Editor
KOMPAS.com - Penyakit ain dalam ajaran Islam diyakini sebagai gangguan yang muncul akibat pandangan mata yang disertai hasad atau rasa iri.
Fenomena ini disebut dalam berbagai hadis Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dan menjadi perhatian ulama dalam pembahasan ruqyah syar’i.
Ain dapat terjadi kapan saja dan kepada siapa saja, baik melalui pandangan langsung maupun melalui cerita yang membangkitkan rasa dengki.
Meski tidak dikenal dalam dunia medis, ain dipercaya memiliki dampak nyata bagi orang yang terkena.
Secara umum, penyakit ain dipahami sebagai pengaruh negatif dari pandangan yang disertai kekaguman berlebihan, iri, atau dengki terhadap nikmat orang lain.
Pandangan tersebut kemudian menjadi celah bagi setan untuk menimbulkan mudarat kepada orang yang dipandang.
Baca juga: Mengenal Penyakit ‘Ain dan Cara Mengobati atau Mencegahnya
Dilansir dari Kompas.TV, Penyakit ain dapat berasal dari orang yang jahat maupun orang baik, baik dilakukan secara sengaja ataupun tanpa disadari. Al Lajnah Ad Daimah menjelaskan:
"Ain dari kata 'aana - ya'iinu yang artinya: terkena sesuatu hal dari mata. Asalnya dari kekaguman orang yang melihat sesuatu, lalu diikuti oleh respon jiwa yang negatif, lalu jiwa tersebut menggunakan media pandangan mata untuk menyalurkan racunnya kepada yang dipandang tersebut". (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah, 1/271).
Penyebab utama ain adalah sifat hasad atau iri terhadap nikmat orang lain. Karena itu, Allah memerintahkan umat Muslim untuk berlindung dari kejahatan orang yang dengki, sebagaimana dalam Al-Quran surat Al Falaq ayat 5:
وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَࣖ
Arab latin: Wa min syarri sidin i asad
Artinya: dan (berlindung) dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.
Imam Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad menyebutkan bahwa ain tidak selalu harus melalui pandangan langsung. Jiwa seseorang dapat menimbulkan ain meskipun hanya melalui cerita yang membangkitkan rasa dengki.
Penyakit Ain juga disebutkan dalam sebuah hadits, di mana Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Ain itu benar-benar ada! Andaikan ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, sungguh ‘ain itu yang bisa” (HR. Muslim no. 2188).
Dalam hadis lain dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Sebab paling banyak yang menyebabkan kematian pada umatku setelah takdir Allah adalah ain” (HR. Al Bazzar dalam Kasyful Astar [3/ 404], dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no.1206).
Hadis-hadis tersebut menunjukkan bahwa ain diakui dalam ajaran Islam sebagai sesuatu yang nyata.
Meski tidak dikenal dalam dunia medis, terdapat sejumlah ciri yang disebutkan dalam literatur ruqyah.
Dilansir dari Antara, berdasarkan penjelasan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz As-Sadhan hafidzahullahu Ta’ala, jika bukan karena penyakit jasmani, maka umumnya gejalanya berupa:
Ciri tersebut dapat muncul sebagian atau seluruhnya, tergantung pada kuatnya ain. (Ar-Ruqyah Syar’iyyah, hal. 10).
Salah satu cara mencegah dengan cara berdoa kebaikan sesama manusia dan juga meminta keselamatan serta perlindungan dari Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
“Jika seorang dari kalian melihat pada diri saudaranya sesuatu hal yang menakjubkan, maka doakanlah keberkahan baginya, karena ain itu benar adanya.” (QS. An Nasa-i No.10872 dishahihkan Al Albani dalam Shahih An-Nasa-i).
Sehingga, ketika merasa kagum atau takjub dengan sesuatu atau hal yang dimiliki orang lain maka ucapkanlah kalimat thayyibah, seperti “ maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah”.
Hal ini sesuai Surah Al-Kahfi ayat 39, di mana Allah berfirman agar seorang hamba senantiasa melafalkan kalimat Masya Allah sebagai tanda kagum dibarengi rasa syukur atas anugerah dan kebaikan Allah kepadanya.
وَلَوْلَآ اِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۙ لَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ ۚاِنْ تَرَنِ اَنَا۠ اَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَّوَلَدًاۚ
Arab Latin: Walau lā iż dakhalta jannataka qulta mā syā'allāhu lā quwwata illā billāh, in tarani ana aqalla mingka mālaw wa waladā.
Artinya: "Mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan, "Mā syā'allāh, lā quwwata illā billāh" (sungguh, ini semua kehendak Allah. Tidak ada kekuatan apa pun kecuali dengan [pertolongan] Allah). Jika engkau anggap harta dan keturunanku lebih sedikit daripadamu." (Q.S Al-Kahfi ayat 39).
Selain itu, diriwayatkan Ibnu Abbas, ada pula doa terhindar dari ain ini pernah dipanjatkan oleh Nabi Muhammad saw ketika memohon perlindungan bagi cucunya Hasan dan Husain dari penyakit ain.
أُعِيْذُكَ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ
Arab-latin: U'iidzuka bikalimatillahit taammati min kulli syaithaanin wa haammatin wa min kulli 'ainin laammatin.
Artinya: "Aku memohon perlindungan kepada Allah untuk kamu dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari semua setan dan binatang yang berbahaya serta dari ain yang mencela." (HR Bukhari)
Dalam riwayat disebutkan bahwa Malaikat Jibril meruqyah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan doa:
باسْمِ اللهِ يُبْرِيكَ، وَمِنْ كُلِّ دَاءٍ يَشْفِيكَ، وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إذَا حَسَدَ، وَشَرِّ كُلِّ ذِي عَيْنٍ
Arab Latin: Bismillahi yubriik, wa min kulli daa-in yasyfiik, wa min syarri haasidin idza hasad, wa syarri kulli dzii ‘ainin
Artinya: Dengan nama Allah yang menyembuhkanmu. Ia menyembuhkanmu dari segala penyakit dan dari keburukan orang yang hasad dan keburukan orang yang menyebabkan ain. (HR. Muslim no.2185)
Doa lainnya:
بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ اَللَّهُ يَشْفِيْكَ بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيْكَ – رَوَاهُ مُسلِمٌ
Artinya: Dengan nama Allah, aku membacakan ruqyah bagimu dari segala yang menyakitimu, dari kejahatan setiap jiwa, atau mata yang dengki. Allah akan menyembuhkanmu. Dengan nama Allah, aku membacakan ruqyah untukmu. (HR. Muslim no 2186).
Ruqyah dilanjutkan dengan membaca Surat Al-Fatihah, Ayat Kursi, ayat-ayat terakhir Surat Al-Baqarah, Surat Al-Ikhlas, Surat Al-Falaq, dan Surat An-Naas.
Selain dengan ikhtiar memperbanyak doa dan dzikir memohon pertolongan Allah SWT. Selain itu, mengusahakan diri untuk melakukan beberapa hal, diantaranya:
Berikut adalah beberapa cara untuk menyembuhkan penyakit ain sesuai syariat.
1. Ruqyah Syar’i
Jika penyebab ain tidak diketahui, maka dilakukan ruqyah dengan membaca Al-Quran dan doa-doa perlindungan.
Doa sebagaimana riwayat dari Aisyah radhiallahu’anha digunakan saat Nabi SAW sakit.
2. Mandi
Jika diketahui siapa yang menyebabkan ain, maka mintalah orang tersebut diminta mandi.
Air bekas mandi itu kemudian disiramkan ke tubuh bagian belakang orang yang terkena ain.
Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:
العين حق ولو كان شيء سابق القدر لسبقته العين ، وإذا استغسلتم فاغسلوا
“‘Ain itu benar adanya. Andaikan ada perkara yang bisa mendahului takdir, maka itulah ‘ain. Maka jika kalian mandi, gunakanlah air mandinya itu (untuk memandikan orang yang terkena ‘ain)” (HR. Muslim no. 2188).
Penyakit ain dalam Islam diyakini bukanlah penyakit medis, melainkan gangguan yang bersumber dari hasad dan pandangan mata yang tidak disertai dzikir kepada Allah.
Meski tidak termasuk istilah medis, ain disebut dalam hadis dan literatur ulama sebagai sesuatu yang nyata.
Pencegahan dan pengobatan dilakukan dengan memperbanyak doa, dzikir, tawakal, serta ruqyah syar’i.
Umat Muslim juga dianjurkan untuk selalu memohon perlindungan kepada Allah SWT dari kejahatan orang yang dengki dan dari segala bentuk keburukan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang