Editor
KOMPAS.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan memaparkan hasil pemantauan tayangan televisi selama 10 hari pertama Ramadan 1447 H. Pemantauan ini dilakukan untuk memastikan siaran Ramadan tetap menghadirkan konten yang edukatif, religius, dan sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Wakil Sekretaris Komisi Informasi, Komunikasi dan Digital (Infokomdigi) MUI Mohammad Nur Huda mengatakan ekspose hasil pemantauan tersebut akan digelar pada Kamis (5/3/2026) di Aula Buya Hamka, Kantor MUI, Jakarta Pusat.
Kegiatan ini menjadi bagian dari program rutin MUI yang telah dilakukan setiap Ramadan sejak 2007.
Huda menjelaskan, pemantauan tahun ini dilakukan terhadap 16 stasiun televisi dengan melibatkan 32 pemantau yang berasal dari pengurus MUI lintas komisi serta para praktisi dan pakar komunikasi serta media.
Baca juga: MUI: Zakat Bisa Jadi Instrumen Pengurangan Pajak, Perlu Regulasi Jelas
“Pada acara expose nanti, kami akan memaparkan beberapa poin krusial mengenai catatan kritis, kepatuhan regulasi dan apresiasi program terbaik terhadap 10 hari pertama siaran Ramadhan 1447 H,” kata Huda kepada MUI Digital di Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Menurut Huda, tim pemantau menelaah berbagai jenis program televisi yang tayang selama Ramadan.
Mulai dari sinetron religi, ceramah agama, hingga program komedi yang biasanya muncul menjelang waktu berbuka puasa maupun sahur.
Melalui pemantauan tersebut, MUI ingin memastikan tayangan Ramadan tetap menjaga nilai-nilai etika dan ajaran agama.
“Kami ingin memastikan bahwa semangat Ramadhan tidak tergerus oleh konten yang hanya mengejar rating, tetapi tidak mengabaikan adab dan tuntunan agama,” lanjut Huda.
Selain itu, pemantauan juga bertujuan mengevaluasi sejauh mana lembaga penyiaran mematuhi Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) KPI serta fatwa-fatwa MUI yang relevan.
Huda menegaskan kerja sama antara MUI dan KPI merupakan bagian dari upaya bersama untuk menciptakan ekosistem penyiaran yang sehat bagi masyarakat.
“Hasil pemantauan akan menjadi rekomendasi resmi MUI kepada KPI maupun bagi lembaga penyiaran untuk melakukan perbaikan kualitas di masa mendatang,” ungkapnya.
Ketua Tim Pemantau Tayangan TV Ramadan 2026 Rida Hesti Ratnasari mengungkapkan, program pemantauan tahun ini memiliki sejumlah pembaruan dibandingkan tahun sebelumnya.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah ketepatan penulisan dan pelafalan ayat Al-Qur’an serta hadis dalam tayangan televisi.
Menurut Rida, dalam beberapa tayangan sebelumnya masih ditemukan kesalahan penulisan teks Arab maupun pelafalan ayat dan hadis oleh penceramah di televisi.
“Dan untuk tahun ini, kekhasan, keemuian lebih detail lagi memantau lafad-lafad dan teks ayat hadis yang diucapkan maupun dituliskan pada tayangan yang selama ini kadang luput gitu ya. Ada yang salah tulis teks dalam bahasa Arabnya, atau keliru melafadkan ayat dan hadis yang dilakukan oleh para pencerama di televisi,” kata Rida menjelaskan.
Rida juga menjelaskan bahwa metode pemantauan tahun ini lebih luas dibandingkan sebelumnya.
Jika sebelumnya fokus pada waktu prime time seperti sebelum sahur atau menjelang berbuka puasa, kini pemantauan juga dilakukan pada jam tayang lain.
Menurutnya, tayangan di luar prime time juga bisa menjadi perhatian jika ditemukan indikasi pelanggaran atau ketidakpatutan.
“Instrumen yang disiapkan tidak hanya mengukur kepatuhan dan kepatutan, tetapi juga mengarah kepada apresiasi terhadap program tayangan yang kontributif dalam hal-hal yang tadi saya sebutkan,” jelasnya.
Rida berharap tayangan televisi selama Ramadan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Baca juga: MUI Kecam Serangan Israel-AS ke Iran, Jangan Sentuh Dua Kota Suci
Termasuk dengan menghadirkan nilai-nilai empati terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di masyarakat, seperti bencana di sejumlah daerah.
“Itu juga agar Ramadhan ini memberikan nilai-nilai kebaikan yang dirasakan oleh masyarakat, bukan hanya oleh pemirsa, tetapi juga seluruh masyarakat pada umumnya,” harapnya.
Kegiatan ekspose hasil pemantauan ini rencananya akan dihadiri sejumlah tokoh, antara lain Ketua KPI Pusat Ubaidillah, Wakil Ketua Umum MUI KH Cholil Nafis, Ketua MUI Bidang Infokomdigi KH Masduki Baidlowi, Ketua MUI Bidang Fatwa Prof KH Asrorun Ni’am Sholeh, serta Ketua Komisi Infokomdigi MUI Hari Usmayadi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang