Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penyakit Ain dalam Islam: Pengertian, Dalil, Ciri-Ciri, hingga Cara Mencegah dan Mengobatinya

Kompas.com, 12 Februari 2026, 17:56 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Penyakit ain dalam ajaran Islam diyakini sebagai gangguan yang muncul akibat pandangan mata yang disertai hasad atau rasa iri.

Fenomena ini disebut dalam berbagai hadis Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dan menjadi perhatian ulama dalam pembahasan ruqyah syar’i.

Ain dapat terjadi kapan saja dan kepada siapa saja, baik melalui pandangan langsung maupun melalui cerita yang membangkitkan rasa dengki.

Meski tidak dikenal dalam dunia medis, ain dipercaya memiliki dampak nyata bagi orang yang terkena.

Secara umum, penyakit ain dipahami sebagai pengaruh negatif dari pandangan yang disertai kekaguman berlebihan, iri, atau dengki terhadap nikmat orang lain.

Pandangan tersebut kemudian menjadi celah bagi setan untuk menimbulkan mudarat kepada orang yang dipandang.

Baca juga: Mengenal Penyakit ‘Ain dan Cara Mengobati atau Mencegahnya

Pengertian Penyakit Ain Menurut Ulama

Dilansir dari Kompas.TV, Penyakit ain dapat berasal dari orang yang jahat maupun orang baik, baik dilakukan secara sengaja ataupun tanpa disadari. Al Lajnah Ad Daimah menjelaskan:

"Ain dari kata 'aana - ya'iinu yang artinya: terkena sesuatu hal dari mata. Asalnya dari kekaguman orang yang melihat sesuatu, lalu diikuti oleh respon jiwa yang negatif, lalu jiwa tersebut menggunakan media pandangan mata untuk menyalurkan racunnya kepada yang dipandang tersebut". (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah, 1/271).

Penyebab utama ain adalah sifat hasad atau iri terhadap nikmat orang lain. Karena itu, Allah memerintahkan umat Muslim untuk berlindung dari kejahatan orang yang dengki, sebagaimana dalam Al-Quran surat Al Falaq ayat 5:

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَࣖ

Arab latin: Wa min syarri sidin i asad

Artinya: dan (berlindung) dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.

Imam Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad menyebutkan bahwa ain tidak selalu harus melalui pandangan langsung. Jiwa seseorang dapat menimbulkan ain meskipun hanya melalui cerita yang membangkitkan rasa dengki.

Hadits tentang Penyakit Ain

Penyakit Ain juga disebutkan dalam sebuah hadits, di mana Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Ain itu benar-benar ada! Andaikan ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, sungguh ‘ain itu yang bisa” (HR. Muslim no. 2188).

Dalam hadis lain dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Sebab paling banyak yang menyebabkan kematian pada umatku setelah takdir Allah adalah ain” (HR. Al Bazzar dalam Kasyful Astar [3/ 404], dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no.1206).

Hadis-hadis tersebut menunjukkan bahwa ain diakui dalam ajaran Islam sebagai sesuatu yang nyata.

Ciri-Ciri Penyakit Ain

Meski tidak dikenal dalam dunia medis, terdapat sejumlah ciri yang disebutkan dalam literatur ruqyah.

Dilansir dari Antara, berdasarkan penjelasan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz As-Sadhan hafidzahullahu Ta’ala, jika bukan karena penyakit jasmani, maka umumnya gejalanya berupa:

  1. Sakit kepala berpindah-pindah
  2. Wajah pucat
  3. Sering berkeringat dan buang air kecil
  4. Nafsu makan menurun
  5. Mati rasa atau sensasi panas dan dingin pada anggota tubuh
  6. Detak jantung cepat dan tidak beraturan
  7. Nyeri berpindah di punggung dan bahu
  8. Perasaan sedih dan sesak di dada
  9. Berkeringat pada malam hari
  10. Emosi berlebihan dan ketakutan tanpa sebab
  11. Sering menguap, bersendawa, atau terengah-engah
  12. Cenderung menyendiri
  13. Malas bergerak dan banyak tidur
  14. Gangguan kesehatan tanpa sebab medis yang jelas

Ciri tersebut dapat muncul sebagian atau seluruhnya, tergantung pada kuatnya ain. (Ar-Ruqyah Syar’iyyah, hal. 10).

Cara Mencegah Penyakit Ain

Salah satu cara mencegah dengan cara berdoa kebaikan sesama manusia dan juga meminta keselamatan serta perlindungan dari Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda:

“Jika seorang dari kalian melihat pada diri saudaranya sesuatu hal yang menakjubkan, maka doakanlah keberkahan baginya, karena ain itu benar adanya.” (QS. An Nasa-i No.10872 dishahihkan Al Albani dalam Shahih An-Nasa-i).

Sehingga, ketika merasa kagum atau takjub dengan sesuatu atau hal yang dimiliki orang lain maka ucapkanlah kalimat thayyibah, seperti “ maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah”.

Hal ini sesuai Surah Al-Kahfi ayat 39, di mana Allah berfirman agar seorang hamba senantiasa melafalkan kalimat Masya Allah sebagai tanda kagum dibarengi rasa syukur atas anugerah dan kebaikan Allah kepadanya.

وَلَوْلَآ اِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۙ لَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ ۚاِنْ تَرَنِ اَنَا۠ اَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَّوَلَدًاۚ

Arab Latin: Walau lā iż dakhalta jannataka qulta mā syā'allāhu lā quwwata illā billāh, in tarani ana aqalla mingka mālaw wa waladā.

Artinya: "Mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan, "Mā syā'allāh, lā quwwata illā billāh" (sungguh, ini semua kehendak Allah. Tidak ada kekuatan apa pun kecuali dengan [pertolongan] Allah). Jika engkau anggap harta dan keturunanku lebih sedikit daripadamu." (Q.S Al-Kahfi ayat 39).

Selain itu, diriwayatkan Ibnu Abbas, ada pula doa terhindar dari ain ini pernah dipanjatkan oleh Nabi Muhammad saw ketika memohon perlindungan bagi cucunya Hasan dan Husain dari penyakit ain.

أُعِيْذُكَ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

Arab-latin: U'iidzuka bikalimatillahit taammati min kulli syaithaanin wa haammatin wa min kulli 'ainin laammatin.

Artinya: "Aku memohon perlindungan kepada Allah untuk kamu dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari semua setan dan binatang yang berbahaya serta dari ain yang mencela." (HR Bukhari)

Doa untuk Mengobati Penyakit Ain

Dalam riwayat disebutkan bahwa Malaikat Jibril meruqyah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan doa:

باسْمِ اللهِ يُبْرِيكَ، وَمِنْ كُلِّ دَاءٍ يَشْفِيكَ، وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إذَا حَسَدَ، وَشَرِّ كُلِّ ذِي عَيْنٍ

Arab Latin: Bismillahi yubriik, wa min kulli daa-in yasyfiik, wa min syarri haasidin idza hasad, wa syarri kulli dzii ‘ainin

Artinya: Dengan nama Allah yang menyembuhkanmu. Ia menyembuhkanmu dari segala penyakit dan dari keburukan orang yang hasad dan keburukan orang yang menyebabkan ain. (HR. Muslim no.2185)

Doa lainnya:

بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ اَللَّهُ يَشْفِيْكَ بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيْكَ – رَوَاهُ مُسلِمٌ

Artinya: Dengan nama Allah, aku membacakan ruqyah bagimu dari segala yang menyakitimu, dari kejahatan setiap jiwa, atau mata yang dengki. Allah akan menyembuhkanmu. Dengan nama Allah, aku membacakan ruqyah untukmu. (HR. Muslim no 2186).

Ruqyah dilanjutkan dengan membaca Surat Al-Fatihah, Ayat Kursi, ayat-ayat terakhir Surat Al-Baqarah, Surat Al-Ikhlas, Surat Al-Falaq, dan Surat An-Naas.

Cara Menyembuhkan Penyakit Ain

Selain dengan ikhtiar memperbanyak doa dan dzikir memohon pertolongan Allah SWT. Selain itu, mengusahakan diri untuk melakukan beberapa hal, diantaranya:

Berikut adalah beberapa cara untuk menyembuhkan penyakit ain sesuai syariat.

1. Ruqyah Syar’i

Jika penyebab ain tidak diketahui, maka dilakukan ruqyah dengan membaca Al-Quran dan doa-doa perlindungan.

Doa sebagaimana riwayat dari Aisyah radhiallahu’anha digunakan saat Nabi SAW sakit.

2. Mandi

Jika diketahui siapa yang menyebabkan ain, maka mintalah orang tersebut diminta mandi.

Air bekas mandi itu kemudian disiramkan ke tubuh bagian belakang orang yang terkena ain.

Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

العين حق ولو كان شيء سابق القدر لسبقته العين ، وإذا استغسلتم فاغسلوا

“‘Ain itu benar adanya. Andaikan ada perkara yang bisa mendahului takdir, maka itulah ‘ain. Maka jika kalian mandi, gunakanlah air mandinya itu (untuk memandikan orang yang terkena ‘ain)” (HR. Muslim no. 2188).

Penyakit ain dalam Islam diyakini bukanlah penyakit medis, melainkan gangguan yang bersumber dari hasad dan pandangan mata yang tidak disertai dzikir kepada Allah.

Meski tidak termasuk istilah medis, ain disebut dalam hadis dan literatur ulama sebagai sesuatu yang nyata.

Pencegahan dan pengobatan dilakukan dengan memperbanyak doa, dzikir, tawakal, serta ruqyah syar’i.

Umat Muslim juga dianjurkan untuk selalu memohon perlindungan kepada Allah SWT dari kejahatan orang yang dengki dan dari segala bentuk keburukan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Kue Lebaran 2026 Apa Saja? Ini Daftar Suguhan Wajib dan Ide Unik yang Lagi Tren
Kue Lebaran 2026 Apa Saja? Ini Daftar Suguhan Wajib dan Ide Unik yang Lagi Tren
Aktual
30 Prompt Gemini AI untuk Membuat Kartu Ucapan Selamat Ramadhan 1447 H/2026
30 Prompt Gemini AI untuk Membuat Kartu Ucapan Selamat Ramadhan 1447 H/2026
Aktual
Jadwal Penukaran Uang Baru Lebaran 2026 Lengkap dengan Link, Cara Daftar, dan Jumlah Maksimal Pecahannya
Jadwal Penukaran Uang Baru Lebaran 2026 Lengkap dengan Link, Cara Daftar, dan Jumlah Maksimal Pecahannya
Aktual
BI Buka Penukaran Uang Baru Lebaran 2026 Mulai 13 Februari, Cek Jadwal dan Cara Pesan di PINTAR
BI Buka Penukaran Uang Baru Lebaran 2026 Mulai 13 Februari, Cek Jadwal dan Cara Pesan di PINTAR
Aktual
Razia Ramadhan di Dubai, Pengemis Kedapatan Punya 3 Mobil Mewah
Razia Ramadhan di Dubai, Pengemis Kedapatan Punya 3 Mobil Mewah
Aktual
50 Ucapan Selamat Ramadhan 1447 H/2026 Penuh Doa dan Harapan untuk Dibagikan di Media Sosial
50 Ucapan Selamat Ramadhan 1447 H/2026 Penuh Doa dan Harapan untuk Dibagikan di Media Sosial
Aktual
MUI Minta Langkah di Board of Peace Tidak Menyimpang dari Prinsip
MUI Minta Langkah di Board of Peace Tidak Menyimpang dari Prinsip
Aktual
Ucapan Marhaban Ya Ramadhan: Tulisan Arab, Latin, Arti, Hukum dan Contoh Penggunaanya
Ucapan Marhaban Ya Ramadhan: Tulisan Arab, Latin, Arti, Hukum dan Contoh Penggunaanya
Aktual
Mudik Gratis Klaten 2026 Dibuka, Warga Jabodetabek Bisa Pulang Kampung Tanpa Biaya
Mudik Gratis Klaten 2026 Dibuka, Warga Jabodetabek Bisa Pulang Kampung Tanpa Biaya
Aktual
Rapat Perdana BoP, MUI Ingatkan BoP Harus Jamin Kemerdekaan Palestina
Rapat Perdana BoP, MUI Ingatkan BoP Harus Jamin Kemerdekaan Palestina
Aktual
Penyakit Ain dalam Islam: Pengertian, Dalil, Ciri-Ciri, hingga Cara Mencegah dan Mengobatinya
Penyakit Ain dalam Islam: Pengertian, Dalil, Ciri-Ciri, hingga Cara Mencegah dan Mengobatinya
Aktual
Tak Sekadar Toleransi, Maluku Cetak Duta Perdamaian dari Ruang Kelas
Tak Sekadar Toleransi, Maluku Cetak Duta Perdamaian dari Ruang Kelas
Aktual
Surat Yasin: Jumlah Ayat, Riwayat, Keutamaan, dan Tradisi Yasinan
Surat Yasin: Jumlah Ayat, Riwayat, Keutamaan, dan Tradisi Yasinan
Aktual
MUI: Rencana Gedung Umat untuk Perkuat Pengelolaan Zakat dan Wakaf
MUI: Rencana Gedung Umat untuk Perkuat Pengelolaan Zakat dan Wakaf
Aktual
Pesantren di Abad Kedua NU: Berani Berubah atau Tetap di Pinggiran Kekuasaan?
Pesantren di Abad Kedua NU: Berani Berubah atau Tetap di Pinggiran Kekuasaan?
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com