dikutip dari buku Ihsan Ways karya Agus Susanto, Penelitian J. Andrew Armour, M.D. Ph. D. menemukan adanya keberadaan lebih dari 40.000 neuron-neuron (tipe sel-sel yang dimiliki otak) di dalam jantung manusia.
Neuron-neuron dalam jantung ini mampu memproses informasi tanpa bantuan dari neuron-neuron otak. Dalam kesimpulannya, beliau menjelaskan bahwa jantung memiliki otak kecilnya sendiri yang mampu menganalisis komputasi kompleks dengan sendirinya.
Baca juga: Doa Saat Sakit Hati agar Diberi Ketenangan dan Kesabaran
Pemahaman mengenai anatomi dan fungsi sistem syaraf jantung yang kompleks menyumbangkan sebuah dimensi tambahan pada pandangan yang muncul baru-baru ini tentang jantung sebagai pusat pemrosesan informasi mutakhir yang tidak hanya berfungsi bersama-sama dengan otak, tetapi juga secara mandiri.
Jika otak merupakan pusat kecerdasan intelektual manusia, hati (jantung) merupakan pusat dari kecerdasan yang bersifat intuitif. Kecerdasan intuitif adalah kecerdasan yang bersumber pada kepekaan rasa untuk mengetahui sesuatu tanpa melalui penalaran rasional.
Bentuk kecerdasan intuitif berupa kecerdasan emosional (Emotional Intelligence) yang berkaitan dengan pemahaman dan sikap terhadap diri, orang lain, dan lingkungan sekitar dan kecerdasan spiritual (Spiritual Intelligence) yang berkaitan dengan nilai-nilai religius dan spiritual.
James E. LeDoux dalam The Emotional Brain: The Mysterious Underpinnings of Emotional Life menyatakan bahwa tidak benar emosi berasal dari otak. Sementara Gohar Mushtaq dalam bukunya Intelleigent Heart menambahkan bahwa hati (jantung) memainkan peran utama dalam mengatur emosi-emosi manusia dan berhubungan langsung dengan kecerdasan emosional.
Sebuah hadits Rasulullah SAW menegaskan bahwa hati mempunyai kemampuan untuk berpikir dan merasakan sesuatu.
اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَاسْتَفْتِ نَفْسَكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ
Artinya: "Mintalah fatwa pada hatimu (3x), karena kebaikan adalah yang membuat tenang jiwa dan hatimu. Dan dosa adalah yang membuat bimbang hatimu dan goncang dadamu." (H.R. Ahmad).
Baca juga: Bahaya Menyakiti Hati Tetangga, Bisa Masuk Neraka
Salah kaprah mengenai pemahaman hati sebagai liver atau jantung sudah cukup lama berlangsung. Hal ini karena ada ketidak kosistenan dalam menggunakan terminologi kata hati.
Bila mengacu pada kata qalbu dan heart, maka yang dimaksud dengan hati adalah organ jantung bukan liver. Inilah pemahaman yang lurus mengenai hati.
Hati secara fisik adalah jantung dan secara batiniah sebagai pusat jiwa manusia. Hati bisa berpikir untuk menentukan baik dan buruk serta menjadi sumber emosi bagi manusia.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang