Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengunjungi Gua Ashabul Kahfi di Yordania, Tempat 7 Pemuda Tertidur 309 Tahun

Kompas.com, 25 Februari 2026, 18:00 WIB
Fika Nurul Ulya,
Farid Assifa

Tim Redaksi

AMMAN, KOMPAS.com — Berkunjung ke Amman, rasanya belum lengkap tanpa singgah ke Gua Ashabul Kahfi, situs religi yang diyakini sebagai tempat tujuh pemuda tertidur selama 309 tahun.

Kompas.com berkesempatan menyambangi langsung lokasi yang sarat jejak sejarah dan spiritualitas ini. Menariknya, pengunjung tidak dikenakan biaya masuk untuk menjelajahi kawasan bersejarah tersebut.

Gua Ashabul Kahfi berada di kawasan Ar-Rajib, sekitar 7–10 kilometer di sebelah timur pusat Amman. Dari pusat kota, perjalanan dapat ditempuh sekitar 30 hingga 37 menit dengan kendaraan.

Baca juga: Kisah Lengkap Ashabul Kahfi: 7 Pemuda Teladan Penggenggam Iman

Suasana Hening dan Tujuh Makam Batu

Ukiran delapan sudut di salah satu makam pemuda gua, yang menjadi simbol kisah Ashabul Kahfi, tujuh pemuda yang tertidur selama 309 tahun dan seekor anjing yang diabadikan dalam QS. Al-Kahfi ayat 9-26.KOMPAS.com/FIKA NURUL ULYA Ukiran delapan sudut di salah satu makam pemuda gua, yang menjadi simbol kisah Ashabul Kahfi, tujuh pemuda yang tertidur selama 309 tahun dan seekor anjing yang diabadikan dalam QS. Al-Kahfi ayat 9-26.

Setibanya di area parkir, pengunjung perlu berjalan kaki sekitar lima menit menuju mulut gua. Jalurnya cukup landai dan tertata.

Di pintu masuk, pengelola menyediakan tudung penutup kepala bagi pengunjung perempuan yang tidak mengenakan hijab, sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai religius tempat tersebut.

Begitu pintu gua dibuka, suasana hening langsung terasa. Di dalamnya terdapat tujuh makam dari bebatuan besar yang tersusun di sisi kanan dan kiri. Empat pemuda dimakamkan di sisi kanan, sementara tiga lainnya di sisi kiri.

Mahmoud, juru kunci gua, menjelaskan makna ukiran bintang delapan sudut yang terlihat pada batu makam.

"Delapan sudut melambangkan tujuh pemuda dan seekor anjing yang setia menemani mereka saat tertidur panjang," jelas Mahmoud.

Menurut sejarah, anjing tersebut berjaga hingga tertidur di pintu gua.

Dinding gua dihiasi tulisan Arab kuno dan lampu gantung hitam yang memperkuat nuansa sakral.

Cahaya Matahari Jadi Bukti Kuat?

Pintu masuk Gua Ashabul Kahfi di Kota Amman, Yordania. Tempat yang diyakini sebagai lokasi tujuh pemuda tertidur selama 309 tahun.KOMPAS.com/FIKA NURUL ULYA Pintu masuk Gua Ashabul Kahfi di Kota Amman, Yordania. Tempat yang diyakini sebagai lokasi tujuh pemuda tertidur selama 309 tahun.

Mahmoud juga menunjukkan celah di bagian atas struktur dalam gua, tempat cahaya matahari masuk secara alami.

"Cahaya matahari masuk dari lubang (celah/bukaan struktur) pada waktu zuhur. Waktu sore, masuk (melalui) pintu," ucap Mahmoud.

Fenomena ini dianggap sebagian ulama dan peneliti Muslim sebagai kecocokan dengan ayat Al-Qur’an dalam Surah Al-Kahfi ayat 17 yang menjelaskan arah condong matahari terhadap gua tersebut.

"Dan engkau akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan apabila matahari itu terbenam, menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas di dalam (gua) itu. Itulah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah...," (QS Al-Kahfi:17).

Gua Alami yang Pernah Direnovasi

Juru kunci Gua Ashabul Kahfi, Mahmoud, membuka pintu gua agar pengunjung dapat masuk melihat tujuh makanan pemuda yang tertidur selama 309 tahun dan dikuburkan di dalamnya. KOMPAS.com/FIKA NURUL ULYA Juru kunci Gua Ashabul Kahfi, Mahmoud, membuka pintu gua agar pengunjung dapat masuk melihat tujuh makanan pemuda yang tertidur selama 309 tahun dan dikuburkan di dalamnya.

Menurut Mahmoud, gua ini merupakan gua alami yang pernah mengalami renovasi pada masa Dinasti Ayyubiyah yang dipimpin oleh Salahuddin Al-Ayyubi.

"Ini gua, gua asli, gua alami. Sudah renovasi zaman Salahuddin Al-Ayyubi," jelasnya.

Di atas gua terdapat sisa struktur masjid kuno tanpa atap, hanya berupa bebatuan coklat lengkap dengan mihrab yang menghadap kiblat. Empat batu panjang berdiri saling berhadapan sebagai penanda arah.

Baca juga: Ashabul Kahfi dan Makna Iman di Tengah Ancaman Kekuasaan

Mahmoud menyebut masjid tersebut juga diabadikan dalam Surah Al-Kahfi.

"Di dalam suratul Kahfi 'lana tahidan alaihim masjida'. Nama daerah (ini) Ar-raqim, (yang juga diabadikan) dalam suratul Kahfi 'am hasibta an-ashabul kahfi warraqiymi kaanuu min aayaatinaa ajabaa'," katanya sembari membacakan ayat.

Kisah 309 Tahun yang Menggetarkan

Masjid kuno atau tempat ibadah yang berdiri di atas Gua Ashabul Kahfi di Amman, Yordania. KOMPAS.com/FIKA NURUL ULYA Masjid kuno atau tempat ibadah yang berdiri di atas Gua Ashabul Kahfi di Amman, Yordania.

Ashabul Kahfi dikenal sebagai tujuh pemuda beriman yang menolak mengikuti raja zalim penyembah berhala. Demi mempertahankan iman, mereka melarikan diri dan bersembunyi di dalam gua.

Allah kemudian menidurkan mereka selama 309 tahun tanpa makan dan minum.

Baca juga: Kisah Cinta Al-Fatih Penakluk Konstantinopel, Antara Pernikahan Politik dan Pengabdian pada Islam

Ketika terbangun, mereka mengira hanya tertidur beberapa jam. Salah satu dari mereka pergi ke kota membeli makanan menggunakan uang lama yang ternyata sudah tak berlaku.

"Ia kembali, menceritakan hal itu kepada teman-temannya, lalu mereka langsung meninggal di sini. Dan orang-orang pada masa itu menguburkan mereka di gua yang sama," tandas Mahmoud.

Kini, Gua Ashabul Kahfi bukan hanya destinasi religi, tetapi juga pengingat tentang keteguhan iman, waktu yang melampaui logika manusia, dan tanda kebesaran Allah yang diabadikan dalam Al-Qur’an.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com