KOMPAS.com - Sholat Idul Fitri bukan sekadar penanda berakhirnya Ramadhan, tetapi juga menjadi momentum spiritual yang sarat makna.
Ibadah ini merepresentasikan kemenangan setelah sebulan penuh menahan diri, sekaligus menjadi ruang kolektif umat Islam untuk meneguhkan kembali nilai ketakwaan.
Di balik pelaksanaannya, terdapat susunan bacaan, niat, serta tata cara yang telah dirumuskan para ulama berdasarkan hadis dan praktik Nabi Muhammad SAW.
Dalam khazanah fikih, hukum sholat Idul Fitri memang menjadi ruang perbedaan pendapat. Mazhab Hanafi menetapkannya sebagai wajib, sementara mazhab Syafi’i, Maliki, dan sebagian Hanbali mengkategorikannya sebagai sunnah muakkad atau sangat dianjurkan.
Perbedaan ini, sebagaimana dijelaskan dalam Panduan Sholat Rasulullah karya Imam Abu Wafa, menunjukkan fleksibilitas hukum Islam tanpa mengurangi esensi ibadah itu sendiri.
Terlepas dari perbedaan tersebut, sholat Idul Fitri tetap memiliki posisi penting karena dilaksanakan secara berjamaah dan diiringi khutbah, yang berfungsi sebagai penguatan nilai sosial dan spiritual umat.
Baca juga: Pesan Idul Fitri Dedi Mulyadi: Lebaran Tak Harus ke Open House, Keluarga Lebih Utama
Niat menjadi pembeda utama antara satu ibadah dengan ibadah lainnya. Dalam sholat Idul Fitri, niat cukup dihadirkan dalam hati, meskipun pelafalannya dianjurkan untuk membantu kekhusyukan.
Dalam praktiknya, terdapat perbedaan niat antara imam dan makmum:
اُصَلِّى سُنَّةً لِعِيْدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatan li 'idil fithri rak'ataini ma'muuman lillaahi ta'ala.
Artinya: Aku niat sholat sunnah Idul Fitri dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta’ala.
اُصَلِّى سُنَّةً لِعِيْدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ اِمَامًا لِلهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatan li 'idil fithri rak'ataini imaaman lillaahi ta'ala.
Artinya: Aku niat sholat sunnah Idul Fitri dua rakaat sebagai imam karena Allah Ta’ala.
Menurut kitab Panduan Terlengkap Ibadah Muslim Sehari-Hari karya KH Muhammad Habibillah, niat menjadi pembeda antara satu ibadah dengan ibadah lainnya, sekaligus penentu sah atau tidaknya suatu amalan.
Baca juga: Jelang Shalat Idul Fitri, Kapasitas Masjid Nasional Al Akbar Surabaya Diperluas
Sholat Idul Fitri terdiri dari dua rakaat dengan ciri khas pada jumlah takbir tambahan. Hal ini yang membedakannya dari sholat fardhu pada umumnya.
Dalam Panduan Terlengkap Ibadah Muslim Sehari-Hari karya KH Muhammad Habibillah dijelaskan bahwa niat memiliki dimensi batiniah yang menentukan kualitas ibadah, bukan sekadar formalitas lisan.
Salah satu ciri khas sholat Idul Fitri terletak pada takbir tambahan di setiap rakaat. Pada rakaat pertama terdapat tujuh takbir tambahan, sedangkan pada rakaat kedua terdapat lima takbir tambahan.
Di sela-sela takbir tersebut, jamaah dianjurkan membaca tasbih:
“Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar.”
Bacaan ini tidak hanya menjadi pengisi jeda, tetapi juga memperkuat dimensi dzikir dalam sholat. Setelah takbir, imam membaca Surah Al-Fatihah yang diikuti dengan surah lain.
Dalam beberapa hadis, Rasulullah SAW disebut kerap membaca Surah Al-A’la pada rakaat pertama dan Surah Al-Ghasyiyah pada rakaat kedua.
Menurut Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, pemilihan surah ini mengandung pesan eskatologis tentang kehidupan akhirat dan kebesaran Allah.
Secara umum, tata cara sholat Idul Fitri terdiri dari dua rakaat dengan urutan yang sistematis.
Setelah sholat selesai, jamaah dianjurkan untuk tetap berada di tempat guna mendengarkan khutbah Idul Fitri.
Khutbah ini menjadi bagian penting karena berisi pesan moral, sosial, dan keagamaan yang relevan dengan kondisi umat.
Waktu pelaksanaan sholat Idul Fitri dimulai sejak matahari terbit setinggi tombak hingga menjelang waktu zawal.
Para ulama, seperti dijelaskan dalam kitab Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd, menyebutkan bahwa pelaksanaan sholat Idul Fitri dianjurkan sedikit diakhirkan dibanding Idul Adha, agar memberi kesempatan bagi umat Islam menunaikan zakat fitrah.
Adapun tempat pelaksanaannya lebih dianjurkan di tanah lapang. Hal ini merujuk pada hadis riwayat Bukhari yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW biasa melaksanakan sholat Id di musala (lapangan terbuka).
Namun, jika terdapat uzur seperti cuaca atau keterbatasan, pelaksanaan di masjid tetap diperbolehkan.
Baca juga: Warga Muhammadiyah Palopo Rayakan Idul Fitri Lebih Awal, Ribuan Jemaah Padati Kampus Unismuh
Sebelum berangkat menuju tempat sholat, terdapat sejumlah amalan sunnah yang memiliki nilai simbolik dan spiritual.
Mandi sunnah menjadi bentuk penyucian diri secara lahir. Mengenakan pakaian terbaik mencerminkan rasa syukur atas nikmat hari raya.
Bagi laki-laki, memakai wewangian juga dianjurkan sebagai bentuk penghormatan terhadap momen istimewa ini.
Rasulullah SAW juga mencontohkan untuk makan terlebih dahulu sebelum berangkat, biasanya dengan kurma dalam jumlah ganjil. Tradisi ini menegaskan bahwa hari raya adalah hari berbuka.
Selain itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak takbir sepanjang perjalanan menuju tempat sholat.
Berjalan kaki jika memungkinkan juga menjadi bagian dari sunnah, karena setiap langkah mengandung pahala.
Menariknya, Rasulullah SAW juga menganjurkan untuk menempuh rute yang berbeda saat berangkat dan pulang.
Dalam Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, dijelaskan bahwa hal ini memiliki hikmah untuk memperluas syiar Islam serta mempererat interaksi sosial di tengah masyarakat.
Sholat Idul Fitri tidak hanya berdimensi ritual, tetapi juga sosial. Ia mempertemukan umat dalam satu ruang tanpa sekat, memperkuat ukhuwah, serta menjadi momentum refleksi setelah Ramadhan.
Dengan memahami niat, bacaan, tata cara, hingga amalan sunnahnya secara komprehensif, pelaksanaan sholat Idul Fitri tidak lagi sekadar rutinitas tahunan.
Ia berubah menjadi ibadah yang dijalankan dengan kesadaran penuh, menghadirkan kekhusyukan, sekaligus memperdalam makna kemenangan yang sejati.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang