Penulis
KOMPAS.com - Ada sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Umar bin Khattab yang membahas tentang Islam, Iman, dan Ihsan. Pemilihan urutan kata yang dimulai dari Islam, kemudian Iman, dan terakhir Ihsan dalam hadits tersebut tidak bersifat acak.
Penempatan urutan itu mempunyai maksud tertentu, termasuk pemberian makna dari masing-masing kata itu. Menurut para Ulama, urutan tersebut menunjukkan tingkatan manusia dalam menerapkan agama Islam dalam hidupnya.
Untuk lebih mendalam memahami tentang tingkatan manusia berdasarkan hadits Islam, Iman, dan Ihsan, berikut penjelasan lengkapnya seperti dikutip dari buku Ihsan Ways karya Agus Susanto.
Baca juga: Ihsan: Jalan Menuju Kesempurnaan Iman
Kualitas manusia yang pertama adalah Muslim atau golongan Islam. Konteks Islam dalam hal ini bukan bermakna Islam sebagai agama, tetapi lebih mengarah kepada kualitas personal.
Seseorang yang mencapai derajat Muslim berarti telah memiliki pemahaman agama tetapi baru sebatas ritual fisik (tataran syariat). Agama dipandang secara sempit sebatas rutinitas ritual tanpa pemaknaan mendalam.
Seorang yang sudah Islam belum tentu beriman. Hal ini dijelaskan dalam Al Quran surat Al Hujurat ayat 14.
قَالَتِ ٱلْأَعْرَابُ ءَامَنَّا ۖ قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا۟ وَلَٰكِن قُولُوٓا۟ أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ ٱلْإِيمَٰنُ فِى قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِن تُطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ لَا يَلِتْكُم مِّنْ أَعْمَٰلِكُمْ شَيْـًٔا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Artinya: "Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"."
Ada tiga karakteristik orang yang berada pada derajat ini, yaitu:
- Lebih mementingkan kuantitas dalam mengamalkan ajaran agama tanpa mengindahkan kualitas.
- Memahami agama hanya sebatas ibadah mahdhah (khusus).
- Terkadang tidak mengindahkan aturan agama dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Kisah Penggembala Kambing yang Jujur dan Telah Mencapai Derajat Ihsan
Tingkatan manusia kedua adalah Mukmin atau golongan orang yang beriman. Golongan ini lebih tinggi dari tingkatan sebelumnya.
Seorang mukmin sudah memiliki pondasi berupa pemahaman akidah yang lurus. Iman sudah masuk ke dalam hatinya dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Karakteristik golongan ini adalah:
- Memperhatikan kualitas ibadah.
- Mengaplikasikan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari tetapi masih sebatas mengedepankan hubungan vertikal (hablun minallah)
- Terkadang tidak memperhatikan hubungan antar sesama manusia (hablun minannas).
Tingkatan terakhir atau tertinggi adalah Muhsin atau golongan orang yang mencapai derajat Ihsan. Inilah golongan manusia tertinggi dan sempurna imannya.
Karakteristik golongan ini ada empat, yaitu:
- Memperhatikan kuantitas dan kualitas dalam beribadah.
- Menjalankan agama secara total baik dalam hal ibadah mahdhah maupun ibadah ‘amm (umum).
- Memperhatikan keseimbangan hubungan dengan Allah dan sesama makhluk-Nya.
- Kehidupan kesehariannya dihiasi dengan akhlak mulia.
Baca juga: Hadits tentang Islam, Iman, dan Ihsan
Ketiga tingkatan tersebut bersifat hirarki. Artinya, tingkat yang lebih tinggi hanya dapat dicapai setelah melewati tingkat sebelumnya.
Mukmin hanya dapat dicapai setelah terlebih dahulu seseorang menjadi muslim, dan muhsin hanya dapat dicapai oleh orang yang telah melewati derajat muslim dan mukmin.
Jadi, seseorang yang muslim belum tentu mukmin maupun muhsin. Sedangkan seseorang yang muhsin, sudah pasti dia muslim dan mukmin.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang