Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

War Takjil Itu Apa? Ini Penjelasan, Waktu dan Menu Favoritnya

Kompas.com, 2 Maret 2026, 11:30 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Setiap Ramadan tiba, suasana sore hari di berbagai sudut kota berubah drastis. Trotoar, halaman masjid, hingga lapangan kecil di perumahan mendadak dipenuhi lapak makanan.

Di tengah keramaian itu, muncul satu istilah yang belakangan akrab di telinga generasi muda, war takjil.

Istilah ini terdengar dramatis, seolah menggambarkan pertempuran. Namun, benarkah demikian?

Baca juga: 30 Menu Buka Puasa Ramadhan 2026 Selama Sebulan Penuh, Lengkap dari Takjil hingga Menu Utama

Apa Itu War Takjil?

Secara sederhana, war takjil adalah ungkapan populer untuk menggambarkan antusiasme masyarakat saat berburu makanan berbuka puasa menjelang Maghrib.

Kata “war” berasal dari bahasa Inggris yang berarti perang, sedangkan “takjil” merujuk pada hidangan pembuka puasa.

Dalam konteks budaya populer, istilah ini digunakan secara hiperbolik, bukan perang sesungguhnya, melainkan suasana saling adu cepat mendapatkan menu favorit sebelum kehabisan.

Fenomena ini berkembang pesat di media sosial, terutama melalui video singkat yang menampilkan antrean panjang dan lapak yang ludes dalam hitungan menit.

Secara etimologis, kata takjil berasal dari bahasa Arab ‘ajjala–yu‘ajjilu yang berarti menyegerakan.

Dalam khazanah fikih puasa, istilah ini berkaitan dengan anjuran menyegerakan berbuka. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk mempercepat berbuka ketika waktu Maghrib telah tiba.

Penjelasan mengenai tradisi berbuka dan anjuran menyegerakan puasa juga banyak dibahas dalam literatur klasik, salah satunya dalam kitab Lathaif al-Ma’arif karya Ibnu Rajab al-Hanbali.

Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa waktu berbuka adalah momen penuh keberkahan yang dianjurkan untuk diisi dengan doa dan rasa syukur.

Dari sinilah istilah takjil berkembang dalam konteks Indonesia menjadi sebutan umum bagi makanan pembuka puasa.

Baca juga: BBPOM DKI Ungkap Ciri-ciri Takjil Mengandung Bahan Berbahaya, Simak Cara Mengenalinya

Dari Pasar Kaget ke Tren Digital

Tradisi berburu makanan menjelang berbuka sejatinya bukan hal baru. Dalam buku Tradisi-tradisi Islam Nusantara Perspektif Filsafat dan Ilmu Pengetahuan karya Puji Rahayu, dkk,  dijelaskan bahwa Ramadan di Indonesia selalu diiringi dinamika sosial-ekonomi yang khas, termasuk maraknya pedagang musiman yang menjual hidangan berbuka.

Namun, yang membuatnya berbeda kini adalah pengaruh media sosial. Ungkapan war takjil menjadi simbol humor kolektif yang menyatukan pengalaman banyak orang.

Video antrean panjang, pembeli yang datang lebih awal, hingga menu yang habis dalam sekejap, menjadi konten yang mudah viral.

Menariknya, fenomena ini tak hanya melibatkan umat Islam. Banyak warga non-Muslim ikut berburu jajanan sore karena tertarik pada ragam kuliner khas Ramadan. Di sinilah war takjil sering disebut sebagai potret inklusivitas sosial yang unik di Indonesia.

Kapan Biasanya War Takjil Terjadi?

Puncak war takjil biasanya berlangsung saat waktu ngabuburit, yakni selepas Ashar hingga menjelang azan Maghrib.

Berdasarkan pengamatan di berbagai kota besar, lonjakan pembeli mulai terlihat sekitar pukul 16.00 WIB.

Menjelang pukul 17.00–17.30 WIB, suasana semakin padat. Pada jam-jam inilah stok makanan favorit mulai menipis, sementara jumlah pembeli terus bertambah.

Lokasi favorit umumnya berada di:

  • Area sekitar masjid besar
  • Pinggir jalan protokol
  • Pasar tradisional
  • Alun-alun kota
  • Kompleks perumahan yang membuka bazar Ramadan

Dalam kajian sosiologi perkotaan, keramaian musiman seperti ini disebut sebagai ruang sosial temporer, ruang interaksi yang terbentuk karena momentum tertentu. Ramadan menjadi katalisator terbentuknya ruang ekonomi dan budaya tersebut.

Baca juga: 5 Resep Takjil Populer Khas Nusantara untuk Buka Puasa Ramadhan Bersama Keluarga

Takjil yang Paling Banyak Dicari

Meski tiap daerah memiliki kekhasan, ada sejumlah menu yang hampir selalu menjadi primadona dan cepat habis.

1. Gorengan: Menu Paling Konsisten Ludes

Aneka gorengan di Bazar Takjil Ramadhan Benhil 2026 atau bazar takjil di Benhil, Jumat (20/2/2026).Kompas.com/Krisda Tiofani Aneka gorengan di Bazar Takjil Ramadhan Benhil 2026 atau bazar takjil di Benhil, Jumat (20/2/2026).
Gorengan kerap menempati posisi teratas dalam daftar buruan. Bakwan, tahu isi, tempe mendoan, hingga risoles selalu habis lebih dulu.

Rasanya yang gurih dan harga yang terjangkau menjadikannya pilihan aman untuk berbuka bersama keluarga.

Dalam buku Kuliner Tradisional Indonesia karya Bondan Winarno, disebutkan bahwa gorengan merupakan bagian penting dari budaya jajan masyarakat urban karena mudah diproduksi dan disukai lintas generasi.

2. Minuman Segar Khas Ramadan

Ilustrasi es buah. DOK. Shutterstock/Ricky_herawan Ilustrasi es buah.
Minuman dingin berbahan buah menjadi favorit setelah seharian menahan haus. Es timun suri, es blewah, sop buah, hingga es kuwut selalu ramai pembeli.

Beberapa minuman bahkan identik dengan Ramadan dan jarang ditemukan di luar bulan puasa, seperti es timun suri dan kolak.

3. Takjil Legendaris dan Menu Viral

Kolak pisang ubi Kolak pisang ubi
Kolak pisang, bubur sumsum, dan bubur candil adalah contoh takjil klasik yang tetap bertahan.

Sementara itu, menu kekinian seperti mango sago, alpukat kocok, atau dessert box sering memicu antrean panjang karena promosi digital yang masif.

Kombinasi antara tradisi dan tren inilah yang membuat variasi takjil semakin beragam dari tahun ke tahun.

Baca juga: 5 Resep Takjil Praktis Favorit Saat Ramadhan, Cocok untuk Anak Kos

Dampak Ekonomi yang Nyata

Fenomena war takjil bukan sekadar soal antrean. Ada dampak ekonomi yang signifikan di baliknya.

Ramadan menjadi momentum peningkatan omzet bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Dalam laporan tahunan Kementerian Koperasi dan UKM, sektor kuliner selalu mengalami kenaikan permintaan selama Ramadan. Perputaran uang meningkat karena konsumsi rumah tangga juga bertambah.

Dengan kata lain, antusiasme berburu takjil ikut mendorong roda ekonomi lokal bergerak lebih cepat.

Mengapa Fenomena Ini Menarik?

War takjil memperlihatkan bagaimana praktik keagamaan berkelindan dengan budaya populer. Ia lahir dari tradisi lama, namun dibingkai dengan bahasa kekinian. Ada unsur religius, ekonomi, sosial, sekaligus hiburan dalam satu momentum.

Di satu sisi, ia mengingatkan kembali pada anjuran menyegerakan berbuka. Di sisi lain, ia menjadi simbol kegembiraan kolektif masyarakat Indonesia dalam menyambut Maghrib.

Ramadan memang bulan ibadah. Namun, di antara kesederhanaan berbuka dengan air dan kurma, ada cerita tentang kebersamaan, antrean yang penuh canda, dan lapak kecil yang membawa harapan bagi pedagangnya.

Jadi, jika suatu sore Anda melihat kerumunan orang bergegas memilih gorengan atau es buah sebelum azan berkumandang, itulah yang disebut war takjil.

Bukan tentang siapa yang paling cepat, melainkan tentang bagaimana Ramadan selalu menghadirkan suasana yang hidup dan hangat di tengah masyarakat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com