KOMPAS.com - Bulan Ramadhan selalu hadir sebagai momen spiritual yang paling dinanti umat Islam.
Tidak hanya menjadi penanda dimulainya ibadah puasa, Ramadhan juga dipahami sebagai fase penyucian jiwa, penguatan solidaritas sosial, dan momentum transformasi pribadi.
Dalam perspektif Islam, Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan “musim panen pahala” yang memiliki keutamaan multidimensi, baik teologis, psikologis, maupun sosial.
Para ulama menyebut Ramadhan sebagai sayyidus syuhur atau pemimpin seluruh bulan. Hal ini tidak terlepas dari rangkaian keistimewaan yang tidak ditemukan pada bulan lainnya, mulai dari turunnya Alquran, dilipatgandakannya pahala, hingga dibukanya pintu ampunan secara luas bagi hamba yang bersungguh-sungguh bertobat.
Baca juga: Menyambut Ramadhan 2026, Strategi Agar Ibadah Maksimal dan Tubuh Fit
Keutamaan Ramadhan secara eksplisit ditegaskan dalam Alquran.
Allah SWT berfirman:
Syahru Ramadhānal-ladzī unzila fīhil-Qur’ān hudan lin-nāsi wa bayyinātim minal-hudā wal-furqān.
Artinya: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS Al-Baqarah: 185)
Ayat ini menunjukkan bahwa Ramadhan memiliki posisi strategis dalam sejarah peradaban Islam.
Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah, turunnya Alquran di bulan Ramadhan bukan sekadar peristiwa historis, melainkan simbol dimulainya revolusi spiritual dan moral umat manusia yang berlandaskan wahyu.
Dengan demikian, Ramadhan tidak dapat dipisahkan dari Alquran. Ibadah tilawah, tadabbur, dan penghayatan makna ayat-ayat suci menjadi bagian utama dari atmosfer Ramadhan yang membedakannya dari bulan lain.
Baca juga: Puasa Sya’ban, Latihan Spiritual Jelang Ramadhan: Ini Dalil Hadis dan Anjuran Ulama
Salah satu keutamaan besar Ramadhan adalah terbukanya pintu ampunan. Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR Bukhari dan Muslim)
Syekh Yusuf Al-Qaradawi dalam bukunya Fiqh Ash-Shiyam menjelaskan bahwa puasa Ramadhan berfungsi sebagai mekanisme penyucian jiwa.
Ia tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menata ulang orientasi hidup agar kembali berpusat pada nilai ketakwaan.
Dalam konteks modern yang sarat tekanan sosial dan krisis moral, Ramadhan menjadi ruang refleksi kolektif.
Umat diajak berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia untuk menata ulang hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan diri sendiri.
Puasa Ramadhan secara tidak langsung membentuk karakter spiritual yang kuat. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebut puasa sebagai ibadah yang paling efektif untuk melemahkan dominasi hawa nafsu. Ketika nafsu dikendalikan, hati menjadi lebih mudah menerima cahaya hidayah.
Nilai kesabaran, empati sosial, dan kejujuran tumbuh melalui proses puasa. Lapar yang dirasakan orang berpuasa mengajarkan solidaritas terhadap kaum miskin, sementara pembatasan diri melatih kedisiplinan dan tanggung jawab moral.
Ramadhan dengan demikian bukan hanya ritual individual, tetapi juga instrumen pembentukan etika sosial.
Tidak mengherankan jika di banyak masyarakat Muslim, suasana Ramadhan identik dengan meningkatnya kegiatan sedekah, zakat, dan bantuan kemanusiaan.
Baca juga: Kapan Puasa 2026 Tiba? Jadwal Lengkap Ramadhan hingga Idul Adha
Salah satu puncak keutamaan Ramadhan terletak pada malam Lailatul Qadar.
Allah SWT berfirman:
Lailatul qadri khairum min alfi syahr.
Artinya: “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS Al-Qadr: 3)
Menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya, keutamaan Lailatul Qadar menunjukkan betapa Allah memberikan peluang luar biasa bagi umat Nabi Muhammad SAW untuk meraih pahala dalam waktu yang singkat.
Seribu bulan setara dengan lebih dari 83 tahun, usia yang bahkan melampaui rata-rata umur manusia.
Hal ini memperkuat pandangan bahwa Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah rutin, melainkan “bonus spiritual” yang Allah berikan sebagai bentuk kasih sayang kepada umat Islam.
Di luar dimensi ritual, Ramadhan juga memiliki implikasi sosial yang kuat. Dalam bukunya Asrar Ash-Shiyam, Syekh Ali Ahmad Al-Jurjawi menegaskan bahwa puasa membangun kesadaran kolektif tentang keadilan sosial.
Orang kaya belajar merasakan penderitaan orang miskin, sehingga lahir empati yang mendorong tindakan nyata.
Fenomena meningkatnya zakat fitrah, sedekah Ramadhan, dan program berbagi makanan berbuka puasa mencerminkan peran Ramadhan sebagai katalisator solidaritas sosial.
Dalam konteks bangsa yang menghadapi tantangan kemiskinan dan ketimpangan, nilai Ramadhan menjadi sangat relevan.
Baca juga: Hitung Mundur Puasa 2026: Berapa Hari Lagi Ramadhan? Ini Perkiraannya
Ramadhan sering kali dipersepsi hanya sebagai agenda kalender keagamaan. Padahal, substansi Ramadhan jauh lebih dalam.
Ia adalah proses pembentukan manusia yang lebih sadar, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Tuhan.
Jika Ramadhan dijalani dengan kesungguhan, maka dampaknya tidak berhenti di hari Idul Fitri. Spirit kesabaran, kejujuran, dan kepedulian sosial seharusnya terus hidup dalam sebelas bulan berikutnya.
Di sinilah Ramadhan menunjukkan maknanya yang paling esensial: bukan sekadar menahan lapar, tetapi membangun peradaban yang berakar pada nilai ketakwaan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang