KOMPAS.com – Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Bagi umat Islam di berbagai belahan dunia, bulan suci ini hadir sebagai momentum spiritual sekaligus perayaan budaya yang kaya warna.
Di balik keseragaman ajaran puasa, terdapat keragaman tradisi yang tumbuh dari akar sejarah dan kearifan lokal masing-masing bangsa.
Dari lentera warna-warni di Afrika Utara hingga tabuhan drum sahur di Asia Selatan, setiap negara memiliki cara unik menyambut datangnya bulan penuh berkah ini.
Allah SWT berfirman:
Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush shiyām kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum la‘allakum tattaqūn
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa esensi Ramadhan adalah ketakwaan. Namun dalam praktik sosial, ekspresi menyambutnya bisa sangat beragam.
Berikut tradisi unik menyambut Ramadhan di berbagai negara.
Di Mesir, suasana menjelang Ramadhan identik dengan fanous—lentera warna-warni yang menggantung di jalanan dan rumah-rumah warga.
Tradisi ini telah ada sejak era Dinasti Fatimiyah pada abad ke-10. Dalam buku The Fatimids and Their Traditions of Learning karya Heinz Halm, disebutkan bahwa fanous awalnya digunakan untuk menyambut kedatangan khalifah pada malam Ramadhan.
Kini, fanous menjadi simbol cahaya dan kegembiraan. Anak-anak membawa lentera sambil menyanyikan lagu-lagu khas Ramadhan, menciptakan suasana yang hangat dan penuh harapan.
Baca juga: Dari Dugderan hingga 3.000 Culok, Tradisi Sambut Ramadhan 1447 H Semarak di Berbagai Daerah
Di Indonesia, tradisi menyambut Ramadhan beragam di tiap daerah. Di Pontianak, Kalimantan Barat, meriam karbit dibunyikan sebagai penanda datangnya bulan suci.
Tradisi ini berakar dari kebiasaan masyarakat Melayu yang menggunakan suara keras sebagai penanda waktu sebelum adanya teknologi modern.
Selain itu, pawai obor menjadi agenda rutin di banyak daerah. Peserta berjalan menyusuri kampung sambil membawa obor menyala.
Suasana temaram berpadu dengan lantunan shalawat menghadirkan nuansa religius sekaligus kebersamaan.
Dalam buku Islam Nusantara karya Azyumardi Azra dijelaskan bahwa tradisi lokal seperti pawai obor merupakan bentuk akulturasi budaya yang memperkaya ekspresi keislaman tanpa mengubah substansi ajaran.
Ketika malam pertama Ramadhan tiba di Turki, dua menara masjid dihiasi lampu-lampu yang membentuk tulisan religius. Tradisi ini disebut mahya.
Kalimat seperti “Hoşgeldin Ramazan” (Selamat Datang Ramadhan) terpampang di langit kota, menciptakan panorama yang memikat.
Selain mahya, Turki juga memiliki tradisi penabuh genderang sahur. Para penabuh mengenakan busana era Ottoman dan berjalan keliling kota membangunkan warga untuk makan sahur, sebuah tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun sejak masa Kesultanan Ottoman.
Beberapa pekan sebelum Ramadhan, anak-anak di Uni Emirat Arab merayakan Haq Al Laila.
Mereka mengenakan pakaian tradisional, berkeliling dari rumah ke rumah sambil menyanyikan lagu khas dan menerima permen serta kacang-kacangan.
Tradisi ini menanamkan nilai berbagi dan kebersamaan sejak dini, sekaligus menjadi pengingat bahwa Ramadhan adalah bulan kemurahan hati.
Baca juga: Tradisi Munggahan Sebelum Puasa, Ini Kegiatan dan Menu yang Wajib Ada
Di Suriah dan Lebanon, masih bertahan tradisi musaharati.
Seseorang berkeliling kampung pada dini hari sambil menabuh drum dan melantunkan doa untuk membangunkan warga sahur.
Di Lebanon, dentuman meriam saat waktu berbuka juga masih terdengar. Tradisi ini dipercaya berasal dari masa Kesultanan Ottoman dan menyebar ke berbagai wilayah Timur Tengah.
Dalam buku Ramadan in the Muslim World karya Julius Wellhausen, disebutkan bahwa penggunaan meriam sebagai penanda waktu merupakan inovasi abad pertengahan yang kemudian menjadi simbol budaya Ramadhan.
Di beberapa wilayah India, terdapat kelompok Seheriwalas atau Zohridaars.
Mereka berjalan menyusuri kota pada dini hari, meneriakkan nama Allah dan Rasulullah sambil mengetuk pintu rumah warga untuk membangunkan sahur.
Tradisi ini dimulai sekitar pukul 02.30 waktu setempat dan telah berlangsung turun-temurun sebagai bentuk pelayanan sosial sekaligus ibadah.
Di Albania, komunitas tertentu memainkan musik balada tradisional selama Ramadhan.
Alunan drum tradisional berlapis kulit domba dan kambing mengiringi cerita-cerita sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi ini menjadi penghubung antara warisan budaya dan spiritualitas.
Baca juga: Tarhib Ramadhan Adalah Tradisi Sunnah? Ini Penjelasan Lengkapnya
Di Irak, masyarakat memainkan permainan tradisional bernama Mhebibes setelah berbuka puasa.
Permainan ini melibatkan dua tim besar yang menyembunyikan cincin dan menebaknya melalui bahasa tubuh. Selain hiburan, permainan ini mempererat hubungan sosial antarwarga.
Meski beragam, seluruh tradisi tersebut memiliki benang merah yang sama: menyambut Ramadhan dengan kegembiraan dan kebersamaan.
Dalam buku The Cultural Side of Islam karya Muhammad Asad, dijelaskan bahwa Islam memberi ruang bagi ekspresi budaya selama tidak bertentangan dengan prinsip syariat.
Karena itu, fanous, meriam, pawai obor, hingga musaharati bukan sekadar seremoni. Ia menjadi cara masyarakat merawat memori kolektif dan memperkuat solidaritas sosial.
Ramadhan 1447 Hijriah segera tiba. Dari Afrika hingga Asia, dari Timur Tengah hingga Eropa, umat Islam menyambutnya dengan cara masing-masing.
Namun pada akhirnya, semua tradisi itu bermuara pada satu tujuan, yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT dan merayakan datangnya bulan penuh ampunan.
Sebab di balik cahaya lentera dan dentuman meriam, ada hati-hati yang berharap agar Ramadhan kali ini menjadi lebih bermakna dari sebelumnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang