KOMPAS.com – Langit Indonesia akan dihiasi fenomena astronomi langka pada Selasa, 3 Maret 2026.
Gerhana Bulan Total dipastikan dapat diamati dari seluruh wilayah Tanah Air, mulai sore hingga malam hari.
Laporan resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa peristiwa ini berlangsung dalam tujuh fase, dengan puncak gerhana terjadi saat Bulan sepenuhnya berada dalam bayangan inti (umbra) Bumi.
Fenomena ini bertepatan dengan suasana Ramadan 1447 H, menghadirkan pengalaman spiritual sekaligus ilmiah bagi masyarakat yang menyaksikannya.
Gerhana Bulan Total terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus. Dalam posisi ini, cahaya Matahari yang seharusnya menerangi Bulan terhalang oleh Bumi.
Meski tertutup bayangan, Bulan tidak sepenuhnya gelap. Ia justru tampak kemerahan, fenomena yang sering disebut blood moon.
Warna merah ini disebabkan oleh hamburan Rayleigh di atmosfer Bumi, yaitu proses ketika cahaya dengan panjang gelombang pendek (biru) lebih banyak tersebar, sementara cahaya merah tetap diteruskan hingga mencapai permukaan Bulan.
Dalam buku Astronomi: Ilmu Pengetahuan Alam Semesta karya A. Gunawan Admiranto dijelaskan bahwa gerhana bulan termasuk peristiwa yang dapat diprediksi secara presisi karena pergerakan orbit Bulan dan Bumi telah dipahami secara matematis.
Gerhana Bulan Total hanya terjadi saat fase purnama dan tidak muncul setiap bulan karena kemiringan bidang orbit Bulan terhadap Bumi.
Baca juga: Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026, Kemenag Ajak Umat Islam Sholat Gerhana di 13 Ramadhan
Menurut BMKG, durasi total fase gerhana penuh berlangsung sekitar 59 menit 27 detik. Berikut jadwal berdasarkan zona waktu di Indonesia:
Baca juga: 7 Hikmah Gerhana: Bukti Kekuasaan Allah hingga Pengingat Hari Kiamat
Puncak gerhana dapat disaksikan pada waktu berikut:
Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya: 18.33 WIB
Samarinda, Denpasar, Makassar, Manado, Kupang: 19.33 WITA
Jayapura: 20.33 WIT
Wilayah pengamatan tidak hanya mencakup Indonesia, tetapi juga Asia Timur, Asia Tenggara, Australia, dan sebagian wilayah Amerika.
Gerhana ini merupakan anggota ke-27 dari 71 gerhana dalam satu seri siklus tertentu. Gerhana sebelumnya yang berkaitan terjadi pada 21 Februari 2008.
Berbeda dengan gerhana matahari, gerhana bulan aman dilihat dengan mata telanjang. Cahaya yang tampak hanyalah pantulan sinar Matahari dari permukaan Bulan.
Agar pengamatan optimal:
Baca juga: Kumpulan Doa Saat Gerhana Bulan Total 7–8 September 2025
Dalam perspektif sains, gerhana adalah konsekuensi logis dari hukum gravitasi dan dinamika orbit.
Namun dalam tradisi Islam, fenomena langit juga dipandang sebagai tanda kebesaran Allah SWT.
Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 164 menyebutkan bahwa pergantian malam dan siang serta peredaran benda langit merupakan tanda-tanda bagi orang yang berpikir.
Dalam buku Tafsir Ilmi: Astronomi dalam Perspektif Al-Qur’an yang diterbitkan Kementerian Agama RI, dijelaskan bahwa fenomena kosmik seperti gerhana bukan pertanda mistis, melainkan bagian dari keteraturan alam semesta yang menunjukkan kekuasaan Allah.
Nabi Muhammad SAW pun mengajarkan agar umat Islam melaksanakan shalat gerhana ketika peristiwa ini terjadi, sebagai bentuk penghambaan dan refleksi spiritual.
Berlangsungnya Gerhana Bulan Total pada bulan Ramadan menghadirkan momen kontemplatif yang mendalam.
Di tengah ibadah puasa, langit malam seakan mengingatkan manusia pada keteraturan kosmos dan kebesaran Sang Pencipta.
Setelah 3 Maret 2026, Gerhana Bulan Total berikutnya baru akan terjadi pada 31 Desember 2028. Artinya, kesempatan menyaksikan Bulan berubah merah sepenuhnya tidak datang setiap tahun.
Perpaduan sains dan spiritualitas dalam satu peristiwa menjadikan momen ini istimewa. Saat azan Maghrib berkumandang di bulan Ramadan, sebagian wilayah Indonesia akan menyaksikan Bulan perlahan memasuki bayangan Bumi.
Langit malam tak sekadar gelap dan bercahaya. Ia menyimpan pelajaran tentang keteraturan, kebesaran, dan keindahan semesta yang bekerja dalam ketetapan-Nya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang