Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sidratul Muntaha, Titik Tertinggi Perjalanan Nabi Muhammad

Kompas.com, 7 Januari 2026, 12:27 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Peristiwa Isra Mikraj merupakan salah satu tonggak terpenting dalam sejarah Islam. Melalui perjalanan spiritual inilah Nabi Muhammad SAW menerima perintah shalat lima waktu yang menjadi fondasi ibadah umat Islam.

Pada tahun 2026, peringatan Isra Mi'raj jatuh pada Jumat, 16 Januari, sebagaimana ditetapkan pemerintah sebagai hari libur nasional.

Momentum ini kembali mengajak umat Islam untuk merenungkan makna perjalanan Rasulullah, terutama ketika beliau mencapai Sidratul Muntaha.

Apa Itu Sidratul Muntaha

Sidratul Muntaha adalah pohon bidara di batas paling tinggi yang menjadi titik pemberhentian terakhir Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan Miraj menuju Allah SWT.

Secara bahasa, sidrah berarti “pohon bidara”, sementara muntaha berarti “batas tertinggi” batas pengetahuan makhluk yang tidak dapat dilampaui kecuali atas izin Allah.

Di sinilah kenabian mencapai puncak pengalaman spiritual tertinggi sebelum menerima perintah langsung dari Allah SWT.

Isra Mi'raj bagi umat Islam adalah peristiwa penting yang tidak hanya dicatat dalam tradisi lisan, tetapi juga diawali oleh firman Allah dalam Al-Qur’an yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa untuk melihat sebagian tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

Baca juga: Mengungkap Keistimewaan Malam 27 Rajab bagi Umat Islam

Buraq: Kendaraan Perjalanan Spiritual Nabi

Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina menggunakan kendaraan bernama Buraq, yang digambarkan sebagai makhluk supranatural dengan kecepatan luar biasa, berada di antara hewan darat dan kemampuan terbang, membawa Rasulullah melewati ruang dan waktu secara mukjizat.

Perjalanan Menuju Sidratul Muntaha

Perjalanan Mi'raj dimulai setelah Nabi Muhammad tiba di Masjidil Aqsa. Dari sana, beliau bersama Malaikat Jibril naik menembus tujuh lapis langit, melewati setiap tingkat yang dihuni para nabi terdahulu.

Dalam tiap lapisan langit itu, beliau bertegur sapa dan mendapat sambutan dari nabi-nabi seperti Nabi Adam, Isa, Musa, dan lain-lain, menegaskan kesinambungan pesan kenabian sepanjang sejarah umat manusia.

Sidratul Muntaha menjadi penghujung perjalanan langit tersebut, tempat di mana Malaikat Jibril tidak lagi dapat mendampingi karena cahaya Allah yang amat kuat.

Nabi Muhammad SAW lanjut menuju kehampaan ilahi seorang diri, menunjukkan tingkatan kedekatan spiritual yang hanya dapat dicapai oleh beliau.

Baca juga: Benarkah Isra Miraj Terjadi Tanggal 27 Rajab? Berikut Pendapat Para Ulama

Perintah Shalat Lima Waktu

Di Sidratul Muntaha, Nabi Muhammad SAW menerima perintah shalat lima waktu langsung dari Allah SWT.

Dikutip dari buku Rihlah Semesta Bersama Jibril: Menguak Perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad saw karya Tim Forum Kajian Ilmiah KASYAF (Khazanah Santri Salaf), pada awalnya, Allah mewajibkan 50 waktu shalat dalam sehari semalam kepada umat Islam. Namun, setelah berbincang dengan Nabi Musa AS di langit keenam dan meminta keringanan.

Hal ini karena umat manusia memiliki keterbatasan, jumlah itu akhirnya ditetapkan menjadi lima waktu dengan pahala tetap setara dengan 50 waktu shalat.

Peristiwa ini menjadi sumber utama kewajiban shalat lima waktu bagi umat Islam dan shalat menjadi salah satu pilar paling pokok dalam Islam.

Hal ini juga menunjukkan bahwa perintah shalat bukanlah sekadar ritual, tetapi hasil dari pengalaman pribadi Nabi Muhammad SAW dengan langsung dari Tuhan di Sidratul Muntaha.

Makna Sidratul Muntaha bagi Umat Islam

Sidratul Muntaha bukan sekadar lokasi dalam perjalanan Isra Mi'raj, melainkan simbol puncak kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya.

Ia menjadi pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan, tetapi juga diberi jalan untuk mendekat kepada Allah melalui ibadah, terutama shalat.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, shalat dipahami sebagai sarana “mikraj” spiritual bagi setiap muslim.

Baca juga: Libur Isra Mikraj 2026 Jatuh Jumat, Ada Long Weekend 3 Hari

Refleksi Isra Mi'raj 2026

Peringatan Isra Mi'raj pada 16 Januari 2026 menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali kualitas ibadah umat Islam.

Libur nasional yang menyertainya diharapkan tidak hanya dimanfaatkan sebagai waktu beristirahat, tetapi juga sebagai ruang perenungan untuk memperbaiki shalat dan memperkuat keimanan.

Dengan memahami makna Sidratul Muntaha dan perintah shalat yang diturunkan di dalamnya, Isra Mikraj tidak berhenti sebagai kisah agung masa lalu.

Ia hadir sebagai pengingat abadi bahwa kedekatan dengan Allah dapat diraih melalui ibadah yang khusyuk dan konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com