KOMPAS.com – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia memiliki tradisi khas sebagai bentuk persiapan spiritual dan sosial.
Salah satu yang paling dikenal, khususnya di wilayah Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah, adalah tradisi munggahan.
Tradisi ini bukan sekadar acara makan bersama, melainkan momentum refleksi diri, mempererat silaturahmi, sekaligus menyiapkan hati menyambut bulan ibadah.
Secara etimologis, kata munggahan berasal dari bahasa Sunda “unggah” yang berarti naik. Makna “naik” di sini diartikan sebagai peningkatan derajat spiritual dari bulan Sya’ban menuju Ramadhan yang penuh kemuliaan.
Dalam kajian antropologi budaya Sunda, munggahan dipahami sebagai ritus peralihan (rite of passage), yaitu fase transisi menuju masa yang dianggap sakral.
Koentjaraningrat dalam buku Kebudayaan Jawa menjelaskan bahwa masyarakat Nusantara memiliki pola tradisi menjelang fase penting kehidupan, termasuk momentum keagamaan, yang ditandai dengan ritual komunal dan makan bersama.
Sementara itu, dalam buku Islam Nusantara karya Azyumardi Azra, dijelaskan bahwa tradisi lokal seperti munggahan merupakan bentuk akulturasi antara ajaran Islam dan budaya setempat yang tidak bertentangan dengan nilai syariat.
Dengan demikian, munggahan menjadi ekspresi budaya yang sarat nilai religius.
Baca juga: Tradisi Ziarah Kubur Jelang Ramadan, Jangan Sampai Melanggar Adab Ini
Saat ini, menjelang awal puasa sering kali bertepatan dengan libur sekolah atau cuti bersama. Banyak keluarga memanfaatkan momen tersebut untuk pulang ke kampung halaman atau sekadar makan bersama di rumah orang tua.
Munggahan menjadi alasan yang hangat untuk berkumpul sebelum masing-masing kembali pada rutinitas Ramadhan. Dalam suasana santai, keluarga saling memaafkan, berbagi cerita, dan memperkuat ikatan.
Nilai ini selaras dengan ajaran Islam tentang pentingnya silaturahmi dan persiapan hati menyambut puasa.
Allah SWT berfirman:
Yaa ayyuhalladziina aamanuu kutiba ‘alaikumush shiyaamu la’allakum tattaquun.
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)
Ayat tersebut menegaskan bahwa tujuan puasa adalah membentuk ketakwaan. Tradisi munggahan dapat menjadi sarana mempersiapkan diri menuju tujuan tersebut.
Tradisi munggahan umumnya dilakukan satu atau beberapa hari sebelum 1 Ramadhan. Rangkaian kegiatannya beragam, tergantung daerah dan kebiasaan keluarga.
Inti munggahan adalah makan bersama. Biasanya keluarga besar berkumpul, baik di rumah orang tua maupun di tempat yang disepakati. Momentum ini menjadi ajang mempererat hubungan sebelum memasuki bulan puasa.
Sebagian masyarakat melakukan ziarah ke makam orang tua atau leluhur. Tradisi ini dimaknai sebagai doa dan pengingat kematian, sekaligus memohon kelancaran menjalani ibadah Ramadhan.
Di sejumlah kampung, munggahan diisi dengan tahlilan, pembacaan doa, atau ceramah singkat tentang persiapan puasa. Kegiatan ini memperkuat aspek spiritual dari tradisi tersebut.
Ada pula yang memanfaatkan munggahan untuk kerja bakti membersihkan masjid dan lingkungan sekitar sebagai simbol penyucian diri lahir dan batin.
Tradisi ini menunjukkan bahwa munggahan bukan hanya soal kuliner, melainkan perpaduan nilai sosial, budaya, dan religius.
Baca juga: 7 Tradisi Ramadhan Zaman Dulu yang Kini Jarang Ditemui
Makanan menjadi elemen penting dalam munggahan. Berikut beberapa menu yang lazim disajikan dan sarat makna simbolis:
Nasi liwet adalah menu paling populer. Nasi dimasak dengan santan dan rempah, disajikan bersama ayam, tahu, tempe, sambal, serta lalapan.
Proses memasaknya yang dilakukan bersama melambangkan kebersamaan dan gotong royong.
Di beberapa daerah, nasi tumpeng menjadi pilihan. Bentuknya yang mengerucut melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan. Dalam tradisi Jawa, tumpeng sering diartikan sebagai simbol rasa syukur.
Urap yang terdiri dari aneka sayur rebus dengan kelapa berbumbu melambangkan kesederhanaan dan keseimbangan hidup. Menu ini juga menyehatkan sebagai persiapan tubuh sebelum menjalani puasa.
Lauk sederhana seperti ayam goreng dan tempe bacem melengkapi hidangan. Selain lezat, menu ini mudah dibuat dalam jumlah besar untuk disantap bersama.
Kini, sebagian keluarga memilih menu prasmanan, sate, bakso, atau bahkan makan di restoran. Namun esensi kebersamaan tetap menjadi inti utama.
Tradisi munggahan juga memiliki dimensi pendidikan nilai. Anak-anak belajar tentang pentingnya silaturahmi, berbagi rezeki, dan menghormati orang tua.
Dalam perspektif sosiologi agama, kegiatan komunal seperti ini memperkuat kohesi sosial. Emile Durkheim dalam The Elementary Forms of Religious Life menyebut ritual kolektif sebagai sarana mempererat solidaritas komunitas.
Di Indonesia, munggahan menjadi bentuk nyata solidaritas tersebut menjelang bulan suci.
Baca juga: Tradisi Unik Menjelang Ramadhan di Berbagai Daerah Indonesia
Munggahan bukanlah kewajiban agama, melainkan tradisi budaya yang memperkaya cara masyarakat menyambut Ramadhan.
Selama tidak mengandung unsur yang bertentangan dengan ajaran Islam, tradisi ini dapat menjadi sarana memperkuat iman dan hubungan sosial.
Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an:
Syahru Ramadhaanal ladzii unzila fiihil Qur’an
“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa yang terpenting bukan sekadar perayaan menyambutnya, melainkan kesiapan menjalani ibadah dengan sungguh-sungguh.
Pada akhirnya, munggahan menjadi jembatan antara budaya dan spiritualitas, menghadirkan kegembiraan, mempererat silaturahmi, sekaligus meneguhkan niat untuk menjalani Ramadhan dengan hati yang lebih bersih dan penuh harap.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang