Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menyambut Ramadhan, Ini Tradisi Unik di Berbagai Negara

Kompas.com, 16 Februari 2026, 12:30 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Bagi umat Islam di berbagai belahan dunia, bulan suci ini hadir sebagai momentum spiritual sekaligus perayaan budaya yang kaya warna.

Di balik keseragaman ajaran puasa, terdapat keragaman tradisi yang tumbuh dari akar sejarah dan kearifan lokal masing-masing bangsa.

Dari lentera warna-warni di Afrika Utara hingga tabuhan drum sahur di Asia Selatan, setiap negara memiliki cara unik menyambut datangnya bulan penuh berkah ini.

Allah SWT berfirman:

Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush shiyām kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum la‘allakum tattaqūn

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskan bahwa esensi Ramadhan adalah ketakwaan. Namun dalam praktik sosial, ekspresi menyambutnya bisa sangat beragam.

Berikut tradisi unik menyambut Ramadhan di berbagai negara.

Fanous, Lentera Ramadhan dari Mesir

Di Mesir, suasana menjelang Ramadhan identik dengan fanous—lentera warna-warni yang menggantung di jalanan dan rumah-rumah warga.

Tradisi ini telah ada sejak era Dinasti Fatimiyah pada abad ke-10. Dalam buku The Fatimids and Their Traditions of Learning karya Heinz Halm, disebutkan bahwa fanous awalnya digunakan untuk menyambut kedatangan khalifah pada malam Ramadhan.

Kini, fanous menjadi simbol cahaya dan kegembiraan. Anak-anak membawa lentera sambil menyanyikan lagu-lagu khas Ramadhan, menciptakan suasana yang hangat dan penuh harapan.

Baca juga: Dari Dugderan hingga 3.000 Culok, Tradisi Sambut Ramadhan 1447 H Semarak di Berbagai Daerah

Dentuman Meriam dan Pawai Obor di Indonesia

Di Indonesia, tradisi menyambut Ramadhan beragam di tiap daerah. Di Pontianak, Kalimantan Barat, meriam karbit dibunyikan sebagai penanda datangnya bulan suci.

Tradisi ini berakar dari kebiasaan masyarakat Melayu yang menggunakan suara keras sebagai penanda waktu sebelum adanya teknologi modern.

Selain itu, pawai obor menjadi agenda rutin di banyak daerah. Peserta berjalan menyusuri kampung sambil membawa obor menyala.

Suasana temaram berpadu dengan lantunan shalawat menghadirkan nuansa religius sekaligus kebersamaan.

Dalam buku Islam Nusantara karya Azyumardi Azra dijelaskan bahwa tradisi lokal seperti pawai obor merupakan bentuk akulturasi budaya yang memperkaya ekspresi keislaman tanpa mengubah substansi ajaran.

Mahya, Cahaya di Langit Turki

Ketika malam pertama Ramadhan tiba di Turki, dua menara masjid dihiasi lampu-lampu yang membentuk tulisan religius. Tradisi ini disebut mahya.

Kalimat seperti “Hoşgeldin Ramazan” (Selamat Datang Ramadhan) terpampang di langit kota, menciptakan panorama yang memikat.

Selain mahya, Turki juga memiliki tradisi penabuh genderang sahur. Para penabuh mengenakan busana era Ottoman dan berjalan keliling kota membangunkan warga untuk makan sahur, sebuah tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun sejak masa Kesultanan Ottoman.

Haq Al Laila di Uni Emirat Arab

Beberapa pekan sebelum Ramadhan, anak-anak di Uni Emirat Arab merayakan Haq Al Laila.

Mereka mengenakan pakaian tradisional, berkeliling dari rumah ke rumah sambil menyanyikan lagu khas dan menerima permen serta kacang-kacangan.

Tradisi ini menanamkan nilai berbagi dan kebersamaan sejak dini, sekaligus menjadi pengingat bahwa Ramadhan adalah bulan kemurahan hati.

Baca juga: Tradisi Munggahan Sebelum Puasa, Ini Kegiatan dan Menu yang Wajib Ada

Musaharati di Suriah dan Lebanon

Di Suriah dan Lebanon, masih bertahan tradisi musaharati.

Seseorang berkeliling kampung pada dini hari sambil menabuh drum dan melantunkan doa untuk membangunkan warga sahur.

Di Lebanon, dentuman meriam saat waktu berbuka juga masih terdengar. Tradisi ini dipercaya berasal dari masa Kesultanan Ottoman dan menyebar ke berbagai wilayah Timur Tengah.

Dalam buku Ramadan in the Muslim World karya Julius Wellhausen, disebutkan bahwa penggunaan meriam sebagai penanda waktu merupakan inovasi abad pertengahan yang kemudian menjadi simbol budaya Ramadhan.

Seheriwalas di India

Di beberapa wilayah India, terdapat kelompok Seheriwalas atau Zohridaars.

Mereka berjalan menyusuri kota pada dini hari, meneriakkan nama Allah dan Rasulullah sambil mengetuk pintu rumah warga untuk membangunkan sahur.

Tradisi ini dimulai sekitar pukul 02.30 waktu setempat dan telah berlangsung turun-temurun sebagai bentuk pelayanan sosial sekaligus ibadah.

Musik Balada di Albania

Di Albania, komunitas tertentu memainkan musik balada tradisional selama Ramadhan.

Alunan drum tradisional berlapis kulit domba dan kambing mengiringi cerita-cerita sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi ini menjadi penghubung antara warisan budaya dan spiritualitas.

Baca juga: Tarhib Ramadhan Adalah Tradisi Sunnah? Ini Penjelasan Lengkapnya

Permainan Mhebibes di Irak

Di Irak, masyarakat memainkan permainan tradisional bernama Mhebibes setelah berbuka puasa.

Permainan ini melibatkan dua tim besar yang menyembunyikan cincin dan menebaknya melalui bahasa tubuh. Selain hiburan, permainan ini mempererat hubungan sosial antarwarga.

Warna-warni Budaya, Satu Tujuan Ibadah

Meski beragam, seluruh tradisi tersebut memiliki benang merah yang sama: menyambut Ramadhan dengan kegembiraan dan kebersamaan.

Dalam buku The Cultural Side of Islam karya Muhammad Asad, dijelaskan bahwa Islam memberi ruang bagi ekspresi budaya selama tidak bertentangan dengan prinsip syariat.

Karena itu, fanous, meriam, pawai obor, hingga musaharati bukan sekadar seremoni. Ia menjadi cara masyarakat merawat memori kolektif dan memperkuat solidaritas sosial.

Ramadhan 1447 Hijriah segera tiba. Dari Afrika hingga Asia, dari Timur Tengah hingga Eropa, umat Islam menyambutnya dengan cara masing-masing.

Namun pada akhirnya, semua tradisi itu bermuara pada satu tujuan, yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT dan merayakan datangnya bulan penuh ampunan.

Sebab di balik cahaya lentera dan dentuman meriam, ada hati-hati yang berharap agar Ramadhan kali ini menjadi lebih bermakna dari sebelumnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Prakiraan Cuaca di Mekkah dan Madinah Ramadhan 2026: Udara Lebih Hangat, Curah Hujan di Bawah Normal
Prakiraan Cuaca di Mekkah dan Madinah Ramadhan 2026: Udara Lebih Hangat, Curah Hujan di Bawah Normal
Aktual
Menyambut Ramadhan, Ini Tradisi Unik di Berbagai Negara
Menyambut Ramadhan, Ini Tradisi Unik di Berbagai Negara
Aktual
Arab Saudi Siapkan Strategi untuk Sambut Jemaah selama Bulan Ramadhan 2026
Arab Saudi Siapkan Strategi untuk Sambut Jemaah selama Bulan Ramadhan 2026
Aktual
Jadwal Sidang Isbat Ramadhan 2026, Tahapan dan Link Streaming
Jadwal Sidang Isbat Ramadhan 2026, Tahapan dan Link Streaming
Aktual
Dubai Umumkan Jadwal dan Lokasi Kembang Api Ramadhan 2026, Digelar di Sejumlah Lokasi Ikonik
Dubai Umumkan Jadwal dan Lokasi Kembang Api Ramadhan 2026, Digelar di Sejumlah Lokasi Ikonik
Aktual
Niat Mandi Wajib Sebelum Ramadhan dan Tata Caranya Lengkap
Niat Mandi Wajib Sebelum Ramadhan dan Tata Caranya Lengkap
Doa dan Niat
SNMB Madrasah Unggulan 2026/2027 Tembus 36.973 Pendaftar, Kemenag Sebut Kepercayaan Publik Meningkat
SNMB Madrasah Unggulan 2026/2027 Tembus 36.973 Pendaftar, Kemenag Sebut Kepercayaan Publik Meningkat
Aktual
Sidang Isbat Ramadhan 2026 Digelar 17 Februari, Puasa Mulai 18 atau 19?
Sidang Isbat Ramadhan 2026 Digelar 17 Februari, Puasa Mulai 18 atau 19?
Aktual
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 Muhammadiyah, Cek & Download untuk 41 Kota di Indonesia
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 Muhammadiyah, Cek & Download untuk 41 Kota di Indonesia
Aktual
Awal Ramadhan 1447 H Ditentukan 17 Februari, Ini 96 Lokasi Rukyatul Hilal
Awal Ramadhan 1447 H Ditentukan 17 Februari, Ini 96 Lokasi Rukyatul Hilal
Aktual
Arab Saudi Lakukan Pemantauan Hilal Ramadhan 1447 H pada 17 Februari 2026
Arab Saudi Lakukan Pemantauan Hilal Ramadhan 1447 H pada 17 Februari 2026
Aktual
NU Tasikmalaya Tetapkan Hukum Sisa MBG dan Larangan Nikah Siri
NU Tasikmalaya Tetapkan Hukum Sisa MBG dan Larangan Nikah Siri
Aktual
Kemenag Gelar Rukyatul Hilal 17 Februari di 96 Lokasi, Penetapan Awal Ramadhan 1447 H Menunggu Sidang Isbat
Kemenag Gelar Rukyatul Hilal 17 Februari di 96 Lokasi, Penetapan Awal Ramadhan 1447 H Menunggu Sidang Isbat
Aktual
Penjelasan Terbaru Muhammadiyah Mengapa Awal Ramadhan Bisa Berbeda
Penjelasan Terbaru Muhammadiyah Mengapa Awal Ramadhan Bisa Berbeda
Aktual
Awal Ramadhan 1447 H Berpotensi Berbeda 18 atau 19 Februari, MUI Minta Umat Dewasa
Awal Ramadhan 1447 H Berpotensi Berbeda 18 atau 19 Februari, MUI Minta Umat Dewasa
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com