KOMPAS.com - Tak terasa, umat Islam akan segera menyambut Bulan Ramadan, bulan suci yang identik dengan ibadah puasa, pengendalian diri, dan peningkatan kualitas spiritual.
Tahun ini, Ramadan diperkirakan akan dimulai pada Kamis (19/2/2026) menandai dimulainya kembali momen pendidikan ruhani di lingkungan keluarga, termasuk bagi anak-anak.
Puasa bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi juga sarana pembentukan karakter. Karena itu, mengenalkan puasa kepada anak sejak dini perlu dilakukan dengan pendekatan yang lembut, bertahap, dan penuh empati.
Baca juga: Tarhib Ramadhan Adalah Tradisi Sunnah? Ini Penjelasan Lengkapnya
Para ahli pendidikan Islam menekankan bahwa latihan puasa pada anak tidak dimaksudkan untuk membebani, melainkan membangun pengalaman spiritual yang menyenangkan dan bermakna.
Pendekatan yang tepat akan membantu anak memahami puasa sebagai ibadah yang menenangkan, bukan tekanan yang menakutkan. Lalu, bagaimana cara sederhana mengajarkan anak berpuasa tanpa paksaan?
Dalam Islam, puasa memiliki dimensi pendidikan yang kuat. Ia melatih kesabaran, kejujuran, dan pengendalian diri.
Nilai-nilai ini sangat relevan dikenalkan kepada anak, bahkan sebelum mereka memasuki usia wajib berpuasa.
Allah SWT berfirman:
Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyāmu kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan. Pada anak, nilai ini dikenalkan melalui pembiasaan, bukan pemaksaan.
Baca juga: Awal Puasa 2026 Muhammadiyah: Ini Tanggal 1 Ramadhan 1447 H Versi Hisab
Langkah awal mengenalkan puasa pada anak sebaiknya dilakukan secara bertahap. Anak dapat diajak menunda makan dan minum selama beberapa jam sesuai dengan kemampuan fisik dan psikologisnya. Pendekatan ini membantu anak belajar mengelola keinginan tanpa merasa tertekan.
Dalam buku Pendidikan Anak dalam Islam karya Abdullah Nashih Ulwan, dijelaskan bahwa pembiasaan ibadah sejak dini perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan anak agar tidak menimbulkan trauma atau penolakan di kemudian hari.
Keberhasilan kecil, seperti mampu berpuasa hingga waktu Zuhur atau Ashar, patut diapresiasi. Dengan begitu, anak akan merasakan bahwa usaha mereka dihargai.
Cerita menjadi medium efektif untuk menyampaikan nilai-nilai puasa kepada anak. Kisah tentang kesabaran, empati, dan kepedulian sosial akan lebih mudah dipahami daripada penjelasan normatif.
Dalam buku Ilmu pendidikan Islam karya Prof. Zakiah Daradjat, disebutkan bahwa anak usia dini lebih mudah menyerap nilai melalui cerita dan keteladanan dibandingkan instruksi langsung.
Cerita tentang Rasulullah SAW dan para sahabat dalam menjalani puasa dapat disampaikan dengan bahasa sederhana dan penuh kehangatan.
Melalui cerita, anak belajar bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga melatih kepekaan terhadap orang lain.
Baca juga: Contoh Ucapan Ramadhan Sekolah: Hangat, Sopan, dan Penuh Makna untuk Guru dan Siswa
Suasana sahur dan berbuka memiliki peran penting dalam membentuk pengalaman puasa anak. Momen ini dapat dijadikan ruang kebersamaan keluarga yang hangat dan menyenangkan.
Melibatkan anak dalam persiapan sahur atau berbuka, meski hanya hal kecil akan menumbuhkan rasa memiliki terhadap ibadah puasa. Anak belajar bersyukur, menunggu dengan sabar, dan menikmati kebersamaan keluarga.
Pengalaman emosional yang positif ini akan membentuk kenangan baik tentang Ramadan, yang kelak membekas hingga dewasa.
Anak adalah peniru ulung. Keteladanan orang tua dalam menjalani puasa dengan sabar dan penuh ketenangan menjadi pembelajaran paling efektif.
Anak akan mengamati bagaimana orang tua mengelola rasa lapar, emosi, dan perilaku selama berpuasa.
Dalam buku Tarbiyatul Aulad fil Islam karya Abdullah Nashih Ulwan, ditegaskan bahwa keteladanan merupakan metode pendidikan paling kuat dalam Islam. Anak belajar bukan dari apa yang didengar, melainkan dari apa yang dilihat setiap hari.
Ketika orang tua menjaga ucapan, emosi, dan ibadah selama Ramadan, anak akan memahami bahwa puasa juga berkaitan dengan akhlak.
Baca juga: Kapan Libur Awal Puasa Ramadhan 2026 Anak Sekolah? Ini Perkiraan Tanggalnya
Memberikan apresiasi kepada anak yang berlatih puasa penting dilakukan, namun harus proporsional.
Pujian yang tulus, pelukan hangat atau ungkapan bangga jauh lebih bermakna daripada hadiah material.
Apresiasi yang berfokus pada usaha, bukan hasil akan menumbuhkan motivasi internal pada anak.
Anak belajar bahwa nilai puasa terletak pada proses belajar dan kesungguhan, bukan semata-mata capaian penuh. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pendidikan Islam yang menekankan keikhlasan dan niat.
Mengajarkan anak berpuasa bukan tentang mencapai kesempurnaan, melainkan membangun kebiasaan secara bertahap.
Setiap anak memiliki kesiapan yang berbeda, sehingga kesabaran dan konsistensi orang tua menjadi kunci utama.
Dengan pendekatan tanpa paksaan, anak akan merasa dihargai dan dipahami. Puasa pun tumbuh sebagai ibadah yang menenangkan, bukan menakutkan.
Ramadan akhirnya bukan hanya menjadi bulan ibadah bagi orang dewasa, tetapi juga ruang belajar spiritual yang hangat bagi anak-anak, tempat nilai kesabaran, empati, dan ketakwaan ditanamkan sejak dini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang