KOMPAS.com - Peristiwa Isra Mikraj merupakan salah satu tonggak terpenting dalam sejarah Islam. Melalui perjalanan spiritual inilah Nabi Muhammad SAW menerima perintah shalat lima waktu yang menjadi fondasi ibadah umat Islam.
Pada tahun 2026, peringatan Isra Mi'raj jatuh pada Jumat, 16 Januari, sebagaimana ditetapkan pemerintah sebagai hari libur nasional.
Momentum ini kembali mengajak umat Islam untuk merenungkan makna perjalanan Rasulullah, terutama ketika beliau mencapai Sidratul Muntaha.
Sidratul Muntaha adalah pohon bidara di batas paling tinggi yang menjadi titik pemberhentian terakhir Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan Miraj menuju Allah SWT.
Secara bahasa, sidrah berarti “pohon bidara”, sementara muntaha berarti “batas tertinggi” batas pengetahuan makhluk yang tidak dapat dilampaui kecuali atas izin Allah.
Di sinilah kenabian mencapai puncak pengalaman spiritual tertinggi sebelum menerima perintah langsung dari Allah SWT.
Isra Mi'raj bagi umat Islam adalah peristiwa penting yang tidak hanya dicatat dalam tradisi lisan, tetapi juga diawali oleh firman Allah dalam Al-Qur’an yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa untuk melihat sebagian tanda-tanda kebesaran Allah SWT.
Baca juga: Mengungkap Keistimewaan Malam 27 Rajab bagi Umat Islam
Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina menggunakan kendaraan bernama Buraq, yang digambarkan sebagai makhluk supranatural dengan kecepatan luar biasa, berada di antara hewan darat dan kemampuan terbang, membawa Rasulullah melewati ruang dan waktu secara mukjizat.
Perjalanan Mi'raj dimulai setelah Nabi Muhammad tiba di Masjidil Aqsa. Dari sana, beliau bersama Malaikat Jibril naik menembus tujuh lapis langit, melewati setiap tingkat yang dihuni para nabi terdahulu.
Dalam tiap lapisan langit itu, beliau bertegur sapa dan mendapat sambutan dari nabi-nabi seperti Nabi Adam, Isa, Musa, dan lain-lain, menegaskan kesinambungan pesan kenabian sepanjang sejarah umat manusia.
Sidratul Muntaha menjadi penghujung perjalanan langit tersebut, tempat di mana Malaikat Jibril tidak lagi dapat mendampingi karena cahaya Allah yang amat kuat.
Nabi Muhammad SAW lanjut menuju kehampaan ilahi seorang diri, menunjukkan tingkatan kedekatan spiritual yang hanya dapat dicapai oleh beliau.
Baca juga: Benarkah Isra Miraj Terjadi Tanggal 27 Rajab? Berikut Pendapat Para Ulama
Di Sidratul Muntaha, Nabi Muhammad SAW menerima perintah shalat lima waktu langsung dari Allah SWT.
Dikutip dari buku Rihlah Semesta Bersama Jibril: Menguak Perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad saw karya Tim Forum Kajian Ilmiah KASYAF (Khazanah Santri Salaf), pada awalnya, Allah mewajibkan 50 waktu shalat dalam sehari semalam kepada umat Islam. Namun, setelah berbincang dengan Nabi Musa AS di langit keenam dan meminta keringanan.
Hal ini karena umat manusia memiliki keterbatasan, jumlah itu akhirnya ditetapkan menjadi lima waktu dengan pahala tetap setara dengan 50 waktu shalat.
Peristiwa ini menjadi sumber utama kewajiban shalat lima waktu bagi umat Islam dan shalat menjadi salah satu pilar paling pokok dalam Islam.
Hal ini juga menunjukkan bahwa perintah shalat bukanlah sekadar ritual, tetapi hasil dari pengalaman pribadi Nabi Muhammad SAW dengan langsung dari Tuhan di Sidratul Muntaha.
Sidratul Muntaha bukan sekadar lokasi dalam perjalanan Isra Mi'raj, melainkan simbol puncak kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya.
Ia menjadi pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan, tetapi juga diberi jalan untuk mendekat kepada Allah melalui ibadah, terutama shalat.
Dalam konteks kehidupan sehari-hari, shalat dipahami sebagai sarana “mikraj” spiritual bagi setiap muslim.
Baca juga: Libur Isra Mikraj 2026 Jatuh Jumat, Ada Long Weekend 3 Hari
Peringatan Isra Mi'raj pada 16 Januari 2026 menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali kualitas ibadah umat Islam.
Libur nasional yang menyertainya diharapkan tidak hanya dimanfaatkan sebagai waktu beristirahat, tetapi juga sebagai ruang perenungan untuk memperbaiki shalat dan memperkuat keimanan.
Dengan memahami makna Sidratul Muntaha dan perintah shalat yang diturunkan di dalamnya, Isra Mikraj tidak berhenti sebagai kisah agung masa lalu.
Ia hadir sebagai pengingat abadi bahwa kedekatan dengan Allah dapat diraih melalui ibadah yang khusyuk dan konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang