Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Takbiran Tanpa Petasan, “Gantara” di Salatiga Ubah Malam Lebaran Jadi Panggung Budaya

Kompas.com, 21 Maret 2026, 16:10 WIB
Muchamad Fatah Akrom,
Farid Assifa

Tim Redaksi

SALATIGA, KOMPAS.com – Suasana malam takbiran di Kelurahan Kalibening, Kota Salatiga, Jawa Tengah, tahun ini terasa berbeda.

Di bawah langit yang mulai gelap, bukan suara petasan atau konvoi bising yang terdengar, melainkan dentuman ritmis drumblek yang dimainkan para remaja dengan penuh semangat.

Alunan perkusi dari bambu, kaleng bekas, hingga galon air mineral itu menjadi bagian dari inovasi bertajuk “Gantara– Gaung Nusantara Takbir Raya”, sebuah gerakan kreatif yang mengubah wajah malam takbiran menjadi lebih aman, tertib, dan sarat nilai budaya.

“Dulu seru banget konvoi semprot minyak, tetapi sering bikin ribut, ada yang terjatuh dari motor, bahkan terbakar. Kami sadar, ini enggak bisa diteruskan,” ujar Kaffa, salah satu pemudi Kalibening, Jumat (20/3/2026).

Baca juga: Cerita di Tengah Takbir, Warga Rayakan Lebaran dengan Cara Sederhana namun Bermakna

Sebagai gantinya, para pemuda menghidupkan kembali drumblek—kesenian tradisional khas Salatiga yang sempat meredup karena minim regenerasi.

Mereka berlatih rutin setiap sore, bahkan melibatkan anak-anak untuk ikut memainkan alat musik sederhana tersebut.

“Kami latihan tiap sore pakai drum dari galon air mineral dan bambu. Drumblek ini identitas Salatiga, harus kita hidupkan lagi supaya enggak punah,” kata Safii Badru Huda, panitia kegiatan.

Tak hanya musik, suasana takbiran juga dikemas lebih kreatif. Miniatur kendaraan hias, parade busana adat berwarna-warni, hingga lantunan takbir yang dipadukan dengan gamelan ringan dan drumblek, menghadirkan nuansa meriah sekaligus religius.

“Malam takbiran jadi lebih tenang, tetapi justru lebih hidup karena ada maknanya,” tambah Safii.

Warga pun tumpah ruah ke jalan. Tak sekadar menjadi penonton, mereka ikut ambil bagian dalam kemeriahan. Mulai dari anak-anak hingga orang tua, seluruh elemen masyarakat terlibat dalam suasana kebersamaan yang hangat.

Puncak acara ditandai dengan “Gerakan 100 Oncor”, yakni penyalaan 100 obor secara serentak yang menerangi jalan desa. Cahaya obor itu menjadi simbol harapan, gotong royong, dan persaudaraan yang terus menyala.

Di sisi lain, sebuah booth foto arsip turut menarik perhatian. Foto-foto hitam putih pemuda Kalibening era 1980-an yang memainkan drumblek dipajang berdampingan dengan potret generasi masa kini.

“Foto-foto ini bikin kami sadar, kebersamaan ini warisan yang harus dilanjutkan. Dari kakek ke cucu, semuanya terhubung,” ujar Safii.

Baca juga: Suasana Kemeriahan Pawai Obor Sambut Hari Raya Idul Fitri di Stadion Pakansari Cibinong

Menurutnya, dampak dari gerakan Gantara sangat terasa. Selain menekan potensi kerawanan saat malam takbiran, kegiatan ini juga berhasil menghidupkan kembali drumblek sebagai identitas budaya lokal.

“Drumblek kembali bergaung, Kalibening kini jadi ikon takbiran kreatif. Siapa tahu, tahun depan Gantara bisa menyebar ke seluruh Jawa Tengah,” pungkasnya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar