MATARAM, KOMPAS.com – Pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), berlangsung khidmat di sejumlah titik, Jumat (20/3/2026).
Namun, bukan hanya suasana ibadah yang menyita perhatian, melainkan juga pesan kuat dalam khutbah yang menyinggung kondisi dunia saat ini.
Salah satu lokasi pelaksanaan sholat Id berlangsung di Komplek Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Mataram.
Sejak pukul 06.30 Wita, ribuan jemaah telah memadati area tersebut, bahkan datang dari berbagai wilayah di Pulau Lombok.
Baca juga: Pesan Idul Fitri Dedi Mulyadi: Lebaran Tak Harus ke Open House, Keluarga Lebih Utama
Dari pantauan di lapangan, pelaksanaan ibadah berjalan lancar dengan dukungan aparat keamanan, sehingga suasana tetap tertib dan penuh kekhusyukan.
Bertindak sebagai imam sekaligus khotib, Ustadz Najamuddin, yang juga Mudir Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) Universitas Muhammadiyah Mataram, menyampaikan pesan mendalam dalam khutbahnya.
Ia menegaskan bahwa ibadah puasa tidak sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga harus mampu mempertajam kepekaan sosial, terutama di tengah konflik global yang terus terjadi.
“Di tengah gemuruh takbir, dunia sedang tidak baik-baik saja. Krisis kemanusiaan global menghantam tanpa pandang bulu,” ujar Najamuddin.
Ia menyoroti kondisi peperangan di berbagai belahan dunia yang menyebabkan banyak orang kehilangan tempat tinggal, keluarga, hingga masa depan. Anak-anak yang seharusnya hidup bahagia justru harus tumbuh dalam ketakutan.
“Sementara kita dengan mudahnya menikmati hidangan lezat di hari yang fitrah ini,” katanya.
Selain konflik global, Najamuddin juga mengangkat isu ketimpangan ekonomi yang semakin melebar. Ia menyebut, segelintir orang kini menguasai kekayaan setara dengan separuh populasi dunia, sementara kemiskinan masih menjadi pekerjaan rumah di Indonesia.
Ia pun mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak dalam gaya hidup konsumtif, termasuk saat merayakan Lebaran.
Tak hanya itu, ia juga menyoroti krisis moral yang dinilai semakin menggerus nilai kemanusiaan akibat arus materialisme dan hedonisme.
“Kebenaran sering dikalahkan oleh kekuasaan, keadilan dikorbankan demi kepentingan, solidaritas tergerus individualisme,” tegasnya.
Menurutnya, umat Islam memiliki tanggung jawab besar sebagai rahmatan lil alamin, yakni membawa rahmat bagi seluruh alam, bukan sekadar slogan.
Ia mengajak umat untuk tidak tinggal diam melihat ketidakadilan dan penderitaan di sekitar.
“Ketika perang berkecamuk kita harus bersuara, ketika kemiskinan merajalela umat harus bertindak. Diam dalam kebatilan adalah bentuk penghianatan terhadap fitrah kita,” katanya.
Selain di kampus Muhammadiyah, Shalat Id juga digelar di Masjid Raudatul Khair, Lingkungan Kebon Lauk, Kelurahan Pagutan. Sekitar seribuan jemaah mengikuti ibadah yang dipimpin oleh Tuan Guru Haji Bayanul Arifin Akbar.
Baca juga: Puasa Beda, Lebaran Beda: Dosen UMM Soroti Fenomena Ibadah Campuran
Di sisi lain, sebagian warga Mataram juga bersiap melaksanakan Shalat Id pada Sabtu (21/3/2026). Suasana takbiran pun mulai terasa dengan hadirnya miniatur masjid yang berjajar di sejumlah ruas jalan kota.
Perbedaan waktu pelaksanaan Idul Fitri di Mataram mencerminkan dinamika umat, namun tetap berlangsung dalam suasana damai dan penuh toleransi. Pesan khutbah pun menjadi pengingat bahwa di balik kebahagiaan Lebaran, ada tanggung jawab sosial yang tak boleh diabaikan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang