KOMPAS.com – Nama Hormuz mungkin lebih sering terdengar dalam konteks geopolitik modern, sebagai selat sempit yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.
Namun, jauh sebelum menjadi sorotan global, “Hormuz” telah menyimpan jejak panjang sejarah, mulai dari akar mitologi Persia kuno, kejayaan kerajaan maritim, hingga kisah dramatis duel maut antara Khalid bin Walid dan Hormuz dalam Perang Dzatus Salasil.
Kisah ini bukan sekadar catatan peperangan, melainkan potret benturan peradaban yang mengubah arah sejarah dunia.
Baca juga: Iran Buka Jalur Bantuan Kemanusiaan di Selat Hormuz
Secara etimologis, nama “Hormuz” diyakini berasal dari kata “Hormizd”, yang merujuk pada Ahura Mazda, Tuhan dalam ajaran Zoroastrianisme, agama kuno Persia.
Dalam literatur sejarah, seperti dijelaskan dalam buku The Persian Empire karya Lindsay Allen, Ahura Mazda dipandang sebagai simbol cahaya, kebenaran, dan kebijaksanaan.
Nama ini kemudian diadopsi oleh raja-raja Persia sebagai legitimasi spiritual kekuasaan mereka.
Tak heran, wilayah strategis seperti Hormuz juga menyandang nama tersebut. Ia bukan sekadar lokasi geografis, tetapi simbol kekuasaan, spiritualitas, dan identitas bangsa Persia.
Baca juga: Jejak Kota Ubullah: Pelabuhan Persia yang Ditaklukkan Khalid bin Walid, Kini Tinggal Nama
Pada abad ke-10 hingga ke-17, Kerajaan Hormuz menjelma menjadi salah satu pusat perdagangan paling kaya di dunia.
Dalam buku The Indian Ocean in World History karya Milo Kearney, Hormuz disebut sebagai “simpul perdagangan global” yang menghubungkan:
Meski wilayahnya gersang, kekuatan Hormuz terletak pada posisinya yang strategis di jalur perdagangan laut. Pepatah kuno bahkan menyebut, “Jika dunia adalah cincin, maka Hormuz adalah permatanya.”
Tahun 1507 menjadi titik balik ketika Afonso de Albuquerque menaklukkan Hormuz. Portugis membangun benteng dan menjadikan wilayah ini pangkalan militer untuk menguasai Samudra Hindia.
Lebih dari satu abad kemudian, pada 1622, Shah Abbas I bersama bantuan Inggris berhasil merebut kembali Hormuz.
Namun ironisnya, kejayaan Hormuz tidak kembali. Pusat perdagangan dipindahkan ke Bandar Abbas, menandai berakhirnya era keemasan kerajaan ini.
Dalam konteks militer, nama Hormuz juga merujuk pada seorang panglima Persia yang menjabat sebagai marzban (gubernur perbatasan).
Dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir, Hormuz digambarkan sebagai sosok keras, disiplin, dan sangat loyal kepada Kekaisaran Sassaniyah.
Ia dikenal tegas terhadap rakyatnya, terutama suku-suku Arab di wilayah perbatasan. Namun di sisi lain, ia adalah bangsawan elite dengan kedudukan tinggi dan simbol kekuasaan Persia.
Baca juga: Khalid bin Walid, Dari Lawan Tangguh Menjadi Pedang Allah
Setelah menumpas pemberontakan dalam Perang Riddah, Khalifah Abu Bakar memerintahkan Khalid bin Walid untuk bergerak ke wilayah Persia.
Dalam buku Panglima Perang Islam karya Mahmud Syit Khattab, disebutkan bahwa Khalid mengirim surat kepada Hormuz dengan tiga pilihan: masuk Islam, membayar jizyah atau berperang.
Hormuz memilih perang. Ia mengumpulkan pasukan besar dan bergerak ke Kazima (wilayah Kuwait modern), menyiapkan pertempuran yang kelak dikenal sebagai Perang Rantai.
Salah satu strategi unik Hormuz adalah merantai pasukannya. Tujuannya jelas, mencegah mereka mundur.
Namun, dalam Tarikh al-Tabari karya Al-Tabari, strategi ini justru menjadi bumerang. Pasukan kehilangan fleksibilitas dan mudah kelelahan.
Di sisi lain, Khalid menggunakan taktik mobilitas tinggi. Ia memaksa pasukan Persia bergerak terus-menerus di bawah panas gurun, menguras energi mereka sebelum pertempuran utama dimulai.
Di tengah tensi pertempuran yang kian memuncak dalam Perang Dzatus Salasil, sebuah tradisi perang kuno kembali dihidupkan: duel satu lawan satu antara dua panglima.
Hormuz, dengan penuh percaya diri, turun dari kudanya. Ia melangkah ke depan barisan, mengenakan zirah kebesaran Persia yang berkilau di bawah terik matahari gurun.
Sebagai panglima sekaligus bangsawan tinggi Kekaisaran Sassaniyah, ia tidak hanya membawa senjata, tetapi juga harga diri imperium besar di pundaknya.
Dengan suara lantang, ia menantang langsung Khalid bin Walid untuk bertarung. Tantangan itu bukan sekadar ajakan duel, melainkan pesan simbolik, Persia tidak gentar menghadapi kekuatan baru dari jazirah Arab.
Tanpa ragu sedikit pun, Khalid bin Walid menyambut tantangan tersebut. Ia turun dari kudanya dengan tenang, tanpa gestur berlebihan.
Dalam dirinya, tidak hanya ada keberanian, tetapi juga keyakinan yang kuat, sebuah ketenangan yang lahir dari pengalaman panjang di medan perang.
Namun, duel ini bukan duel biasa. Menurut riwayat yang disebutkan dalam karya Ibnu Katsir, Hormuz telah menyiapkan siasat tersembunyi.
Baca juga: Ini Sosok Hormuz, Panglima Persia Penantang Khalid bin Walid
Ia memerintahkan sejumlah prajurit elit untuk bersembunyi di belakang garis pertempuran. Rencananya sederhana namun licik, saat duel berlangsung dan Khalid lengah, pasukan tersebut akan menyerbu dari belakang dan mengakhiri pertarungan secara tidak terhormat.
Duel pun dimulai. Kedua pedang beradu dengan keras, memecah keheningan medan perang. Hormuz menyerang dengan kekuatan penuh, mengandalkan fisik dan perlengkapan tempurnya yang berat.
Setiap ayunan pedangnya menunjukkan pengalaman dan kekuatan seorang panglima yang telah lama ditempa dalam peperangan besar.
Di sisi lain, Khalid bergerak dengan lebih lincah. Ia tidak hanya mengandalkan kekuatan, tetapi juga kecepatan, ketepatan, dan insting tempur yang tajam. Ia membaca setiap gerakan lawan, mencari celah sekecil apa pun.
Pertarungan berlangsung sengit. Debu gurun beterbangan, suara benturan logam menggema, sementara kedua pasukan hanya bisa menyaksikan dengan tegang, seolah waktu berhenti di titik itu.
Di tengah duel yang memanas, rencana Hormuz mulai dijalankan. Dari belakang, pasukan elit Persia bergerak cepat untuk mengepung Khalid.
Situasi menjadi sangat genting. Dalam hitungan detik, duel satu lawan satu berubah menjadi ancaman serangan dari berbagai arah.
Namun, di saat krusial itulah keunggulan pasukan Muslim terlihat. Qa'qa' bin Amr yang sejak awal waspada terhadap gerak-gerik lawan, segera bergerak.
Ia bersama pasukan pendukungnya langsung menghadang serangan mendadak tersebut, memukul mundur prajurit elit Persia sebelum mereka mencapai Khalid. Duel kembali menjadi satu lawan satu.
Momentum pun berbalik. Khalid memanfaatkan kekacauan kecil itu dengan sangat cepat. Ia mendekat, mengunci ruang gerak Hormuz, dan melancarkan serangan yang lebih agresif. Dalam satu momen yang menentukan, Khalid berhasil menjatuhkan lawannya.
Riwayat menyebutkan bahwa Khalid bahkan sempat mencekik dan menekan Hormuz hingga kehilangan keseimbangan, sebelum akhirnya menewaskannya dalam duel tersebut.
Kematian Hormuz terjadi begitu cepat, tetapi dampaknya sangat besar. Sosok yang selama ini menjadi simbol kekuatan dan ketakutan bagi pasukan Persia tiba-tiba tumbang di hadapan mata mereka sendiri.
Tidak ada waktu untuk konsolidasi. Tidak ada komando pengganti yang siap mengambil alih dengan cepat.
Dalam sekejap, moral pasukan Persia runtuh. Barisan yang sebelumnya terlihat kokoh mulai goyah.
Sebagian panik, sebagian mencoba melarikan diri, namun rantai yang mengikat mereka justru menjadi penghalang. Kekacauan pun tak terhindarkan.
Di sisi lain, pasukan Muslim melihat momen itu sebagai sinyal kemenangan. Serangan dilancarkan secara serempak.
Apa yang sebelumnya duel antara dua orang berubah menjadi kemenangan besar yang menentukan arah pertempuran.
Duel tersebut bukan hanya pertarungan fisik antara dua panglima, tetapi juga simbol benturan dua dunia, antara imperium lama yang mengandalkan kekuatan struktur dan tradisi, dengan kekuatan baru yang bertumpu pada strategi, keimanan, dan ketangguhan mental. Dan di titik itulah, sejarah mulai berubah arah.
Baca juga: Keimanan yang Dibayar Mahal, Kisah Keteguhan Khalid bin Said Al Ash
Kemenangan dalam Perang Dzatus Salasil membuka jalan besar bagi ekspansi Islam ke wilayah Persia.
Dalam buku The Great Arab Conquests, Hugh Kennedy menegaskan bahwa kemenangan ini memiliki dampak psikologis yang besar. Persia mulai kehilangan dominasi, sementara pasukan Muslim semakin percaya diri.
Selain itu, harta rampasan perang (ghanimah) dalam jumlah besar memperkuat logistik dan ekonomi pasukan Islam.
Kini, Selat Hormuz tetap menjadi titik krusial global.
Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur ini. Setiap konflik di wilayah ini berpotensi mengguncang ekonomi dunia.
Sejarah panjang Hormuz, dari mitologi, kerajaan, hingga peperangan, membentuk posisinya hari ini sebagai salah satu wilayah paling strategis.
Kisah Hormuz dan Khalid bin Walid bukan hanya tentang perang. Ia adalah refleksi tentang bagaimana kekuatan, strategi, dan keyakinan bertemu dalam satu titik sejarah.
Dari nama yang berasal dari dewa, kejayaan perdagangan, hingga jatuhnya panglima besar di medan perang, semuanya menyatu dalam satu narasi panjang yang masih relevan hingga kini.
Dan mungkin, di situlah letak daya tariknya, sebuah nama kecil di peta dunia yang ternyata menyimpan kisah besar tentang peradaban, kekuasaan, dan perubahan sejarah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang