KOMPAS.com – Sejumlah pembicara dalam talkshow bertajuk “Zakat Menguatkan Indonesia: Mengelola Potensi Zakat dan Filantropi Islam untuk Kesejahteraan Umat Melalui Media Massa” menyoroti besarnya potensi zakat dan filantropi Islam di Indonesia serta pentingnya peran media dalam memperkuat literasi dan kepercayaan publik.
Diskusi tersebut digelar di Aula Achmad Subianto, Kantor Pusat Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI, Jakarta, Senin (16/3/2026).
Pemimpin Redaksi Kompas.com, Amir Sodikin, mengatakan persoalan utama dalam ekonomi global bukan semata kekurangan uang, melainkan ketimpangan distribusi kekayaan.
Menurut dia, sebagian kecil kelompok masyarakat menguasai porsi kekayaan yang sangat besar, sehingga berbagai instrumen ekonomi modern seperti pajak kekayaan atau universal basic income terus dicari untuk mengatasi ketimpangan tersebut.
Baca juga: Baznas Gandeng Media Perluas Literasi Zakat dan Filantropi Islam
Amir menilai konsep zakat yang telah dikenal dalam Islam sejak lebih dari 1.400 tahun lalu sebenarnya menawarkan mekanisme redistribusi yang relevan dalam menjaga keseimbangan sosial.
“Zakat bukan hanya kewajiban individual, tetapi juga bentuk kesalehan sosial yang menjaga solidaritas antara kelompok kaya dan miskin,” ujar Amir.
Ia menjelaskan bahwa zakat dapat berfungsi sebagai penyeimbang sosial yang mengurangi kesenjangan sekaligus mencegah terjadinya konflik akibat ketimpangan ekonomi.
Amir juga menyoroti besarnya potensi zakat nasional yang diperkirakan mencapai sekitar Rp327 triliun per tahun, namun realisasi penghimpunannya masih sekitar Rp41 triliun.
“Artinya ruang pertumbuhannya masih sangat besar. Kita perlu meningkatkan partisipasi masyarakat agar potensi tersebut dapat dimaksimalkan,” kata dia.
Ia menambahkan, peningkatan partisipasi zakat dapat didorong melalui pendekatan ekonomi perilaku atau nudge, seperti pesan sosial yang mengingatkan bahwa sebagian besar masyarakat telah menunaikan zakat.
Selain itu, kemudahan kanal pembayaran digital juga dinilai penting untuk memudahkan masyarakat menunaikan zakat.
Sementara itu, Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin, menekankan pentingnya memperluas narasi filantropi Islam di media, tidak hanya terbatas pada zakat tetapi juga instrumen lain seperti wakaf, infak, dan sedekah.
Menurut dia, potensi filantropi Islam di Indonesia bisa jauh lebih besar jika seluruh instrumen tersebut dioptimalkan.
Ia juga menyoroti besarnya solidaritas masyarakat Indonesia terhadap isu kemanusiaan global, termasuk bantuan untuk warga Palestina.
Andi mengaku pernah melihat langsung peran relawan Indonesia di Yordania yang membantu menyalurkan bantuan bagi pengungsi Palestina.
“Saya bertemu mahasiswa Indonesia di Yordania yang membantu distribusi bantuan. Banyak dari mereka adalah generasi muda yang sangat peduli pada aksi kemanusiaan,” ujar Andi.
Baca juga: Tsamara Amany: Potensi Zakat Rp 300 Triliun, Pemuda Perlu Dilibatkan
Karena itu, ia menilai stigma yang menyebut generasi Z tidak peduli terhadap isu sosial perlu dikoreksi.
Menurut Andi, banyak anak muda justru aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan, termasuk membantu penyaluran bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Dalam kesempatan yang sama, Pimpinan Baznas Idy Muzayyad menilai komunikasi mengenai zakat perlu disampaikan dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat, termasuk generasi muda.
Ia mengusulkan sejumlah pendekatan komunikasi yang lebih sederhana, seperti penggunaan tagline yang mudah diingat.
“Zakat itu mudah, zakat itu indah, dan zakat itu berkah. Pesan seperti ini lebih mudah dipahami masyarakat,” kata Idy.
Menurut dia, penguatan sinergi antara Baznas dan media menjadi hal penting agar berbagai program zakat dan kisah inspiratif penerima manfaat dapat diketahui publik secara luas.
Sementara itu, Pimpinan Baznas Rizaludin Kurniawan menjelaskan bahwa strategi penghimpunan zakat juga dilakukan dengan memperkuat basis donatur dari generasi muda.
Ia menyebut sekitar 70 persen jumlah donatur Baznas berasal dari generasi Z dan milenial. Namun, kontribusi terbesar masih berasal dari kelompok usia di atas 40 tahun.
“Karena itu, strategi kami adalah memperkuat basis donatur muda agar nantinya berkembang menjadi donatur yang loyal,” kata Rizaludin.
Baca juga: Baznas NTB Siapkan Penerima Zakat Jadi Pemasok Program MBG
Selain itu, Baznas juga memperkuat sejumlah strategi lain, mulai dari peningkatan layanan kepada donatur, pengembangan kanal pembayaran zakat, digitalisasi pengelolaan dana umat, hingga peningkatan kompetensi sumber daya manusia pengelola zakat.
Ia menambahkan bahwa kepercayaan publik menjadi faktor utama yang mendorong masyarakat menunaikan zakat melalui lembaga resmi.
“Banyak muzakki memilih menyalurkan zakat melalui Baznas karena faktor kepercayaan terhadap lembaga,” ujarnya.
Melalui kolaborasi dengan media serta penguatan komunikasi publik, Baznas berharap literasi zakat dan filantropi Islam di Indonesia dapat terus meningkat sehingga semakin banyak masyarakat yang terlibat dalam gerakan sosial tersebut.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang