Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menyambut Ramadhan dengan Hati Bersih, Mengapa Memaafkan Jadi Kunci

Kompas.com, 6 Februari 2026, 21:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Ramadhan selalu datang membawa harapan. Harapan akan ampunan, ketenangan batin, dan kesempatan memulai ulang perjalanan spiritual.

Namun sebelum menata jadwal sahur, tarawih, dan tilawah, Islam mengajarkan satu persiapan yang sering luput disadari, yaitu membersihkan hati dari dendam dan luka batin melalui sikap saling memaafkan.

Memaafkan memang mudah diucapkan, tetapi tidak selalu mudah dijalani. Ada luka yang tertinggal, kata-kata yang membekas, dan perasaan tidak adil yang sulit dilupakan.

Meski demikian, Islam menempatkan memaafkan sebagai kunci pembuka rahmat Allah, terlebih ketika seorang Muslim hendak memasuki bulan suci Ramadhan.

Baca juga: Ramadhan 1447 H Bertepatan Musim Dingin, Puasa di Arab Saudi Diprediksi Lebih Singkat

Ramadhan dan Pembersihan Jiwa

Dalam Islam, Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum tazkiyatun nafs, penyucian jiwa.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa puasa sejatinya bertujuan melemahkan dominasi hawa nafsu dan membersihkan hati dari penyakit batin seperti marah, dengki, dan dendam.

Tanpa hati yang bersih, ibadah lahiriah berpotensi kehilangan ruhnya. Inilah sebabnya mengapa ulama menekankan pentingnya menyelesaikan urusan batin, termasuk memaafkan sebelum Ramadhan tiba.

Baca juga: Tazkiyatun Nafs: Menyucikan Diri Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Perintah Allah untuk Menjadi Pemaaf

Sikap pemaaf bukan sekadar anjuran moral, melainkan perintah langsung dari Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ

Khudzil ‘afwa wa’mur bil ‘urfi wa a‘ridh ‘anil jāhilīn

Artinya: “Jadilah pemaaf, perintahkanlah kepada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)

Ayat ini, menurut Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Tafsir Marah Labid jilid 1, tidak hanya berbicara tentang akhlak personal, tetapi juga membangun ketahanan sosial umat Islam.

Memaafkan yang Aktif, Bukan Pasif

Syekh Nawawi Al-Bantani mengutip riwayat dari sahabat Ikrimah tentang dialog Nabi Muhammad SAW dengan Malaikat Jibril ketika ayat tersebut turun.

Jibril menjelaskan bahwa makna “menjadi pemaaf” mencakup tiga tindakan besar: menyambung hubungan dengan yang memutuskan, memberi kepada yang enggan memberi, dan memaafkan orang yang menzalimi.

Makna ini menunjukkan bahwa memaafkan dalam Islam bukan sikap pasif atau menyerah, melainkan tindakan aktif yang menuntut kekuatan jiwa dan kedewasaan spiritual.

Dalam Tafsir Al-Qurthubi, dijelaskan bahwa berpaling dari orang-orang bodoh bukan berarti membenarkan kezaliman, melainkan menolak larut dalam lingkaran kebencian yang justru merusak diri sendiri.

Baca juga: Awal Ramadhan 1447 H Berpotensi Berbeda, Ini Penjelasan Pakar BRIN

Teladan Rasulullah SAW dalam Memaafkan

Sejarah hidup Nabi Muhammad SAW dipenuhi dengan contoh nyata sikap pemaaf. Dalam peristiwa Fathu Makkah, ketika Rasulullah memiliki kuasa penuh untuk membalas orang-orang yang dahulu menyiksa dan mengusirnya, beliau justru berkata, “Pergilah kalian, kalian bebas.”

Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menilai peristiwa ini sebagai puncak kemuliaan akhlak Nabi, sekaligus bukti bahwa memaafkan adalah jalan menuju kemenangan sejati.

Rasulullah SAW juga bersabda:

وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا

Wa mā zādallāhu ‘abdan bi ‘afwin illā ‘izzā

Artinya: “Tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa memaafkan bukan tanda kelemahan, melainkan sumber kemuliaan di sisi Allah dan manusia.

Memaafkan dan Kesehatan Jiwa

Dalam perspektif kontemporer, sikap memaafkan juga berdampak langsung pada kesehatan mental.

M. Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan Al-Qur’an menjelaskan bahwa Al-Qur’an sangat memperhatikan kesehatan batin manusia.

Dendam yang dipelihara akan menggerogoti ketenangan jiwa dan menghalangi seseorang menikmati keindahan ibadah.

Dengan memaafkan, seseorang sejatinya sedang membebaskan dirinya sendiri dari beban emosi negatif yang melelahkan.

Baca juga: Khutbah Jumat 6 Februari 2026: Menyambut Ramadhan dengan Memaknai Keutamaan Bulan Syaban

Persiapan Ramadhan yang Sering Terlupakan

Banyak orang sibuk menyiapkan fisik dan logistik menjelang Ramadhan, tetapi lupa menata hati.

Padahal, ulama klasik seperti Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Lathaif Al-Ma’arif menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan ketika pintu-pintu langit dibuka dan hati yang bersih lebih mudah menerima limpahan rahmat Allah.

Memaafkan sebelum Ramadhan bukan berarti menghapus keadilan, tetapi menata ulang posisi hati agar ibadah dijalani dengan ringan dan penuh keikhlasan.

Membuka Lembaran Baru

Pada akhirnya, memaafkan memang tidak selalu mudah. Namun Ramadhan hadir sebagai undangan Ilahi untuk naik ke tingkat akhlak yang lebih tinggi.

Dengan saling memaafkan, kita tidak hanya menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih, tetapi juga memberi ruang bagi cahaya ketenangan dan keberkahan untuk tumbuh.

Barangkali inilah makna terdalam dari persiapan Ramadhan, bukan sekadar menunggu hilal di langit, tetapi memastikan hati kita layak menerima cahaya bulan suci itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Wamenag Minta Perketat Perlindungan Anak di Madrasah, bangun Budaya Berani Melapor
Wamenag Minta Perketat Perlindungan Anak di Madrasah, bangun Budaya Berani Melapor
Aktual
Muhammadiyah Maknai Jihad Masa Kini dengan Membangun Bangsa, Bukan Kekerasan
Muhammadiyah Maknai Jihad Masa Kini dengan Membangun Bangsa, Bukan Kekerasan
Aktual
Ma'ruf Amin Dorong NU Perkuat Umat dan Kemandirian Ekonomi
Ma'ruf Amin Dorong NU Perkuat Umat dan Kemandirian Ekonomi
Aktual
Buka Muktamar Tapak Suci XIV, Ahmad Luthfi Soroti Peran Pencak Silat dalam Membangun Karakter dan Persatuan
Buka Muktamar Tapak Suci XIV, Ahmad Luthfi Soroti Peran Pencak Silat dalam Membangun Karakter dan Persatuan
Aktual
Ahmad Muzani: Qanun Asasi NU Jadi Landasan Menjaga Keutuhan NKRI
Ahmad Muzani: Qanun Asasi NU Jadi Landasan Menjaga Keutuhan NKRI
Aktual
Muhammad Barie Irsyad, Sosok Pendekar Pendiri Tapak Suci Putera Muhammadiyah
Muhammad Barie Irsyad, Sosok Pendekar Pendiri Tapak Suci Putera Muhammadiyah
Aktual
Sejarah Tapak Suci, Organisasi Pencak Silat Muhammadiyah
Sejarah Tapak Suci, Organisasi Pencak Silat Muhammadiyah
Aktual
Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah Resmi Tetapkan 13 Formatur PPNA 2026-2030
Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah Resmi Tetapkan 13 Formatur PPNA 2026-2030
Aktual
Doa I'tidal: Arab, Latin, Arti, Gerakan, dan Bacaan Sesuai Sunnah
Doa I'tidal: Arab, Latin, Arti, Gerakan, dan Bacaan Sesuai Sunnah
Doa Harian
Resmi! Kemenag Bentuk Ditjen Pesantren, Ini Susunan Organisasinya
Resmi! Kemenag Bentuk Ditjen Pesantren, Ini Susunan Organisasinya
Aktual
MUI Ingatkan 3 Hal soal Agustusan: Mulai Kostum Pria hingga Hadiah Lomba
MUI Ingatkan 3 Hal soal Agustusan: Mulai Kostum Pria hingga Hadiah Lomba
Aktual
Cara Menunaikan Shalat Fardhu saat Darurat Bencana Gempa, Ada Keringanan
Cara Menunaikan Shalat Fardhu saat Darurat Bencana Gempa, Ada Keringanan
Aktual
Kapan Shalat Jamak Qashar Bisa Dilakukan? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Kapan Shalat Jamak Qashar Bisa Dilakukan? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Aktual
Jarak Bepergian untuk Jamak Qashar Berapa Km? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Jarak Bepergian untuk Jamak Qashar Berapa Km? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Aktual
Sholat Jamak Takhir Maghrib dan Isya di Waktu Isya: Niat dan Tata Caranya
Sholat Jamak Takhir Maghrib dan Isya di Waktu Isya: Niat dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar