Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Survei Litbang Kompas: Jumlah Pemudik Lebaran 2026 Diprediksi Turun karena Ekonomi

Kompas.com, 24 Februari 2026, 14:00 WIB
Farid Assifa

Editor

Sumber Kompas.id

KOMPAS.com — Jumlah warga yang berencana mudik pada Lebaran 2026 diprediksi mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Survei Potensi Mudik Lebaran Januari 2026 yang dirilis Litbang Kompas menunjukkan, hanya 23,3 persen responden yang menyatakan akan mudik ke luar kota.

General Manager Litbang Kompas Ignatius Kristanto Hadisaputro dalam pemaparannya di Menara Kompas, Jakarta, Senin (24/2/2025), menjelaskan, angka ini turun dari 25,7 persen pada 2025, atau berkurang sekitar 2,4 poin persentase.

Sebaliknya, responden yang menyatakan tidak mudik atau belum memutuskan meningkat menjadi 76,7 persen pada 2026.

Baca juga: Survei Litbang Kompas: 23,3 Persen Warga Berencana Mudik Lebaran 2026, Kendaraan Pribadi Mendominasi

Dijelaskan Kris --panggilan akrabnya-- survei ini dilakukan melalui wawancara tatap muka terhadap 1.200 responden di 38 provinsi, dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error ±2,83 persen .

Sinyal Perlambatan Mobilitas Lebaran

Penurunan minat mudik ini menjadi sinyal adanya perlambatan mobilitas masyarakat saat momentum Idul Fitri 2026. Jika dibandingkan grafik pada halaman 2 laporan survei, terlihat jelas penurunan proporsi responden yang menjawab “Ya” untuk rencana mudik dari 2025 ke 2026.

Meski demikian, potensi arus tetap signifikan. Puncak keberangkatan diperkirakan terjadi pada H-1 Idul Fitri (20 Maret 2026) sebesar 11,9 persen, disusul H-2 sebesar 10 persen dan H-3 sebesar 7,6 persen .

Artinya, walaupun jumlah pemudik menurun, konsentrasi pergerakan tetap menumpuk di periode sempit menjelang Lebaran.

Faktor Ekonomi Jadi Kekhawatiran

Penurunan ini diduga berkaitan dengan faktor ekonomi. Pada halaman 13 laporan survei, sebanyak 49,4 persen responden mengaku khawatir soal keuangan saat Lebaran, termasuk takut uang tidak cukup untuk kebutuhan keluarga .

Selain itu, rencana biaya mudik 2026 menunjukkan 38 persen responden memperkirakan pengeluaran lebih dari Rp 2,5 juta untuk perjalanan.

Tekanan biaya transportasi dan konsumsi selama Lebaran menjadi beban tersendiri bagi rumah tangga.

Baca juga: Daftar Lengkap Mudik Gratis Lebaran 2026: Jadwal, Syarat, dan Cara Daftar

Kendaraan Pribadi Tetap Dominan

Meski jumlah pemudik menurun, pola transportasi tidak berubah signifikan. Pada halaman 9 laporan, sepeda motor menjadi moda utama (25,5 persen), disusul mobil pribadi (11,8 persen).

Dominasi kendaraan pribadi ini tetap berpotensi memicu kepadatan lalu lintas di jalur darat, terutama di Pulau Jawa yang menjadi tujuan utama mudik.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com