KOMPAS.com – Tidak semua perempuan dapat menunaikan sholat Idulfitri karena datangnya haid di hari raya.
Situasi ini kerap menimbulkan rasa kehilangan, seolah tidak bisa ikut merasakan puncak ibadah setelah Ramadhan.
Padahal dalam ajaran Islam, kondisi tersebut justru bagian dari ketetapan syariat yang harus ditaati.
Tidak melaksanakan sholat saat haid bukan kekurangan, melainkan bentuk ketaatan. Karena itu, pintu pahala tetap terbuka luas melalui berbagai amalan lain yang bernilai ibadah.
Lantas, amalan apa saja yang dapat dilakukan perempuan haid saat Idulfitri?
Dalam literatur fikih klasik seperti Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, dijelaskan bahwa perempuan haid memang tidak diperbolehkan melaksanakan sholat. Namun, mereka tetap dianjurkan menghadiri momen kebaikan, termasuk suasana Idulfitri.
Hal ini sejalan dengan hadis yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW, yang menganjurkan perempuan, termasuk yang sedang haid, untuk keluar menyaksikan kebaikan dan mendengarkan khutbah.
Dengan demikian, Idulfitri tetap bisa dirayakan secara spiritual, meski tanpa sholat Id.
Baca juga: Doa Sholat Idul Fitri Lengkap: Niat, Takbir, dan Artinya
Sejak malam takbiran hingga pagi hari raya Idul Fitri, umat Islam dianjurkan mengumandangkan takbir sebagai bentuk pengagungan kepada Allah.
Perempuan yang sedang haid tetap diperbolehkan berdzikir, termasuk membaca:
“Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, Allahu akbar walillaahil hamd.”
Dzikir ini bukan sekadar ucapan, tetapi refleksi rasa syukur atas keberhasilan menjalani Ramadhan.
Dalam Al-Adzkar, Imam An-Nawawi menegaskan bahwa dzikir merupakan ibadah yang tidak mensyaratkan kesucian dari hadas besar.
Meski tidak ikut sholat, perempuan haid tetap dianjurkan hadir di lokasi pelaksanaan Idulfitri untuk mendengarkan khutbah.
Kehadiran ini bukan hanya simbol kebersamaan, tetapi juga sarana menimba ilmu. Khutbah Id umumnya berisi pesan moral, refleksi Ramadhan, hingga ajakan memperbaiki kualitas hidup.
Dalam konteks ini, mendengarkan khutbah menjadi bagian dari ibadah non-fisik yang tetap bernilai pahala.
Hari raya identik dengan berbagi. Memberikan bantuan kepada fakir miskin, anak yatim, atau tetangga merupakan amalan yang sangat dianjurkan.
Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa sedekah adalah bukti nyata keimanan, karena di dalamnya terdapat keikhlasan dan kepedulian sosial.
Perempuan haid tetap dapat bersedekah tanpa batasan, bahkan amalan ini memiliki keutamaan besar karena dilakukan di hari yang mulia.
Baca juga: Bacaan dan Tata Cara Sholat Idul Fitri Lengkap dengan Niat
Salah satu ciri khas Lebaran adalah tradisi silaturahmi. Menyambut tamu dengan ramah, menyiapkan hidangan, hingga menjaga kenyamanan rumah termasuk akhlak yang sangat dianjurkan dalam Islam.
Dalam hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa memuliakan tamu merupakan bagian dari iman kepada Allah dan hari akhir.
Amalan ini sering dianggap sederhana, padahal memiliki nilai ibadah yang besar jika dilakukan dengan niat yang tulus.
Idulfitri adalah momentum terbaik untuk mempererat hubungan keluarga dan sosial. Mengunjungi kerabat, meminta maaf, hingga memperbaiki hubungan yang renggang merupakan bagian dari esensi hari raya.
Dalam berbagai hadis disebutkan bahwa silaturahmi dapat melapangkan rezeki dan memperpanjang umur.
Perempuan haid tetap bisa berperan aktif dalam aktivitas ini, bahkan menjadikannya sebagai sarana memperbanyak pahala di hari kemenangan.
Doa adalah ibadah yang tidak terikat kondisi fisik. Perempuan haid tetap dapat berdoa kapan saja, termasuk di pagi hari Idulfitri yang penuh keberkahan.
Beberapa doa yang bisa dipanjatkan antara lain:
“Allahumma taqabbal minna shiyamana wa qiyamana…”
(Ya Allah, terimalah puasa dan ibadah kami).
Dalam Al-Adzkar, Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa waktu setelah ibadah, termasuk hari raya, merupakan momen mustajab untuk berdoa.
Baca juga: Pesan Idul Fitri Dedi Mulyadi: Lebaran Tak Harus ke Open House, Keluarga Lebih Utama
Mengisi waktu dengan membaca buku, mendengarkan ceramah, atau berdiskusi tentang keislaman juga termasuk ibadah yang sangat dianjurkan.
Dalam hadis disebutkan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan.
Momen Lebaran bisa dimanfaatkan untuk memperdalam pemahaman agama, termasuk fikih wanita, agar ibadah di masa mendatang semakin berkualitas.
Tidak melaksanakan sholat Id bukan berarti kehilangan kesempatan meraih pahala. Justru dalam kondisi tersebut, seorang Muslimah diuji untuk tetap menjaga semangat ibadah melalui cara lain.
Dengan memperbanyak dzikir, sedekah, silaturahmi, hingga doa, Idulfitri tetap dapat dirasakan sebagai momen spiritual yang utuh.
Pada akhirnya, esensi hari raya bukan hanya terletak pada ritual, tetapi pada ketulusan hati dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang