Editor
KOMPAS.com – Di tengah besarnya jaringan pendidikan tinggi yang dimiliki Nahdlatul Ulama (NU), muncul kritik tajam dari kalangan internal. KH Imam Jazuli Lc MA menilai, banyaknya jumlah kampus belum otomatis melahirkan sumber daya manusia unggul yang mampu menjawab tantangan zaman.
“Secara statistik, NU adalah raksasa. Tapi kita menghadapi inflasi kelembagaan dan defisit substansi,” ujar KH Imam Jazuli dalam pandangannya terkait kondisi Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU), kepada Kompas.com, Senin (16/2/2026).
Berdasarkan data Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama, jumlah kampus NU berkisar antara 183 hingga 274 institusi, mulai dari universitas hingga akademi. Namun menurutnya, kuantitas tersebut belum berbanding lurus dengan kualitas akademik dan kontribusi strategis bagi bangsa.
Baca juga: NU Tasikmalaya Tetapkan Hukum Sisa MBG dan Larangan Nikah Siri
KH Imam Jazuli menyoroti persoalan kepemilikan dan tata kelola. Meski membawa nama NU, sejumlah kampus disebut masih dikelola layaknya aset keluarga atau perorangan.
“Regenerasi kepemimpinan sering bukan berbasis meritokrasi, tapi garis keturunan atau kedekatan emosional. Ini berbahaya bagi masa depan PTNU,” tegasnya.
Ia menilai praktik manajemen tradisional dan tertutup membuat inovasi tersumbat serta menyulitkan transparansi keuangan. Akibatnya, kampus berpotensi hanya menjadi tempat memperoleh ijazah, bukan pusat keunggulan intelektual.
KH Imam Jazuli mempertanyakan minimnya kontribusi PTNU dalam mencetak dokter, insinyur, atau teknokrat di bidang strategis.
“NU bukan krisis jamaah, tapi krisis intelektual teknis. Mengapa kita masih kekurangan tenaga medis, pakar teknologi, dan ahli bisnis padahal kampus kita ratusan?” ujarnya.
Mayoritas PTNU, kata dia, masih membuka jurusan sosial-keagamaan yang relatif berbiaya operasional rendah. Padahal kebutuhan bangsa saat ini mencakup kedaulatan kesehatan, ketahanan pangan berbasis teknologi, dan transformasi digital.
Ia mencontohkan keberhasilan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya dan Universitas Alma Ata yang fokus pada bidang kesehatan. Namun menurutnya, capaian itu masih menjadi pengecualian, bukan arus utama.
Sebagai solusi, KH Imam Jazuli mendorong langkah strategis dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama melalui LPTNU.
Pertama, sentralisasi dan akuisisi strategis kampus-kampus NU agar berada dalam satu roadmap besar organisasi. “Tidak boleh ada lagi kampus NU berjalan sendiri tanpa arah,” katanya.
Kedua, radikalisasi kurikulum saintifik dengan membuka jurusan medis, teknik, dan bisnis berbasis kerja sama global.
Ketiga, rekrutmen profesional dalam tata kelola kampus, termasuk menghadirkan dosen tamu dari kalangan industri dan peneliti internasional.
Ia juga merinci fakultas yang dinilai mendesak dikembangkan, seperti Fakultas Kedokteran, Keperawatan, Farmasi, Teknik Informatika, Teknik Pertanian, Teknik Lingkungan, hingga Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Menurut KH Imam Jazuli—yang merupakan alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Universitas Al-Azhar, Universiti Kebangsaan Malaysia, dan Universiti Malaya—kampus NU masa depan tidak bisa hanya mengandalkan kharisma kiai.
“Ia harus berakar pada nilai pesantren Ahlussunnah wal Jamaah, tapi berdaun pada teknologi modern. Jika tidak segera berbenah, kampus-kampus NU akan menjadi fosil, ditinggalkan zaman,” ujarnya.
Baca juga: Pesantren di Abad Kedua NU: Berani Berubah atau Tetap di Pinggiran Kekuasaan?
Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia itu menegaskan, pembenahan PTNU merupakan bentuk khidmah tertinggi kepada umat dan negara.
“Ratusan kampus itu jangan sampai hanya menjadi monumen masa lalu. Kita butuh lompatan besar agar PTNU benar-benar menjadi kawah candradimuka intelektual NU yang moderat, religius, dan unggul dalam sains dan teknologi,” pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang