Editor
KOMPAS.com-Khutbah Jumat yang dibawakan Dr. KH. Nashirudin Cholid, M.Ag., Ketua Komisi Fatwa MUI Kota Tangerang mengingatkan umat Islam tentang keutamaan bulan Sya’ban sebagai masa persiapan menuju Ramadhan.
Dilansir dari laman MUI, jamaah diajak mensyukuri nikmat iman dan umur dengan memperbanyak amal saleh serta memperbaiki kualitas ibadah.
Melalui ayat Alquran dan hadis Nabi Muhammad SAW, khatib menegaskan bahwa Sya’ban merupakan bulan yang kerap dilalaikan, padahal di dalamnya amalan manusia diangkat kepada Allah SWT. Kesempatan ini menjadi momentum untuk menata diri sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، هُوَ وَلِيُّ التَّوْفِيْقِ وَالهُدَى، خَصَّنَا بِمَوْسِمٍ لِلطَّاعَاتِ مَا أَهَنَّاهُ مَوْرِدًا، مَنِ اسْتَبَقَهُ بَلَغَ مِنْ مَرَاضِيِ الدَّيَّانِ فَرْقَدًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا ِإلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً نَتَبَوَّأُ بِهَا مِنَ الْجِنَانِ مَقْعَدًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَقُدْوَتَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللّٰهِ وَرَسُوْلُهُ خَيْرُ مَنْ صَامَ وَقَامَ فَكَانَ فِي الْفَضْلِ أَوْحَدًا، اَللّٰهُمَّ
.رَبَّنَا فَصَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ بَلَغُوْا مِنْ شَهْرِ التُّقَى مَجْدًا وَسُؤْدَدًا، وَصَحْبِهِ الْكِرَامِ الَّذِيْنَ أَمْضَوْا رَمَضَانَ رُكَّعًا وَسُجَّدًا، وَسَلِّم تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا لَا يَزَالُ عَذْبًا مُرَدَّدًا، مَا رَاحَ فِي الْإِحْسَانِ رَائِحٌ أَوْ غَدَا
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ: أُوْصِيْنِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ. لَقَدْ قَالَ اللّٰه تَعَالٰى (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا) وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِأهْلِهِ)
Marilah kita panjatkan segala puji dan syukur ke hadirat Allah SWT Dzat yang telah menciptakan segala apa yang ada, Dzat yang memelihara kita dan alam semesta, di tangan-Nya segala kebaikan, dan kekuasaan-Nya meliputi segala alam raya.
Marilah kita mensyukuri segala nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita, nikmat sehat, nikmat panjang umur sampai saat ini dan nikmat teragung yang kita miliki, yakni nikmat iman dan islam yang Allah langgengkan dalam diri kita dari dulu, kini, sampai dengan akhir hayat kita nanti. Begitu banyaknya nikmat yang telah, sedang, dan akan terus dianugerahkan kepada manusia sehingga tidak ada seorang pun yang mampu menghitung nikmat-Nya secara benar dan tepat serta teliti.
Allah berfirman dalam surat an-Nahl ayat 18:
وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Baca juga: 5 Rukun Khutbah Jumat yang Wajib Dipenuhi Khatib
Bagian daripada nikmat Allah yang banyak itu adalah bahwa Allah masih memberikan kepada kita kesempatan untuk hidup di bulan Sya’ban yang penuh kebaikan ini, dan doa kita; semoga Allah SWT terus memberikan kesempatan umur panjang yang dipenuhi dengan kebaikan kepada kita untuk sampai di bulan Ramadan yang penuh berkah yang segera akan datang dalam kehidupan kita ini sebagaimana doa kita selama ini:
اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى شَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
“Ya Allah berkahi hidup kami di bulan Sya’ban dan sampaikan usia kami di bulan Ramadhan.”
Bulan Sya’ban di mana kita sekarang berada dan sedang menjalaninya, begitu banyak memiliki fadhilah atau keutamaan bagi orang-orang beriman yang memahami dan mau mengisinya dengan sebaik-baiknya. Namun terkadang kita dan umumnya manusia lengah dan lalai terhadap keutaman yang ada di bulan Sya’ban ini. Padahal Rasulullah SAW memiliki perhatian khusus terhadap bulan Sya’ban ini melebihi perhatian di bulan-bulan lainnya dalam hal beramal sholeh khususnya terkait puasa sunnah. Hal ini sebagaimana yang pernah ditanyakan oleh sahabat Usamah bin Zaid dalam suatu hadis sahih riwayat Imam an-Nasa’i, bahwa Sahabat Usamah mengatakan kepada Rasulullah SAW;
يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُوْمُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُوْرِ مَا تَصُوْمُ مِنْ شَعْبَانَ؟ قَالَ: ذٰلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرفَعُ فِيْهِ الْأَعْمَالُ إِلٰى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِيْ وَأَنَا صَائِمٌ
“Ya Rasulullah, qku tidak melihatmu begitu banyak berpuasa di bulan Sya’ban melebihi bulan bulan lainnya, maka Rasulullah SAW bersabda: ‘Itulah bulan yang banyak dilalaikan oleh manusia, yaitu antara Rajab dan Ramadhan, dan di bulan itulah diangkat amalan-amalan kepada Tuhan semesta alam, maka qku ingin amalan amalanku ini diangkat dan dilaporkan kepada Allah ketika aku sedang berpuasa.” (HR an-Nasa’i)
Dari petikan hadis di atas, ada beberapa poin yang disebutkan yang perlu kita pahami dan renungkan dalam kesempatan kali ini. Kita selayaknya terus berusaha sekuat tenaga dengan tekad kuat untuk mengikuti apa yang dicontohkan dan diamalkan oleh Nabi Muhammad SAW, bahwa berdasarkan sabdanya, di bulan Sya’ban ini akan diangkat dan dilaporkan amalan-amalan tahunan seorang hamba, menyangkut amalan baik maupun amalan buruk. Semuanya tidak luput, apa saja, berupa ketaatan maupun kemaksiatan. Oleh karena itu, usaha memperbanyak amal saleh, terutama puasa di bulan ini, sangatlah dianjurkan untuk dilakukan dan diperbanyak, agar ketika amal itu diangkat dan dilaporkan, yang bersangkutan dalam keadaan terbaiknya, yakni sedang berpuasa atau bisa juga dengan amalan baik lainnya.
Bagaimana cara mengamalkan puasa di bulan Sya’ban ini, maka pelaksanaanya diserahkan kepada masing masing individu muslim yang akan melakukannya berdasarkan kemampuan dan kesempatan yang dimilikinya. Hanya saja tidak dibenarkan jika seseorang berpuasanya sebulan penuh atau semua hari-hari dalam bulan Sya’ban dia berpuasa agar tidak menyamai dengan bulan Ramadhan.
Maka beberapa cara yang bisa dipilih adalah: Pertama, seseorang melakukannya dengan puasa Daud, yakni sehari berpuasa dan sehari berbuka; Kedua, berpuasa di pertengahan bulan Sya’ban atau yang dikenal dengan puasa Ayyamul Bidh, yakni tanggal 13, 14, 15 bulan Sya’ban; Ketiga, dengan berpuasa di hari Senin dan Kamis yang tersedia di bulan ini, atau hari hari lainnya menurut kemauan dan kesempatan yang dimiliki oleh masing-masing individu.
Perlu pula kita ketahui, sebagaimana bersumber dari suatu riwayat hadisyang menunjukkan bahwa bulan Sya’ban ini adalah bulan kecintaan Nabi SAW. Dan hal ini dibuktikan dengan amalan puasa, seperti yang digambarkan dalam hadis berikut ini:
كَانَ أَحَبَّ الشُّهُورِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَصُومَهُ: شَعْبَانُ، ثُمَّ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ
“Bulan yang paling dicintai oleh Rasulullah SAW untuk beliau perbanyak berpuasa di dalamnya adalah bulan Sya‘ban, kemudian beliau menyambung puasanya dengan bulan Ramadan.” (HR Abu Dawud)
Maksud dari menyambungkan puasa bulan Sya’ban dengan Ramadhan adalah berpuasa pada sebagian besar hari-harinya, bukan berpuasa penuh selama satu bulan. Hal ini karena telah terbukti dari Nabi SAW, bahwa beliau tidak pernah menyempurnakan puasa satu bulan penuh selain bulan Ramadhan. Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ
Artinya: “Rasulullah SAW berpuasa hingga kami berkata: beliau tidak berbuka; dan beliau berbuka hingga kami berkata: beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali bulan Ramadan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa dibandingkan di bulan Sya‘ban.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa keutamaan puasa Sya‘ban terletak pada banyaknya hari yang diisi dengan puasa, bukan pada berpuasa sebulan penuh sebagaimana Ramadhan.
Baca juga: Khutbah Jumat 16 Januari 2026 tentang Isra Miraj: Perjalanan Penuh Hikmah dan Perintah Shalat
Sesungguhnya masih banyak amalan kebaikan lain yang dapat kita lakukan di bulan ini selain amalan puasa, yang mana amalan-amalan ini dapat dijadikan sebagai sarana persiapan, baik jasmani maupun ruhani seorang Muslim menjelang tibanya bulan mulia, yakni bulan Ramadhan.
Adapun hal-hal yang layak untuk dilakukan dalam hal persiapan menjelang Ramadhan, di antaranya adalah:
1. Bertaubat atas semua dosa dan memperbanyak dzikir dengan tasbih, tahmid, dan istighfar serta dzikir-dzikir lainnya.
2. Memperbanyak shalat sunnah, seperti rawatib, dhuha dan qiyamullail, dan lainnya.
3. Memperbanyak tilawah Qur’an, bahkan membuat target tilawah yang dicapai di bulan Ramadhan yang akan datang ini, memperbaharui mushaf yang akan kita gunakan untuk tadarus, dan lainnya.
4. Memperbanyak sedekah dan melazimkannya setiap hari meskipun sedikit.
5. Membekali diri dengan ilmu yang berkaitan dengan puasa, agar ibadah puasa kita dilakukan atas ilmu dan dengannya akan beroleh kesempurnaan dalam ibadah puasa, seperti; hukum puasa, seperti rukun, syarat, dan apa-apa yang dapat membatalkan puasa, juga panduan tentang sahur, iftar, fidyah, qadha dan adab-adab di bulan Ramadhan.
6. Menjaga pola tidur, mengatur pola makan, mengurangi kebiasaan buruk, serta menjaga kesehatan agar nanti kuat untuk beribadah.
Jamaah Jumat yang Dimuliakan,
Demikian pesan khatib dalam kesempatan khutbah jumat ini. Dan mudah-mudahan kita termasuk orang yang digambarkan oleh dalam Alquran surat az-Zumar ayat 18, yang berbunyi:
اَلَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ اَحْسَنَهٗ ۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدٰىهُمُ اللّٰهُ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمْ اُولُوا الْاَلْبَابِ
“Orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah ululalbab (orang-orang yang mempunyai akal sehat).”
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَ تَقَبَّلَ مِنِّي وَ مِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَ لَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ وَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
.اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا
.اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
.اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang