Editor
KOMPAS.com - Khutbah Idul Fitri merupakan bagian penting dalam rangkaian ibadah hari raya yang tidak boleh diabaikan. Meski secara umum memiliki kesamaan dengan khutbah Jumat, terdapat perbedaan mendasar yang perlu dipahami oleh setiap khatib.
Salah satu perbedaan utama adalah waktu pelaksanaannya. Jika khutbah Jumat dilakukan sebelum salat, maka khutbah Idul Fitri dilaksanakan setelah salat ‘Id. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: شَهِدْتُ النَّبِيَّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ يُصَلُّونَ الْعِيدَيْنِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ
Artinya: “Dari Ibn Abbas, beliau berkata: Aku menyaksikan Nabi SAW, Abu Bakar, dan Umar melaksanakan shalat dua hari raya sebelum khutbah.” (HR an-Nasai)
Baca juga: 3 Contoh Khutbah Idul Fitri NU Menyentuh Hati dan Penuh Makna
Syekh Zakariya al-Anshari menjelaskan bahwa khutbah ‘Id memiliki rukun dan kesunnahan yang sama seperti khutbah Jumat. Dalam kitabnya disebutkan:
صَلَاةُ الْعِيدَيْنِ سُنَّةٌ وَلَوْ لِمُنْفَرِدٍ وَمُسَافِرٍ... وَسُنَّ خُطْبَتَانِ بَعْدَهُمَا لِجَمَاعَةٍ كَجُمُعَةٍ فِي أَرْكَانٍ وَسُنَنٍ، وَيَفْتَتِحُ الْأُولَى بِتِسْعِ تَكْبِيرَاتٍ، وَالثَّانِيَةَ بِسَبْعٍ وِلَاءً
Artinya, khutbah Idul Fitri terdiri dari dua khutbah, sebagaimana khutbah Jumat, dengan pembukaan takbir sembilan kali pada khutbah pertama dan tujuh kali pada khutbah kedua.
Penjelasan ini diperkuat oleh Syekh Mustafa al-Khin yang merinci rukun khutbah sebagai berikut:
ثُمَّ إِنَّ لِلْخُطْبَتَيْنِ أَرْكَانًا هِيَ: الْأَوَّلُ: حَمْدُ اللَّهِ تَعَالَى، بِأَيِّ صِيغَةٍ كَانَ. الثَّانِي: الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، بِأَيِّ صِيغَةٍ مِنَ الصَّلَوَاتِ، بِشَرْطِ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَهُ الصَّرِيحَ كَالنَّبِيِّ أَوِ الرَّسُولِ أَوْ مُحَمَّدٍ، فَلَا يَكْفِي ذِكْرُ الضَّمِيرِ بَدَلًا مِنَ الِاسْمِ الصَّرِيحِ. الثَّالِثُ: الْوَصِيَّةُ بِالتَّقْوَى، بِأَيِّ الْأَلْفَاظِ وَالْأَسَالِيبِ كَانَتْ. فَهٰذِهِ الْأَرْكَانُ الثَّلَاثَةُ أَرْكَانٌ لِكِلْتَا الْخُطْبَتَيْنِ، لَا يَصِحُّ كُلٌّ مِنْهُمَا إِلَّا بِهَا. الرَّابِعُ: قِرَاءَةُ آيَةٍ مِنَ الْقُرْآنِ فِي إِحْدَى الْخُطْبَتَيْنِ، وَيُشْتَرَطُ أَنْ تَكُونَ الْآيَةُ مُفْهِمَةً وَوَاضِحَةَ الْمَعْنَى، فَلَا يَكْفِي قِرَاءَةُ آيَةٍ مِنَ الْحُرُوفِ الْمُقَطَّعَةِ أَوَائِلِ السُّوَرِ. الْخَامِسُ: الدُّعَاءُ لِلْمُؤْمِنِينَ فِي الْخُطْبَةِ الثَّانِيَةِ، بِمَا يَقَعُ عَلَيْهِ اسْمُ الدُّعَاءِ عُرْفًا
Artinya, rukun khutbah meliputi:
Sebagaimana khutbah Jumat, khutbah Idul Fitri terdiri dari dua bagian yang dipisahkan dengan duduk sejenak.
Dimulai dengan:
Dilanjutkan dengan:
Khutbah Idul Fitri bukan sekadar pelengkap setelah salat ‘Id. Lebih dari itu, khutbah menjadi sarana dakwah yang sangat penting dalam menguatkan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat.
Baca juga: Khutbah Idul Fitri: 9 Pelajaran dari “Madrasah Ramadan” agar Tetap Istiqamah Setelah Lebaran
Karena itu, khatib dituntut untuk memahami rukun, susunan, serta menyampaikan materi khutbah dengan baik agar dapat menyentuh hati jamaah.
Dengan memahami panduan ini, diharapkan khutbah Idul Fitri dapat dilaksanakan sesuai tuntunan syariat dan memberi manfaat luas bagi umat Islam dalam menyambut hari kemenangan.
Wallāhu a‘lam bis ṣhawāb.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.