Editor
KOMPAS.com – Momen Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah yang seharusnya penuh sukacita justru diwarnai suasana haru.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tampil dengan suara bergetar, menahan tangis saat menyampaikan pidato di hadapan ribuan warga usai shalat Id di halaman Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (21/3/2026).
Dalam momen penuh refleksi itu, pria yang akrab disapa KDM tersebut secara terbuka menyampaikan permohonan maaf atas satu tahun kepemimpinannya yang diakuinya belum mampu memenuhi seluruh harapan masyarakat Jawa Barat.
Ia mengungkapkan, keterbatasan alokasi keuangan pemerintah masih menjadi hambatan besar dalam menghadirkan kesejahteraan yang merata, terutama bagi masyarakat di pelosok desa.
Baca juga: Cerita Warga Banten Rela ke Medan demi Shalat Id di Masjid Bersejarah
Realita yang dihadapi pun tak ia tutupi—mulai dari jalan rusak, irigasi yang belum memadai, hingga persoalan layanan kesehatan dan pendidikan yang belum optimal.
"Saya sampaikan permohonan maaf pada seluruh warga Jabar apabila ada yang meninggal tak mampu membeli kain kafan, apabila ada anak yang sekolah tak mampu beli baju dan sepatu, atau apabila masih ada rumah yang tidak bisa makan karena kehabisan beras," ujar Dedi dengan penuh penyesalan, dilansir dari YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel.
Pidato tersebut menjadi potret jujur tentang kondisi yang masih dihadapi sebagian masyarakat. Dedi mengaku merasa malu karena hingga kini masih ada warga yang kesulitan berobat akibat persoalan BPJS, serta anak-anak yang belum sepenuhnya mendapatkan akses pendidikan yang layak.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan filosofi kepemimpinannya melalui konsep “Kurung Cil” dan “Kentel Guru Cil”. Menurutnya, pemimpin sejati adalah mereka yang rela “mengurangi tidur” karena pikiran dan hatinya terus memikirkan rakyat yang sedang lapar dan kesulitan.
Tak hanya itu, Dedi turut menyoroti persoalan pajak dan iuran yang dinilai masih membebani masyarakat. Ia menilai, beban tersebut belum sepenuhnya sebanding dengan kesejahteraan yang diterima rakyat.
Karena itu, ia berkomitmen untuk mendorong efisiensi anggaran hingga mencapai 15 persen agar lebih banyak dana dapat dialokasikan bagi kepentingan rakyat kecil atau kaum *mustadhafin*.
Di tengah keterbatasan tersebut, Dedi juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada masyarakat Jawa Barat.
Ia mengaku kagum atas kesetiaan warga yang tetap taat membayar pajak, bahkan mampu mendorong peningkatan pendapatan daerah hingga tiga kali lipat selama Ramadan.
Menutup pidatonya, Dedi berjanji akan terus berbenah, melakukan evaluasi, serta menggerakkan birokrasi dan keuangan daerah agar pelayanan publik semakin baik.
Baca juga: Cerita di Tengah Takbir, Warga Rayakan Lebaran dengan Cara Sederhana namun Bermakna
Ia berharap ke depan tidak ada lagi warga yang merasa negara absen di saat mereka membutuhkan.
Dengan doa yang lirih namun penuh harap, ia menutup pidato tersebut dengan harapan agar Indonesia senantiasa damai, dan Jawa Barat mampu mewujudkan cita-cita sebagai provinsi yang “Gemah Ripah Repet Rapi”—alamnya terjaga, rakyatnya sejahtera, serta terhindar dari berbagai bencana.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang