KOMPAS.com - Kaleng biskuit merah bergambar seorang ibu dan dua anak yang sedang menikmati teh sore hampir selalu hadir di ruang tamu saat Lebaran.
Bagi banyak keluarga Indonesia, gambar pada kaleng biskuit Khong Guan bahkan terasa lebih dari sekadar kemasan produk, ia menjadi bagian dari nostalgia masa kecil dan tradisi Hari Raya.
Namun sejak lama, satu pertanyaan terus muncul setiap Ramadhan dan Idul Fitri, ke mana sosok ayah dalam gambar keluarga pada kaleng Khong Guan?
Pertanyaan ini sering muncul di media sosial, bahkan menjadi bahan candaan yang berulang setiap tahun.
Ada yang berseloroh sang ayah sedang memotret keluarga, ada pula yang mengatakan ia “belum pulang kerja”.
Di balik candaan tersebut, ternyata ada cerita panjang yang melibatkan ilustrator Indonesia, strategi pemasaran, hingga jejak ilustrasi dari buku anak-anak klasik di Inggris.
Di Indonesia, biskuit Khong Guan dikenal luas sebagai salah satu sajian khas Lebaran. Banyak keluarga menaruhnya di meja tamu untuk menjamu tamu yang datang bersilaturahmi.
Selain rasanya, yang paling mudah dikenali adalah ilustrasi pada kalengnya, seorang ibu menuangkan minuman, sementara dua anak duduk di meja menikmati biskuit.
Yang membuatnya unik adalah ketiadaan sosok ayah dalam adegan keluarga tersebut.
Fenomena ini sering memicu rasa penasaran masyarakat. Tak jarang warganet kembali mengangkat pertanyaan yang sama setiap menjelang Lebaran.
Baca juga: Niat I’tikaf 10 Malam Terakhir Ramadhan: Bacaan, Syarat, dan Tata Cara
Ilustrasi keluarga pada kaleng biskuit Khong Guan dibuat oleh pelukis Indonesia, Bernardus Prasodjo.
Ia mengerjakan lukisan tersebut sekitar tahun 1970-an setelah menerima pesanan dari sebuah perusahaan separasi film yang menggarap desain kemasan produk.
Bernardus menjelaskan bahwa proses pembuatan gambar itu dilakukan melalui beberapa tahap. Ia terlebih dahulu membuat sketsa, lalu memperlihatkannya kepada pihak perusahaan.
“Kita sketch dulu. Kira-kira seperti ini mau enggak. Sampai sudah setuju kira-kira komposisinya seperti itu, baru kita lukis,” kata Bernardus, dikutip dari Kompas.com, Kamis (5/3/2026).
Sketsa tersebut kemudian dikembangkan menjadi lukisan yang akhirnya digunakan sebagai ilustrasi kemasan biskuit Khong Guan hingga sekarang.
Menariknya, ide awal gambar tersebut bukan sepenuhnya datang dari Bernardus.
Ia mengaku menerima contoh berupa potongan gambar dari sebuah majalah lama. Gambar itu kemudian dijadikan referensi untuk membuat ilustrasi yang sesuai dengan kebutuhan desain produk.
Bernardus mengatakan bahwa perubahan yang ia lakukan sebenarnya tidak terlalu besar. Beberapa bagian hanya disesuaikan, misalnya posisi anak atau warna pakaian tokoh.
“Ya cuma ini bajunya warna kuning, yang ini merah. Kemudian anaknya yang ini rada digeser ke mari, yang ini jadi pegang biskuit,” ujar Bernardus menjelaskan proses adaptasi gambar tersebut.
Dari situlah lahir ilustrasi keluarga yang kemudian menjadi salah satu gambar kemasan paling ikonik di Indonesia.
Baca juga: Dzikir di 10 Malam Terakhir Ramadhan, Kunci Mendapat Lailatul Qadar
Pertanyaan terbesar tetap sama: mengapa dalam ilustrasi itu tidak ada ayah?
Bernardus sendiri mengaku tidak mengetahui alasan pasti dari keputusan tersebut. Namun ia memiliki dugaan terkait strategi pemasaran.
Menurutnya, gambar itu mungkin sengaja menonjolkan sosok ibu karena dalam banyak keluarga, ibu rumah tangga adalah pihak yang sering berbelanja kebutuhan rumah tangga.
“Menurut saya itu cara untuk mempengaruhi ibu rumah tangga supaya membeli. Jadi yang penting ada ibunya di situ,” kata Bernardus.
Ia menambahkan, “yang belanja ibunya kok.”
Teori ini dianggap masuk akal karena produk makanan rumah tangga memang sering menyasar ibu sebagai pengambil keputusan dalam belanja keluarga.
Meski begitu, misteri tentang ayah dalam gambar Khong Guan ternyata memiliki cerita lain yang lebih menarik.
Penelusuran sejumlah peneliti ilustrasi menemukan bahwa gambar keluarga tersebut memiliki kemiripan dengan ilustrasi dalam buku anak-anak klasik Inggris terbitan 1959 dari penerbit Ladybird Books.
Buku tersebut menampilkan ilustrasi karya seniman Inggris Harry Wingfield.
Potongan gambar LadybirdKeterangan di halaman itu menyebutkan bahwa kegiatan tersebut berlangsung pukul empat sore.
Potongan gambar LadybirdPerlu diketahui, dua anak yang muncul dalam ilustrasi keluarga tersebut bernama Peter dan Jane.
Dalam kelanjutan cerita pada ilustrasi aslinya, keduanya kemudian digambarkan berlari ke halaman rumah untuk menyambut ayah mereka yang baru saja pulang dari bekerja.
Artinya, sang ayah sebenarnya tidak hilang. Ia hanya belum ada di rumah saat keluarga menikmati teh sore, karena masih berada di tempat kerja. Dua jam kemudian, ia kembali dan disambut gembira oleh istri serta anak-anaknya.
Baca juga: Tren Lebaran 2026: Baju Kurung Melayu dan Inspirasi Padu Padan Hijab yang Elegan
Meski berasal dari ilustrasi buku anak di Inggris, gambar itu justru menjadi ikon budaya populer di Indonesia.
Selama puluhan tahun, kaleng biskuit Khong Guan bukan hanya dikenal sebagai kemasan makanan, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi Lebaran.
Bahkan setelah biskuitnya habis, kaleng tersebut sering digunakan kembali untuk menyimpan kerupuk, rengginang, atau kue buatan rumah.
Di sisi lain, misteri tentang sosok ayah dalam gambar itu juga berkembang menjadi fenomena budaya populer.
Banyak meme, parodi, hingga diskusi di media sosial yang mencoba menebak ke mana ayah dalam keluarga Khong Guan.
Jika menelusuri sejarah ilustrasinya, jawaban atas misteri itu sebenarnya cukup sederhana.
Pertama, dari sisi desain kemasan, gambar tersebut memang menonjolkan sosok ibu sebagai target utama konsumen.
Kedua, dari sisi cerita ilustrasi asalnya, adegan di meja makan hanyalah satu bagian dari rangkaian cerita yang belum menampilkan kehadiran sang ayah.
Dengan kata lain, ayah dalam keluarga itu tidak hilang, ia hanya belum muncul dalam adegan yang akhirnya dipilih sebagai gambar kemasan biskuit.
Kini, setelah lebih dari setengah abad, ilustrasi keluarga pada kaleng biskuit Khong Guan tetap bertahan tanpa perubahan berarti.
Gambar sederhana itu terus muncul setiap Ramadhan dan Lebaran, mengingatkan banyak orang pada masa kecil, tradisi keluarga, dan momen berkumpul bersama.
Dan mungkin justru karena misterinya yang sempat memancing rasa penasaran itulah, gambar tersebut tetap hidup dalam ingatan banyak orang.
Sebuah ilustrasi sederhana, yang awalnya hanya desain kemasan, akhirnya berubah menjadi ikon budaya yang melekat dalam memori kolektif masyarakat Indonesia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang