Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peringatan Rasulullah tentang Bahaya Ketamakan, Satu Lembah Emas Tak Pernah Cukup

Kompas.com, 8 Juni 2026, 19:00 WIB
Fitri Anggiawati,
Khairina

Tim Redaksi

BANYUWANGI, KOMPAS.com - Di tengah kehidupan modern yang serba kompetitif, manusia sering kali dihadapkan pada keinginan yang seolah tidak ada habisnya. Ketika satu target tercapai, target berikutnya segera muncul.

Saat satu impian terwujud, impian lain menanti untuk dikejar. Tidak jarang, seseorang yang telah memiliki banyak justru merasa masih kurang.

Kondisi tersebut ternyata telah digambarkan secara jelas oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari.

Rasulullah bersabda:

لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ.

"Seandainya anak Adam memiliki satu lembah berisi emas, niscaya ia akan menginginkan dua lembah. Dan tidak ada yang bisa memenuhi mulutnya kecuali tanah. Dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat." (HR Bukhari No. 6439)

Baca juga: Arkeolog Temukan Harta Karun Emas Berusia 1.200 Tahun di Jalur Haji Kuno Arab Saudi

Hadits tersebut mengungkap salah satu kecenderungan yang ada dalam diri manusia, yakni keinginan untuk terus menambah dan mengumpulkan harta tanpa merasa puas.

Rasulullah SAW menggambarkannya dengan perumpamaan yang sangat kuat. Bahkan jika seseorang memiliki satu lembah penuh emas, ia masih berharap memiliki lembah kedua. Jika mendapat yang kedua, keinginan itu bisa berlanjut kepada yang ketiga dan seterusnya.

"Pesan yang ingin disampaikan bukanlah larangan untuk bekerja keras atau mencari rezeki. Islam justru mendorong umatnya untuk berikhtiar dan meraih kehidupan yang baik. Namun, Islam mengingatkan agar harta tidak berubah menjadi tujuan hidup yang menguasai hati," kata Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi, Ahsanul Falihin.

Dalam banyak kasus, persoalan bukan terletak pada sedikit atau banyaknya harta, melainkan pada rasa cukup yang hilang dari dalam diri. Ketika hati dipenuhi ketamakan, berapa pun yang dimiliki akan terasa kurang.

Sebaliknya, ketika seseorang memiliki sifat qanaah atau merasa cukup atas karunia Allah, ketenangan dapat dirasakan meskipun hidup dalam kesederhanaan.

Bagian lain dari hadits tersebut juga menyimpan peringatan mendalam. Rasulullah SAW menyebut bahwa tidak ada yang dapat memenuhi mulut manusia selain tanah. Para ulama menjelaskan bahwa tanah dalam hadits ini merupakan simbol kematian. Artinya, ambisi duniawi yang tidak terkendali sering kali baru berhenti ketika kehidupan berakhir.

Baca juga: Harta Rampasan Perang Khalid vs Hormuz: Fakta yang Jarang Dibahas

Peringatan ini relevan di setiap zaman. Kesibukan mengejar materi kerap membuat manusia lupa bahwa hidup di dunia bersifat sementara. Waktu, tenaga, dan pikiran habis untuk mengumpulkan kekayaan, sementara persiapan menuju kehidupan akhirat justru terabaikan.

Namun, sebagaimana rahmat Allah selalu mendahului murka-Nya, hadits ini ditutup dengan kalimat yang membawa harapan.

"Dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat."

Kalimat tersebut menunjukkan bahwa pintu taubat senantiasa terbuka. Seberapapun besar kecintaan seseorang terhadap dunia, ia masih dapat kembali kepada Allah dengan memperbaiki niat, meluruskan tujuan hidup, dan menjadikan akhirat sebagai orientasi utama.

Dari hadits ini, setidaknya terdapat tiga pelajaran penting. Pertama, ketamakan merupakan sifat tercela yang harus diwaspadai karena dapat menjauhkan manusia dari rasa syukur.

Kedua, harta bukanlah ukuran kebahagiaan, sebab ketenangan sejati lahir dari hati yang merasa cukup. Ketiga, seorang mukmin hendaknya menjadikan amal saleh dan kehidupan akhirat sebagai cita-cita terbesar, tanpa terjebak dalam perlombaan dunia yang tidak berujung.

Pada akhirnya, manusia tidak akan membawa harta yang dikumpulkannya sepanjang hidup. Yang akan menemani hingga ke hadapan Allah hanyalah amal dan ketakwaan.

Karena itu, saat dunia menawarkan semakin banyak keinginan, seorang mukmin perlu terus mengingat pesan Rasulullah SAW bahwa sebanyak apa pun yang dimiliki, hati yang tidak dijaga akan selalu merasa kurang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baznas: Zakat ASN Sukarela, Bukan Pungutan Wajib Negara
Baznas: Zakat ASN Sukarela, Bukan Pungutan Wajib Negara
Aktual
Syarat Sah Membaca Surat Al-Fatihah Saat Shalat, Muslim Wajib Memahaminya
Syarat Sah Membaca Surat Al-Fatihah Saat Shalat, Muslim Wajib Memahaminya
Aktual
Sejumlah Perkara yang Membuat Shalat Tidak Sah, Muslim Wajib Tahu
Sejumlah Perkara yang Membuat Shalat Tidak Sah, Muslim Wajib Tahu
Aktual
Bacaan Lafadz Adzan, Lengkap dengan Hukum, Dalil, dan Pahala Mengumandangkannya
Bacaan Lafadz Adzan, Lengkap dengan Hukum, Dalil, dan Pahala Mengumandangkannya
Aktual
6 Kesalahan Saat Shalat yang Sering Dilakukan, Bisa Mengurangi Kesempurnaan Ibadah
6 Kesalahan Saat Shalat yang Sering Dilakukan, Bisa Mengurangi Kesempurnaan Ibadah
Aktual
Dari Penerima Jadi Pemberi, Petani Ini Setor Zakat Pertanian Rp 16 Juta
Dari Penerima Jadi Pemberi, Petani Ini Setor Zakat Pertanian Rp 16 Juta
Aktual
MUI Apresiasi Prabowo Jalankan Ekonomi Kerakyatan, Sebut Baru Kali Ini Presiden Tegas Terapkan Pasal 33 UUD 1945
MUI Apresiasi Prabowo Jalankan Ekonomi Kerakyatan, Sebut Baru Kali Ini Presiden Tegas Terapkan Pasal 33 UUD 1945
Aktual
MUI Usul Danantara Syariah: Konsolidasi Ekonomi Umat Indonesia
MUI Usul Danantara Syariah: Konsolidasi Ekonomi Umat Indonesia
Aktual
MUI Canangkan Jihad Digital: Waspada Belajar Agama dari AI Tanpa Guru
MUI Canangkan Jihad Digital: Waspada Belajar Agama dari AI Tanpa Guru
Aktual
MUI Akan Buat Fatwa Zakat Infak dan Sedekah Bisa Bantu Iuran BPJS
MUI Akan Buat Fatwa Zakat Infak dan Sedekah Bisa Bantu Iuran BPJS
Aktual
MUI Usul Zakat Jadi Pengurang Langsung Pajak, Cholil Nafis: Umat Islam Jangan Kena Double Tax
MUI Usul Zakat Jadi Pengurang Langsung Pajak, Cholil Nafis: Umat Islam Jangan Kena Double Tax
Aktual
Benarkah Bulan Safar Membawa Malapetaka? Ini Penjelasan Islam dan Dalil Haditsnya
Benarkah Bulan Safar Membawa Malapetaka? Ini Penjelasan Islam dan Dalil Haditsnya
Aktual
Hukum Minum Alkohol Sedikit dalam Islam, Apakah Tetap Haram Meski Tidak Mabuk?
Hukum Minum Alkohol Sedikit dalam Islam, Apakah Tetap Haram Meski Tidak Mabuk?
Aktual
Apa Itu Istidraj? Pengertian, Dalil, Ciri-Ciri, dan Cara Menghindarinya dalam Islam
Apa Itu Istidraj? Pengertian, Dalil, Ciri-Ciri, dan Cara Menghindarinya dalam Islam
Aktual
Bacaan La Haula Wala Quwwata Illa Billah: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Bacaan La Haula Wala Quwwata Illa Billah: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar