Editor
KOMPAS.com — Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menggandeng Kementerian Pertanian (Kementan) dan Perum Bulog untuk mendorong ekspor beras Indonesia ke Arab Saudi.
Langkah ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah calon haji Indonesia pada musim haji 1447 Hijriah/2026.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU) Kemenhaj, Jaenal Effendi, menegaskan bahwa pemenuhan konsumsi jemaah tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi lintas kementerian dan lembaga.
Baca juga: Lobi 280 Hotel Haji di Arab Saudi Akan Disulap Jadi Gerai Kuliner Indonesia
“Pemenuhan konsumsi jemaah haji tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan sinergi yang kuat dengan kementerian dan lembaga terkait, agar kebijakan yang disusun selaras dan rantai pasok pangan haji dapat diperkuat,” ujar Jaenal di Jakarta, Selasa (27/1/12026).
Menurut Jaenal, pemanfaatan beras produksi dalam negeri kini menjadi prioritas utama untuk memperkuat ekosistem ekonomi haji nasional.
Indonesia dinilai sudah saatnya berhenti bergantung pada pasokan beras dari negara lain seperti Vietnam dan Thailand untuk konsumsi jemaah.
Berdasarkan proyeksi Ditjen PE2HU, kebutuhan beras untuk 205.420 calon dan petugas haj pada musim haji mendatang mencapai sekitar 3.913 ton.
Perhitungan ini didasarkan pada asumsi konsumsi 150 gram per porsi dengan total 127 kali makan selama masa operasional haji.
Dalam kesepakatan bersama tersebut, Perum Bulog akan menghitung total kebutuhan beras dan menyiapkan pasokan sesuai standar kualitas yang ditetapkan, termasuk beras premium dengan tingkat pecahan maksimal lima persen.
Sementara Kementan akan memberikan dukungan dari sisi regulasi guna memperlancar proses ekspor beras ke Arab Saudi.
Jaenal mengakui, tantangan utama selama ini adalah harga beras premium dari negara pesaing yang masih lebih rendah dibandingkan harga beras Indonesia. Karena itu, dibutuhkan dukungan kebijakan agar beras nasional bisa bersaing dan diterima di pasar konsumsi haji.
Ia menilai, kondisi swasembada beras saat ini menjadi momentum emas untuk mulai memanfaatkan produk petani Indonesia secara lebih luas, termasuk untuk kebutuhan jemaah haji.
Direktur Fasilitasi Kemitraan PE2HU Kemenhaj, Tri Hidayatno, menyebut inisiatif ini sebagai bagian dari membangun legasi baru dalam pengelolaan ekonomi haji.
“Melalui sinergi ini, kami menjembatani agar perputaran ekonomi haji yang nilainya sangat besar dapat dirasakan langsung oleh pelaku usaha dan produsen di tanah air,” ujarnya.
Baca juga: 170.000 Jemaah Haji Indonesia Risiko Tinggi, Sebagian Penyakit Komorbid
Dengan perencanaan sejak dini, Ditjen PE2HU optimistis pada musim haji mendatang, jemaah calon haji Indonesia dapat menikmati nasi dari beras hasil panen petani Indonesia sendiri.
Langkah ini sekaligus diharapkan memperkuat ketahanan pangan dan mendorong ekonomi nasional melalui ekosistem haji.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang