Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tradisi Munggahan Sebelum Puasa, Ini Kegiatan dan Menu yang Wajib Ada

Kompas.com, 14 Februari 2026, 17:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia memiliki tradisi khas sebagai bentuk persiapan spiritual dan sosial.

Salah satu yang paling dikenal, khususnya di wilayah Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah, adalah tradisi munggahan.

Tradisi ini bukan sekadar acara makan bersama, melainkan momentum refleksi diri, mempererat silaturahmi, sekaligus menyiapkan hati menyambut bulan ibadah.

Asal-Usul dan Makna Tradisi Munggahan

Secara etimologis, kata munggahan berasal dari bahasa Sunda “unggah” yang berarti naik. Makna “naik” di sini diartikan sebagai peningkatan derajat spiritual dari bulan Sya’ban menuju Ramadhan yang penuh kemuliaan.

Dalam kajian antropologi budaya Sunda, munggahan dipahami sebagai ritus peralihan (rite of passage), yaitu fase transisi menuju masa yang dianggap sakral.

Koentjaraningrat dalam buku Kebudayaan Jawa menjelaskan bahwa masyarakat Nusantara memiliki pola tradisi menjelang fase penting kehidupan, termasuk momentum keagamaan, yang ditandai dengan ritual komunal dan makan bersama.

Sementara itu, dalam buku Islam Nusantara karya Azyumardi Azra, dijelaskan bahwa tradisi lokal seperti munggahan merupakan bentuk akulturasi antara ajaran Islam dan budaya setempat yang tidak bertentangan dengan nilai syariat.

Dengan demikian, munggahan menjadi ekspresi budaya yang sarat nilai religius.

Baca juga: Tradisi Ziarah Kubur Jelang Ramadan, Jangan Sampai Melanggar Adab Ini

Momentum Libur Panjang dan Kumpul Keluarga

Saat ini, menjelang awal puasa sering kali bertepatan dengan libur sekolah atau cuti bersama. Banyak keluarga memanfaatkan momen tersebut untuk pulang ke kampung halaman atau sekadar makan bersama di rumah orang tua.

Munggahan menjadi alasan yang hangat untuk berkumpul sebelum masing-masing kembali pada rutinitas Ramadhan. Dalam suasana santai, keluarga saling memaafkan, berbagi cerita, dan memperkuat ikatan.

Nilai ini selaras dengan ajaran Islam tentang pentingnya silaturahmi dan persiapan hati menyambut puasa.

Allah SWT berfirman:

Yaa ayyuhalladziina aamanuu kutiba ‘alaikumush shiyaamu la’allakum tattaquun.

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Ayat tersebut menegaskan bahwa tujuan puasa adalah membentuk ketakwaan. Tradisi munggahan dapat menjadi sarana mempersiapkan diri menuju tujuan tersebut.

Apa Saja Kegiatan dalam Tradisi Munggahan?

Tradisi munggahan umumnya dilakukan satu atau beberapa hari sebelum 1 Ramadhan. Rangkaian kegiatannya beragam, tergantung daerah dan kebiasaan keluarga.

1. Makan Bersama Keluarga Besar

Inti munggahan adalah makan bersama. Biasanya keluarga besar berkumpul, baik di rumah orang tua maupun di tempat yang disepakati. Momentum ini menjadi ajang mempererat hubungan sebelum memasuki bulan puasa.

2. Ziarah Kubur

Sebagian masyarakat melakukan ziarah ke makam orang tua atau leluhur. Tradisi ini dimaknai sebagai doa dan pengingat kematian, sekaligus memohon kelancaran menjalani ibadah Ramadhan.

3. Doa Bersama dan Pengajian

Di sejumlah kampung, munggahan diisi dengan tahlilan, pembacaan doa, atau ceramah singkat tentang persiapan puasa. Kegiatan ini memperkuat aspek spiritual dari tradisi tersebut.

4. Bersih-Bersih Lingkungan

Ada pula yang memanfaatkan munggahan untuk kerja bakti membersihkan masjid dan lingkungan sekitar sebagai simbol penyucian diri lahir dan batin.

Tradisi ini menunjukkan bahwa munggahan bukan hanya soal kuliner, melainkan perpaduan nilai sosial, budaya, dan religius.

Baca juga: 7 Tradisi Ramadhan Zaman Dulu yang Kini Jarang Ditemui

Rekomendasi Menu Munggahan Bersama Keluarga

Makanan menjadi elemen penting dalam munggahan. Berikut beberapa menu yang lazim disajikan dan sarat makna simbolis:

Nasi Liwet

Nasi liwet adalah menu paling populer. Nasi dimasak dengan santan dan rempah, disajikan bersama ayam, tahu, tempe, sambal, serta lalapan.

Proses memasaknya yang dilakukan bersama melambangkan kebersamaan dan gotong royong.

Nasi Tumpeng

Di beberapa daerah, nasi tumpeng menjadi pilihan. Bentuknya yang mengerucut melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan. Dalam tradisi Jawa, tumpeng sering diartikan sebagai simbol rasa syukur.

Urap dan Sayuran Rebus

Urap yang terdiri dari aneka sayur rebus dengan kelapa berbumbu melambangkan kesederhanaan dan keseimbangan hidup. Menu ini juga menyehatkan sebagai persiapan tubuh sebelum menjalani puasa.

Ayam Goreng atau Tempe Bacem

Lauk sederhana seperti ayam goreng dan tempe bacem melengkapi hidangan. Selain lezat, menu ini mudah dibuat dalam jumlah besar untuk disantap bersama.

Hidangan Modern

Kini, sebagian keluarga memilih menu prasmanan, sate, bakso, atau bahkan makan di restoran. Namun esensi kebersamaan tetap menjadi inti utama.

Nilai Sosial dan Pendidikan dalam Munggahan

Tradisi munggahan juga memiliki dimensi pendidikan nilai. Anak-anak belajar tentang pentingnya silaturahmi, berbagi rezeki, dan menghormati orang tua.

Dalam perspektif sosiologi agama, kegiatan komunal seperti ini memperkuat kohesi sosial. Emile Durkheim dalam The Elementary Forms of Religious Life menyebut ritual kolektif sebagai sarana mempererat solidaritas komunitas.

Di Indonesia, munggahan menjadi bentuk nyata solidaritas tersebut menjelang bulan suci.

Baca juga: Tradisi Unik Menjelang Ramadhan di Berbagai Daerah Indonesia

Lebih dari Sekadar Tradisi

Munggahan bukanlah kewajiban agama, melainkan tradisi budaya yang memperkaya cara masyarakat menyambut Ramadhan.

Selama tidak mengandung unsur yang bertentangan dengan ajaran Islam, tradisi ini dapat menjadi sarana memperkuat iman dan hubungan sosial.

Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an:

Syahru Ramadhaanal ladzii unzila fiihil Qur’an

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Ayat tersebut mengingatkan bahwa yang terpenting bukan sekadar perayaan menyambutnya, melainkan kesiapan menjalani ibadah dengan sungguh-sungguh.

Pada akhirnya, munggahan menjadi jembatan antara budaya dan spiritualitas, menghadirkan kegembiraan, mempererat silaturahmi, sekaligus meneguhkan niat untuk menjalani Ramadhan dengan hati yang lebih bersih dan penuh harap.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
30 Ucapan Selamat Ramadhan 2026 dalam Bahasa Jawa untuk Dikirim ke Orang Tua dan Kerabat
30 Ucapan Selamat Ramadhan 2026 dalam Bahasa Jawa untuk Dikirim ke Orang Tua dan Kerabat
Aktual
Sidang Isbat 1 Ramadhan 2026: Simak Jadwal, Lokasi & Tahapannya
Sidang Isbat 1 Ramadhan 2026: Simak Jadwal, Lokasi & Tahapannya
Aktual
Mudik Gratis BUMN 2026 Bersama IDM Rute Jakarta–Yogyakarta, Cek Syarat, Cara Daftar dan Kuotanya
Mudik Gratis BUMN 2026 Bersama IDM Rute Jakarta–Yogyakarta, Cek Syarat, Cara Daftar dan Kuotanya
Aktual
Jadwal Belajar dan Libur Ramadan 2026, Tak Boleh Ada Tugas Berat!
Jadwal Belajar dan Libur Ramadan 2026, Tak Boleh Ada Tugas Berat!
Aktual
Pemprov DKI Larang Ormas Razia Rumah Makan Saat Ramadhan
Pemprov DKI Larang Ormas Razia Rumah Makan Saat Ramadhan
Aktual
Tradisi Munggahan Sebelum Puasa, Ini Kegiatan dan Menu yang Wajib Ada
Tradisi Munggahan Sebelum Puasa, Ini Kegiatan dan Menu yang Wajib Ada
Aktual
PCNU Tasikmalaya Peringati 100 Tahun, Tegaskan Semangat Abad Kedua
PCNU Tasikmalaya Peringati 100 Tahun, Tegaskan Semangat Abad Kedua
Aktual
Arti Allahumma Ballighna Ramadhan dan Keutamaannya
Arti Allahumma Ballighna Ramadhan dan Keutamaannya
Doa dan Niat
Arti Marhaban Ya Ramadhan, Kareem, dan Mubarak, Mana yang Tepat?
Arti Marhaban Ya Ramadhan, Kareem, dan Mubarak, Mana yang Tepat?
Aktual
Mudik Gratis Pelni 2026 Dibuka, Simak Cara Daftar, Syarat, dan Rutenya
Mudik Gratis Pelni 2026 Dibuka, Simak Cara Daftar, Syarat, dan Rutenya
Aktual
Jadwal Sholat Hari Ini Kabupaten Sidoarjo Sabtu, 14 Februari 2026
Jadwal Sholat Hari Ini Kabupaten Sidoarjo Sabtu, 14 Februari 2026
Aktual
Tren Gamis Bini Orang Diburu Jelang Lebaran 2026, Elegan dan Modern
Tren Gamis Bini Orang Diburu Jelang Lebaran 2026, Elegan dan Modern
Aktual
Tren Warna Lebaran 2026: Taupe Jadi Primadona, Elegan, Hangat, dan Cocok untuk Semua Undertone
Tren Warna Lebaran 2026: Taupe Jadi Primadona, Elegan, Hangat, dan Cocok untuk Semua Undertone
Aktual
Gamis Rompi Lepas Jadi Incaran karena Bisa 2 Gaya dalam 1 Baju
Gamis Rompi Lepas Jadi Incaran karena Bisa 2 Gaya dalam 1 Baju
Aktual
KH Imam Jazuli: Tajdid Ekologis NU Harga Mati untuk Selamatkan Bumi dari Krisis Iklim
KH Imam Jazuli: Tajdid Ekologis NU Harga Mati untuk Selamatkan Bumi dari Krisis Iklim
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com