KOMPAS.com – Staf Khusus Menteri Pemuda dan Olahraga Bidang Humas, Tsamara Amany, mendorong Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) untuk memperluas keterlibatan generasi muda dalam gerakan zakat dan aksi sosial di Indonesia.
Hal itu disampaikan Tsamara dalam talkshow bertajuk “Zakat Menguatkan Indonesia: Mengelola Potensi Zakat dan Filantropi Islam untuk Kesejahteraan Umat Melalui Media Massa” yang digelar di Aula Achmad Subianto, Kantor Pusat Baznas RI, Jakarta, Senin (16/3/2026).
Menurut Tsamara, mayoritas penduduk Indonesia saat ini berada pada usia produktif dan banyak di antaranya memiliki ketertarikan besar terhadap kegiatan yang memberikan dampak sosial.
Ia menilai potensi tersebut perlu difasilitasi melalui ruang atau jalur yang jelas agar semangat kontribusi generasi muda dapat tersalurkan secara positif.
“Banyak anak muda Indonesia yang sebenarnya ingin berkontribusi untuk dampak sosial. Jika ada ruang dan jalurnya, saya percaya mereka akan terlibat aktif,” ujar Tsamara.
Baca juga: Baznas Gandeng Media Perluas Literasi Zakat dan Filantropi Islam
Ia menyebut berbagai survei global menunjukkan sekitar 60–70 persen generasi Z memiliki minat besar pada aktivitas yang memberikan dampak sosial bagi masyarakat.
Namun, Tsamara juga menyoroti fenomena meningkatnya penggunaan layanan pinjaman online di kalangan anak muda.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2025, nilai pinjaman online tercatat mencapai sekitar Rp96 triliun dan didominasi oleh kelompok usia 19 hingga 34 tahun.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi perhatian karena menunjukkan banyak anak muda yang terpapar aktivitas finansial berisiko.
Karena itu, Tsamara menilai perlu adanya alternatif ruang kegiatan yang lebih produktif, termasuk melalui gerakan sosial dan filantropi.
“Ini menjadi concern kami juga. Kita perlu mencarikan ruang lain agar energi dan ketertarikan anak muda bisa tersalurkan pada aktivitas yang lebih positif,” kata dia.
Baca juga: Prabowo, Gibran, dan Menteri Kabinet Merah Putih Tunaikan Zakat di Istana, Terkumpul Rp 3,8 M
Dalam kesempatan tersebut, Tsamara juga menyoroti peran Baznas dalam memberikan dampak sosial bagi masyarakat.
Ia menyebut lembaga tersebut memiliki rekam jejak yang kuat dalam pengentasan kemiskinan dan bantuan kemanusiaan.
Mengacu pada data Baznas, pada 2023 lembaga tersebut disebut berhasil membantu sekitar 54.000 orang keluar dari garis kemiskinan.
“Ini capaian yang luar biasa, karena Baznas bekerja tidak hanya sebagai lembaga pengumpul dana, tetapi juga menjalankan fungsi sosial yang nyata untuk membantu masyarakat,” ungkap Tsamara.
Selain itu, ia juga menyinggung kontribusi Baznas dalam penyaluran bantuan kemanusiaan untuk Palestina yang dinilai menjadi bentuk solidaritas masyarakat Indonesia terhadap isu kemanusiaan global.
Meski demikian, Tsamara menilai peran besar Baznas masih perlu diperkuat dari sisi publikasi dan komunikasi kepada masyarakat.
Menurut dia, banyak program dan dampak sosial Baznas yang belum diketahui secara luas oleh publik.
“Kalau memakai istilah anak muda sekarang, Baznas ini masih underrated. Perlu kita tingkatkan lagi publikasi dan sorotannya di media sosial maupun media massa,” kata Tsamara.
Baca juga: Zakat, Pajak, dan Keadilan Fiskal
Ia menambahkan, pendekatan komunikasi berbasis cerita atau storytelling mengenai dampak program dinilai penting untuk meningkatkan partisipasi masyarakat.
Dengan narasi yang kuat mengenai keberhasilan program zakat, kata dia, publik akan lebih terdorong untuk berkontribusi melalui lembaga resmi seperti Baznas.
Selain sebagai donatur, Tsamara juga mendorong generasi muda terlibat sebagai relawan maupun penggerak kampanye sosial.
Menurut dia, anak muda dapat berperan dalam menyebarkan informasi, menggerakkan aksi solidaritas, serta memperluas jangkauan kampanye filantropi.
“Anak muda bisa berkontribusi bukan hanya melalui dana, tetapi juga sebagai relawan, penyebar informasi, dan penggerak aksi sosial,” ujar dia.
Tsamara menambahkan bahwa potensi zakat nasional sebenarnya sangat besar. Berbagai kajian memperkirakan potensi zakat di Indonesia dapat mencapai sekitar Rp 300 triliun per tahun, namun realisasinya saat ini masih jauh di bawah angka tersebut.
Karena itu, ia berharap penguatan komunikasi publik serta keterlibatan generasi muda dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menunaikan zakat melalui lembaga resmi.
“Jika narasi dampaknya kuat dan masyarakat tahu saluran yang kredibel, saya yakin partisipasi publik akan semakin besar,” tutup Tsamara.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang