Editor
KOMPAS.com - Sebuah video curahan hati guru honorer mendadak viral di media sosial setelah diunggah akun X @heralxxx.
Dalam video tersebut, seorang guru perempuan tampak menangis menceritakan kondisi kesejahteraan yang menurutnya jauh dari kata layak. Ia membandingkan penghasilannya dengan gaji sopir program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disebut jauh lebih besar.
“Curahan hati guru honorer disampaikan sambil menangis. Mereka mengaku gaji yang diterima jauh lebih kecil dibanding sopir MBG. Semoga para guru honorer mendapat perhatian dan keadilan atas nasibnya,” tulis akun tersebut dalam narasi unggahan.
Video itu langsung memantik komentar warganet. Banyak yang merasa miris karena profesi guru, yang memikul tanggung jawab besar mendidik generasi bangsa, justru masih bergelut dengan persoalan ekonomi.
Baca juga: 58 Persen Guru Agama Islam SD Belum Fasih Membaca Al Quran
Persoalan gaji guru honorer sejatinya bukan isu baru. Di berbagai daerah, honor yang diterima guru non-ASN berkisar ratusan ribu hingga di bawah Rp 1 juta per bulan, tergantung kemampuan sekolah dan pemerintah daerah.
Sementara itu, informasi mengenai gaji sopir MBG yang beredar di media sosial disebut mencapai beberapa juta rupiah. Meski belum ada data resmi yang bisa dibandingkan secara setara, perbedaan itu cukup untuk melukai rasa keadilan para guru honorer.
Dalam tradisi Islam, guru menempati posisi sangat terhormat. Kementerian Agama (Kemenag) dalam berbagai kesempatan kerap menegaskan bahwa pendidik adalah pewaris tugas para nabi, yakni menyampaikan ilmu dan membentuk akhlak manusia.
Karena itu, memuliakan guru tidak cukup dengan pujian moral, tetapi juga harus diwujudkan dalam kebijakan yang adil.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga berulang kali mengingatkan pentingnya keberpihakan pada kesejahteraan guru. Dalam banyak tausiyahnya, MUI menyebut bahwa orang yang mengajarkan kebaikan mendapatkan kemuliaan besar, sebagaimana hadis Nabi SAW yang menyatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.
Ulama menekankan, menelantarkan guru sama saja mengabaikan masa depan umat. Islam memandang ilmu sebagai cahaya, dan guru adalah penjaganya. Karena itu, negara dan masyarakat memiliki kewajiban moral untuk memastikan kehidupan mereka layak.
Dalam Islam, guru (pendidik, pengajar ilmu) menempati kedudukan sangat mulia. Mereka dipandang sebagai pewaris tugas para nabi dalam menyampaikan ilmu dan membentuk akhlak manusia.
a. Allah Meninggikan Derajat Orang Berilmu
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadalah: 11)
Ayat ini menunjukkan bahwa orang berilmu—termasuk guru yang mengajarkan ilmu—memiliki kedudukan lebih tinggi di sisi Allah.
b. Perintah Bertanya kepada Ahlinya (Guru)
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)
“Ahludz dzikr” ditafsirkan para ulama sebagai orang berilmu, yaitu para guru dan pendidik.
c. Ilmu sebagai Cahaya Kehidupan
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Katakanlah: apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)
Ayat ini menegaskan keutamaan orang yang mengajarkan dan menyebarkan ilmu.
a. Sebaik-baik Manusia adalah yang Mengajarkan Kebaikan
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Hadis ini menjadi landasan utama bahwa profesi mengajar adalah amal terbaik.
b. Guru Mendapat Doa Seluruh Makhluk
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ... حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
“Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi, bahkan semut di liangnya dan ikan di laut, semuanya mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi)
Betapa agung kedudukan guru, hingga seluruh makhluk mendoakannya.
c. Ilmu yang Diajarkan Menjadi Amal Jariyah
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Guru termasuk golongan yang amalnya terus mengalir karena ilmu yang ia ajarkan.
d. Guru adalah Pewaris Nabi
الْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
“Ulama (orang berilmu) adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Dawud)
Guru meneruskan misi kenabian: mendidik manusia agar mengenal kebenaran.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebut:
“Hak guru atas murid lebih besar daripada hak orang tua, karena orang tua sebab lahirnya jasad, sedangkan guru sebab hidupnya hati dan akal.”
Ulama Nusantara seperti Syekh Nawawi al-Bantani juga menegaskan bahwa memuliakan guru adalah jalan mendapatkan keberkahan ilmu.
Video tangisan guru honorer itu menjadi suara dari ribuan pendidik lain yang mungkin tak pernah tersorot kamera. Mereka tidak menuntut kemewahan, hanya berharap dihargai secara manusiawi.
Baca juga: Kumpulan Doa untuk Guru Lengkap dengan Terjemahannya
Pemerintah pusat maupun daerah diharapkan merespons polemik ini dengan langkah konkret: penataan status kepegawaian, standar honor yang manusiawi, serta perlindungan sosial bagi guru honorer.
Seperti doa yang ditulis pengunggah video, publik berharap ada keadilan bagi para guru—mereka yang setiap hari menyiapkan masa depan Indonesia di ruang-ruang kelas sederhana.
Dalam perspektif Islam, guru bukan sekadar profesi, tetapi jalan kemuliaan. Al-Qur’an meninggikan derajat orang berilmu, dan hadis menegaskan bahwa guru didoakan seluruh makhluk serta amalnya mengalir sepanjang masa.
Karena itu, memuliakan guru—termasuk memastikan kesejahteraannya—adalah bagian dari ajaran agama dan tanggung jawab moral umat.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang