Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Misteri Ayah di Kaleng Khong Guan Terjawab, Ternyata Pulang Jam 6 Sore

Kompas.com, 5 Maret 2026, 19:40 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kaleng biskuit merah bergambar seorang ibu dan dua anak yang sedang menikmati teh sore hampir selalu hadir di ruang tamu saat Lebaran.

Bagi banyak keluarga Indonesia, gambar pada kaleng biskuit Khong Guan bahkan terasa lebih dari sekadar kemasan produk, ia menjadi bagian dari nostalgia masa kecil dan tradisi Hari Raya.

Namun sejak lama, satu pertanyaan terus muncul setiap Ramadhan dan Idul Fitri, ke mana sosok ayah dalam gambar keluarga pada kaleng Khong Guan?

Pertanyaan ini sering muncul di media sosial, bahkan menjadi bahan candaan yang berulang setiap tahun.

Ada yang berseloroh sang ayah sedang memotret keluarga, ada pula yang mengatakan ia “belum pulang kerja”.

Di balik candaan tersebut, ternyata ada cerita panjang yang melibatkan ilustrator Indonesia, strategi pemasaran, hingga jejak ilustrasi dari buku anak-anak klasik di Inggris.

Gambar Ikonik yang Selalu Muncul Saat Lebaran

Di Indonesia, biskuit Khong Guan dikenal luas sebagai salah satu sajian khas Lebaran. Banyak keluarga menaruhnya di meja tamu untuk menjamu tamu yang datang bersilaturahmi.

Selain rasanya, yang paling mudah dikenali adalah ilustrasi pada kalengnya, seorang ibu menuangkan minuman, sementara dua anak duduk di meja menikmati biskuit.

Yang membuatnya unik adalah ketiadaan sosok ayah dalam adegan keluarga tersebut.

Fenomena ini sering memicu rasa penasaran masyarakat. Tak jarang warganet kembali mengangkat pertanyaan yang sama setiap menjelang Lebaran.

Baca juga: Niat I’tikaf 10 Malam Terakhir Ramadhan: Bacaan, Syarat, dan Tata Cara

Pelukisnya Adalah Seniman Indonesia

Ilustrasi keluarga pada kaleng biskuit Khong Guan dibuat oleh pelukis Indonesia, Bernardus Prasodjo.

Ia mengerjakan lukisan tersebut sekitar tahun 1970-an setelah menerima pesanan dari sebuah perusahaan separasi film yang menggarap desain kemasan produk.

Bernardus menjelaskan bahwa proses pembuatan gambar itu dilakukan melalui beberapa tahap. Ia terlebih dahulu membuat sketsa, lalu memperlihatkannya kepada pihak perusahaan.

“Kita sketch dulu. Kira-kira seperti ini mau enggak. Sampai sudah setuju kira-kira komposisinya seperti itu, baru kita lukis,” kata Bernardus, dikutip dari Kompas.com, Kamis (5/3/2026).

Sketsa tersebut kemudian dikembangkan menjadi lukisan yang akhirnya digunakan sebagai ilustrasi kemasan biskuit Khong Guan hingga sekarang.

Inspirasi dari Potongan Gambar Majalah

Menariknya, ide awal gambar tersebut bukan sepenuhnya datang dari Bernardus.

Ia mengaku menerima contoh berupa potongan gambar dari sebuah majalah lama. Gambar itu kemudian dijadikan referensi untuk membuat ilustrasi yang sesuai dengan kebutuhan desain produk.

Bernardus mengatakan bahwa perubahan yang ia lakukan sebenarnya tidak terlalu besar. Beberapa bagian hanya disesuaikan, misalnya posisi anak atau warna pakaian tokoh.

“Ya cuma ini bajunya warna kuning, yang ini merah. Kemudian anaknya yang ini rada digeser ke mari, yang ini jadi pegang biskuit,” ujar Bernardus menjelaskan proses adaptasi gambar tersebut.

Dari situlah lahir ilustrasi keluarga yang kemudian menjadi salah satu gambar kemasan paling ikonik di Indonesia.

Baca juga: Dzikir di 10 Malam Terakhir Ramadhan, Kunci Mendapat Lailatul Qadar

Mengapa Tidak Ada Sosok Ayah?

Pertanyaan terbesar tetap sama: mengapa dalam ilustrasi itu tidak ada ayah?

Bernardus sendiri mengaku tidak mengetahui alasan pasti dari keputusan tersebut. Namun ia memiliki dugaan terkait strategi pemasaran.

Menurutnya, gambar itu mungkin sengaja menonjolkan sosok ibu karena dalam banyak keluarga, ibu rumah tangga adalah pihak yang sering berbelanja kebutuhan rumah tangga.

“Menurut saya itu cara untuk mempengaruhi ibu rumah tangga supaya membeli. Jadi yang penting ada ibunya di situ,” kata Bernardus.

Ia menambahkan, “yang belanja ibunya kok.”

Teori ini dianggap masuk akal karena produk makanan rumah tangga memang sering menyasar ibu sebagai pengambil keputusan dalam belanja keluarga.

Misteri Itu Ternyata Berkaitan dengan Buku Anak dari Inggris

Meski begitu, misteri tentang ayah dalam gambar Khong Guan ternyata memiliki cerita lain yang lebih menarik.

Penelusuran sejumlah peneliti ilustrasi menemukan bahwa gambar keluarga tersebut memiliki kemiripan dengan ilustrasi dalam buku anak-anak klasik Inggris terbitan 1959 dari penerbit Ladybird Books.

Buku tersebut menampilkan ilustrasi karya seniman Inggris Harry Wingfield.

Potongan gambar LadybirdDoc. ladybirdflyawayhome.com Potongan gambar Ladybird
Dalam ilustrasi pertama yang sangat mirip dengan gambar di kaleng Khong Guan, digambarkan ibu dan dua anak sedang menikmati teh sore.

Keterangan di halaman itu menyebutkan bahwa kegiatan tersebut berlangsung pukul empat sore.

Potongan gambar LadybirdDoc. ladybirdflyawayhome.com Potongan gambar Ladybird
Pada halaman berikutnya, cerita berlanjut. Di situ digambarkan anak-anak berlari menyambut seseorang yang baru datang ke rumah. Keterangan di samping gambar menyebutkan: “Pada pukul enam sore ayah pulang.”

Perlu diketahui, dua anak yang muncul dalam ilustrasi keluarga tersebut bernama Peter dan Jane.

Dalam kelanjutan cerita pada ilustrasi aslinya, keduanya kemudian digambarkan berlari ke halaman rumah untuk menyambut ayah mereka yang baru saja pulang dari bekerja.

Artinya, sang ayah sebenarnya tidak hilang. Ia hanya belum ada di rumah saat keluarga menikmati teh sore, karena masih berada di tempat kerja. Dua jam kemudian, ia kembali dan disambut gembira oleh istri serta anak-anaknya.

Baca juga: Tren Lebaran 2026: Baju Kurung Melayu dan Inspirasi Padu Padan Hijab yang Elegan

Dari Ilustrasi Buku ke Ikon Budaya Populer

Meski berasal dari ilustrasi buku anak di Inggris, gambar itu justru menjadi ikon budaya populer di Indonesia.

Selama puluhan tahun, kaleng biskuit Khong Guan bukan hanya dikenal sebagai kemasan makanan, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi Lebaran.

Bahkan setelah biskuitnya habis, kaleng tersebut sering digunakan kembali untuk menyimpan kerupuk, rengginang, atau kue buatan rumah.

Di sisi lain, misteri tentang sosok ayah dalam gambar itu juga berkembang menjadi fenomena budaya populer.

Banyak meme, parodi, hingga diskusi di media sosial yang mencoba menebak ke mana ayah dalam keluarga Khong Guan.

Jawaban yang Ternyata Sederhana

Jika menelusuri sejarah ilustrasinya, jawaban atas misteri itu sebenarnya cukup sederhana.

Pertama, dari sisi desain kemasan, gambar tersebut memang menonjolkan sosok ibu sebagai target utama konsumen.

Kedua, dari sisi cerita ilustrasi asalnya, adegan di meja makan hanyalah satu bagian dari rangkaian cerita yang belum menampilkan kehadiran sang ayah.

Dengan kata lain, ayah dalam keluarga itu tidak hilang, ia hanya belum muncul dalam adegan yang akhirnya dipilih sebagai gambar kemasan biskuit.

Ikon Nostalgia yang Terus Hidup

Kini, setelah lebih dari setengah abad, ilustrasi keluarga pada kaleng biskuit Khong Guan tetap bertahan tanpa perubahan berarti.

Gambar sederhana itu terus muncul setiap Ramadhan dan Lebaran, mengingatkan banyak orang pada masa kecil, tradisi keluarga, dan momen berkumpul bersama.

Dan mungkin justru karena misterinya yang sempat memancing rasa penasaran itulah, gambar tersebut tetap hidup dalam ingatan banyak orang.

Sebuah ilustrasi sederhana, yang awalnya hanya desain kemasan, akhirnya berubah menjadi ikon budaya yang melekat dalam memori kolektif masyarakat Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com