Editor
KOMPAS.com - Kabar duka datang dari Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Seorang siswa sekolah dasar berinisial YBS dilaporkan wafat dalam peristiwa akhiri hidup yang diduga berkaitan dengan kesulitan membeli buku dan pena.
Peristiwa ini memantik keprihatinan luas dan seruan evaluasi serius terhadap sistem perlindungan anak serta bantuan pendidikan.
Majelis Ulama Indonesia meminta penanganan lintas kementerian agar kasus serupa tak terulang.
Baca juga: Jangan Meninggalkan Anak dalam Keadaan Lemah, Pesan QS An-Nisa’ di Balik Tragedi Siswa SD di NTT
Ketua Bidang Perempuan, Remaja dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Siti Ma'rifah, menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya YBS di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
Putri Wakil Presiden ke-13 RI itu menilai peristiwa ini sebagai peringatan keras bagi pemerintah dan masyarakat.
“Peristiwa ini harus diselidiki tuntas oleh pihak yang berwenang dan penanganannya harus melibatkan lintas kementerian seperti Kemensos, KemenPPPA, Kemendikdasmen, dan Kemenag,” kata Siti Ma’rifah.
Siti Ma’rifah menekankan pentingnya keterlibatan banyak pihak: kementerian sosial, perlindungan perempuan dan anak, pendidikan dasar dan menengah, serta agama.
Pemerintah pusat dan daerah juga diminta melakukan pendataan akurat dan penyaluran bantuan yang tepat sasaran, terutama untuk mengatasi kemiskinan ekstrem yang berdampak pada akses pendidikan dasar.
Menurutnya, faktor ekonomi, kesehatan mental, serta penguatan pendidikan agama di keluarga menjadi aspek yang perlu ditangani bersama.
MUI mendorong evaluasi menyeluruh terhadap:
Langkah ini dinilai krusial agar tidak ada lagi anak yang merasa putus asa hanya karena kebutuhan sekolah yang sangat mendasar.
Siti Ma’rifah menegaskan peran MUI sebagai khodimul ummah dan shodiqul hukumah untuk terlibat aktif bersama pemerintah dan para pemangku kepentingan dalam membangun sistem perlindungan perempuan, anak, dan keluarga yang lebih terintegrasi.
Ia mengutip pesan Al-Qur’an sebagai pengingat tanggung jawab kolektif menjaga generasi.
QS An-Nisa Ayat 9
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا
Artinya:
“Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan setelah mereka, keturunan yang lemah yang mereka khawatir terhadapnya. Maka bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar.”
Peristiwa ini, menurut MUI, menyayat hati dan harus menjadi alarm bersama bahwa pemenuhan kebutuhan pendidikan dasar anak tidak boleh terhambat oleh kondisi ekonomi keluarga.
Dukungan negara, kepedulian masyarakat, serta ketahanan keluarga menjadi kunci agar anak-anak Indonesia tumbuh sehat secara fisik, mental, spiritual, dan ekonomi.
MUI memastikan siap berkolaborasi dalam pendampingan dan penguatan perlindungan anak agar tragedi serupa tidak kembali terjadi.
Baca juga: Cara Mengajarkan Anak Berpuasa dengan Lembut Tanpa Paksaan
Bunuh diri bisa terjadi di saat seseorang mengalami depresi dan tak ada orang yang membantu. Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri.
Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada. Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling, Anda bisa simak website Into the Light Indonesia di bawah ini:
https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling/
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang