KOMPAS.com - Tak terasa, bulan suci Ramadan 1447 Hijriah sudah di depan mata. Umat Islam di Indonesia kini memasuki hari-hari terakhir bulan Syaban, masa yang kerap disebut para ulama sebagai “gerbang menuju Ramadan”. Pertanyaannya, puasa 2026 tinggal berapa hari lagi?
Berdasarkan kalender Masehi, hari ini Sabtu, 7 Februari 2026. Jika merujuk pada prediksi pemerintah yang akan menggelar sidang isbat pada 17 Februari 2026, maka awal puasa diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Artinya, waktu menuju Ramadan tersisa sekitar 12 hari lagi.
Sementara itu, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan 1 Ramadan 1447 H pada Rabu, 18 Februari 2026 berdasarkan metode hisab hakiki dengan kriteria Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Dengan hitungan tersebut, puasa tinggal 11 hari lagi.
Baca juga: Ramadhan 1447 H Bertepatan Musim Dingin, Puasa di Arab Saudi Diprediksi Lebih Singkat
Adapun Nahdlatul Ulama (NU) belum menetapkan tanggal resmi karena masih menunggu hasil rukyatul hilal menjelang akhir Syaban menggunakan metode hisab Imkanur Rukyah Nahdlatul Ulama (IRNU).
Meski terdapat perbedaan metode, semangat menyambut Ramadan tetap sama: mempersiapkan diri lahir dan batin.
Penetapan awal Ramadan di Indonesia dilakukan melalui sidang isbat yang melibatkan Kementerian Agama, ormas Islam, ahli astronomi, dan perwakilan lembaga terkait.
Pemerintah memadukan dua pendekatan, yakni hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal).
Dalam buku Ilmu Falak: Teori dan Praktik karya Susiknan Azhari dijelaskan bahwa hisab memberikan kepastian secara matematis, sedangkan rukyat menghadirkan dimensi empirik melalui observasi langsung. Keduanya menjadi bagian dari dinamika fiqh penetapan kalender Hijriah di Indonesia.
Perbedaan metode bukanlah hal baru dalam tradisi Islam. Rasulullah SAW bersabda:
Shumu li ru’yatihi wa afthiru li ru’yatihi.
“Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi dasar praktik rukyatul hilal yang masih digunakan hingga kini.
Baca juga: Daftar 96 Lokasi Pemantauan Hilal Awal Ramadhan 1447 H di Indonesia
Jika mengikuti prediksi pemerintah dan Muhammadiyah yang sama-sama mengarah pada 18 Februari 2026, maka umat Islam memiliki waktu kurang dari dua pekan untuk mempersiapkan diri.
Momentum menjelang Ramadan bukan sekadar hitungan kalender, melainkan fase transisi spiritual. Syaban ibarat masa pemanasan sebelum memasuki bulan latihan intensif bernama Ramadan.
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab Lathaif al-Ma’arif menjelaskan bahwa bulan Syaban adalah waktu terbaik untuk memperbaiki kualitas ibadah sebagai persiapan menuju Ramadan. Para sahabat dan ulama salaf memperbanyak amal sebelum memasuki bulan suci.
Bagi yang masih memiliki qadha puasa Ramadan sebelumnya, bulan Syaban adalah batas waktu terbaik untuk menunaikannya.
Aisyah RA berkata:
Kana yakunu ‘alayya ash-shaum min Ramadhan, fama astathi’u an aqdhiyahu illa fi Sya’ban.
“Aku memiliki utang puasa Ramadan dan tidak mampu mengqadhanya kecuali di bulan Syaban.” (HR Bukhari)
Hadis ini menunjukkan pentingnya menyegerakan kewajiban sebelum datang Ramadan berikutnya.
Rasulullah SAW dikenal banyak berpuasa di bulan Syaban. Dari Aisyah RA:
Wa ma ra’aytuhu aktsara shiyaman minhu fi Sya’ban.
“Aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa selain di bulan Syaban.” (HR Bukhari dan Muslim)
Puasa sunnah menjadi latihan fisik sekaligus mental agar tidak “kaget” saat memasuki Ramadan.
Dalam buku Fiqh Puasa karya Yusuf Al-Qaradawi dijelaskan bahwa puasa sunnah di Syaban memiliki dimensi tarbiyah (pendidikan spiritual) yang mempersiapkan jiwa menuju ketakwaan.
Baca juga: Awal Ramadhan 1447 H Berpotensi Berbeda, Ini Penjelasan Pakar BRIN
Ramadan dikenal sebagai syahrul Qur’an (bulan Al-Qur’an). Allah SWT berfirman:
Syahru Ramadhana alladzi unzila fihil Qur’an.
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (QS Al-Baqarah: 185)
Membiasakan membaca Al-Qur’an sejak Syaban membantu menjaga konsistensi saat Ramadan tiba.
Tradisi ini telah dilakukan para ulama terdahulu yang mulai memperbanyak tilawah jauh sebelum hilal Ramadan terlihat.
Ibadah tanpa ilmu berpotensi keliru. Karena itu, penting mempelajari kembali hukum, rukun, syarat sah, hingga hal-hal yang membatalkan puasa.
Dalam Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa memahami tata cara puasa secara benar adalah bagian dari kesempurnaan ibadah.
Ramadan bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga lisan, pandangan, dan hati.
Para ulama salaf disebut berdoa selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadan, lalu enam bulan berikutnya memohon agar amal mereka diterima.
Allah SWT berfirman:
Ud’uni astajib lakum.
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan.” (QS Ghafir: 60)
Tidak ada doa khusus yang secara sahih diajarkan Rasulullah SAW menjelang Ramadan, namun berdoa secara umum agar diberi umur panjang dan kesehatan untuk beribadah sangat dianjurkan.
Rukyatul hilal menjadi simbol dimulainya bulan baru dalam kalender Hijriah. Dalam konteks modern, pengamatan dilakukan dengan dukungan teknologi astronomi.
Menurut buku Hisab dan Rukyat karya T. Djamaluddin, integrasi sains dan syariat menunjukkan bahwa Islam tidak memisahkan ilmu pengetahuan dari praktik ibadah.
Baca juga: Daftar 96 Lokasi Pemantauan Hilal Awal Ramadhan 1447 H di Indonesia
Hitung mundur menuju Ramadan seharusnya tidak hanya diisi dengan persiapan menu sahur atau jadwal buka puasa bersama. Ramadan adalah momentum pembentukan takwa, sebagaimana firman Allah:
Ya ayyuhalladzina amanu kutiba ‘alaikumus shiyam kama kutiba ‘alalladzina min qablikum la’allakum tattaqun.
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183)
Kurang dari dua pekan lagi, Ramadan akan mengetuk pintu. Pertanyaannya bukan lagi sekadar “puasa berapa hari lagi”, melainkan “sudah sejauh mana persiapan kita?”.
Ramadan selalu datang tepat waktu. Namun belum tentu kita selalu diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengannya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang