Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

7 Amalan Wanita Haid Saat Lebaran, Tetap Dapat Pahala Meski Tak Shalat Id

Kompas.com, 20 Maret 2026, 21:50 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Tidak semua perempuan dapat menunaikan sholat Idulfitri karena datangnya haid di hari raya.

Situasi ini kerap menimbulkan rasa kehilangan, seolah tidak bisa ikut merasakan puncak ibadah setelah Ramadhan.

Padahal dalam ajaran Islam, kondisi tersebut justru bagian dari ketetapan syariat yang harus ditaati.

Tidak melaksanakan sholat saat haid bukan kekurangan, melainkan bentuk ketaatan. Karena itu, pintu pahala tetap terbuka luas melalui berbagai amalan lain yang bernilai ibadah.

Lantas, amalan apa saja yang dapat dilakukan perempuan haid saat Idulfitri?

Haid Bukan Penghalang Ibadah

Dalam literatur fikih klasik seperti Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, dijelaskan bahwa perempuan haid memang tidak diperbolehkan melaksanakan sholat. Namun, mereka tetap dianjurkan menghadiri momen kebaikan, termasuk suasana Idulfitri.

Hal ini sejalan dengan hadis yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW, yang menganjurkan perempuan, termasuk yang sedang haid, untuk keluar menyaksikan kebaikan dan mendengarkan khutbah.

Dengan demikian, Idulfitri tetap bisa dirayakan secara spiritual, meski tanpa sholat Id.

Baca juga: Doa Sholat Idul Fitri Lengkap: Niat, Takbir, dan Artinya

1. Memperbanyak Takbir dan Dzikir

Sejak malam takbiran hingga pagi hari raya Idul Fitri, umat Islam dianjurkan mengumandangkan takbir sebagai bentuk pengagungan kepada Allah.

Perempuan yang sedang haid tetap diperbolehkan berdzikir, termasuk membaca:

“Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, Allahu akbar walillaahil hamd.”

Dzikir ini bukan sekadar ucapan, tetapi refleksi rasa syukur atas keberhasilan menjalani Ramadhan.

Dalam Al-Adzkar, Imam An-Nawawi menegaskan bahwa dzikir merupakan ibadah yang tidak mensyaratkan kesucian dari hadas besar.

2. Menghadiri dan Mendengarkan Khutbah Id

Meski tidak ikut sholat, perempuan haid tetap dianjurkan hadir di lokasi pelaksanaan Idulfitri untuk mendengarkan khutbah.

Kehadiran ini bukan hanya simbol kebersamaan, tetapi juga sarana menimba ilmu. Khutbah Id umumnya berisi pesan moral, refleksi Ramadhan, hingga ajakan memperbaiki kualitas hidup.

Dalam konteks ini, mendengarkan khutbah menjadi bagian dari ibadah non-fisik yang tetap bernilai pahala.

3. Memperbanyak Sedekah

Hari raya identik dengan berbagi. Memberikan bantuan kepada fakir miskin, anak yatim, atau tetangga merupakan amalan yang sangat dianjurkan.

Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa sedekah adalah bukti nyata keimanan, karena di dalamnya terdapat keikhlasan dan kepedulian sosial.

Perempuan haid tetap dapat bersedekah tanpa batasan, bahkan amalan ini memiliki keutamaan besar karena dilakukan di hari yang mulia.

Baca juga: Bacaan dan Tata Cara Sholat Idul Fitri Lengkap dengan Niat

4. Memuliakan Tamu dan Keluarga

Salah satu ciri khas Lebaran adalah tradisi silaturahmi. Menyambut tamu dengan ramah, menyiapkan hidangan, hingga menjaga kenyamanan rumah termasuk akhlak yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Dalam hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa memuliakan tamu merupakan bagian dari iman kepada Allah dan hari akhir.

Amalan ini sering dianggap sederhana, padahal memiliki nilai ibadah yang besar jika dilakukan dengan niat yang tulus.

5. Menyambung Silaturahmi

Idulfitri adalah momentum terbaik untuk mempererat hubungan keluarga dan sosial. Mengunjungi kerabat, meminta maaf, hingga memperbaiki hubungan yang renggang merupakan bagian dari esensi hari raya.

Dalam berbagai hadis disebutkan bahwa silaturahmi dapat melapangkan rezeki dan memperpanjang umur.

Perempuan haid tetap bisa berperan aktif dalam aktivitas ini, bahkan menjadikannya sebagai sarana memperbanyak pahala di hari kemenangan.

6. Memanjatkan Doa dan Munajat

Doa adalah ibadah yang tidak terikat kondisi fisik. Perempuan haid tetap dapat berdoa kapan saja, termasuk di pagi hari Idulfitri yang penuh keberkahan.

Beberapa doa yang bisa dipanjatkan antara lain:

“Allahumma taqabbal minna shiyamana wa qiyamana…”

(Ya Allah, terimalah puasa dan ibadah kami).

Dalam Al-Adzkar, Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa waktu setelah ibadah, termasuk hari raya, merupakan momen mustajab untuk berdoa.

Baca juga: Pesan Idul Fitri Dedi Mulyadi: Lebaran Tak Harus ke Open House, Keluarga Lebih Utama

7. Menuntut Ilmu Agama

Mengisi waktu dengan membaca buku, mendengarkan ceramah, atau berdiskusi tentang keislaman juga termasuk ibadah yang sangat dianjurkan.

Dalam hadis disebutkan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan.

Momen Lebaran bisa dimanfaatkan untuk memperdalam pemahaman agama, termasuk fikih wanita, agar ibadah di masa mendatang semakin berkualitas.

Lebaran Tetap Penuh Makna

Tidak melaksanakan sholat Id bukan berarti kehilangan kesempatan meraih pahala. Justru dalam kondisi tersebut, seorang Muslimah diuji untuk tetap menjaga semangat ibadah melalui cara lain.

Dengan memperbanyak dzikir, sedekah, silaturahmi, hingga doa, Idulfitri tetap dapat dirasakan sebagai momen spiritual yang utuh.

Pada akhirnya, esensi hari raya bukan hanya terletak pada ritual, tetapi pada ketulusan hati dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com