KOMPAS.com – Runtuhnya kekuasaan Persia di bawah Dinasti Sassaniyah bukanlah peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba.
Ia merupakan hasil dari rangkaian panjang strategi militer, kepemimpinan visioner, serta momentum sejarah yang dimanfaatkan secara tepat oleh kaum Muslimin sejak masa Abu Bakar Ash-Shiddiq hingga Umar bin Khattab.
Dari wilayah Jazirah Arab yang semula terpecah, pasukan Islam bergerak menembus salah satu imperium terbesar dunia saat itu. Lalu, bagaimana proses panjang itu berlangsung?
Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, tantangan pertama umat Islam adalah menjaga stabilitas internal.
Perang Riddah yang terjadi di berbagai wilayah Arab menjadi ujian awal kepemimpinan Abu Bakar.
Dalam buku The History of al-Tabari karya Al-Tabari, dijelaskan bahwa keberhasilan Abu Bakar menumpas pemberontakan menjadi fondasi penting sebelum ekspansi keluar wilayah Arab dilakukan.
Salah satu tokoh kunci dalam tahap awal ini adalah Al-Mutsanna bin Haritsah. Ia memulai penetrasi ke wilayah Irak, yang saat itu berada di bawah kekuasaan Persia.
Melalui serangkaian serangan kecil namun efektif, Al-Mutsanna berhasil membuka jalur menuju wilayah strategis di sekitar Sungai Eufrat dan Tigris.
Dalam buku Utsman bin Affan RA karya Abdul Syukur Al-Azizi, disebutkan bahwa ekspansi ini tidak hanya bersifat militer, tetapi juga membawa misi dakwah, mengajak masyarakat setempat kepada Islam atau menawarkan perjanjian damai.
Baca juga: Dari Penentang Menjadi Pelindung, Kisah Umar bin Al-Khattab Memeluk Islam
Melihat potensi besar di wilayah Irak, Abu Bakar kemudian mengirimkan bala bantuan di bawah komando Khalid bin Walid.
Sosok ini dikenal sebagai ahli strategi perang yang mampu mengubah keadaan di medan tempur.
Dalam buku The Great Arab Conquests karya Hugh Kennedy, dijelaskan bahwa Khalid menggunakan taktik mobilitas tinggi dan serangan cepat untuk melemahkan pertahanan Persia. Ia tidak terpaku pada satu titik, melainkan bergerak dinamis menyerang berbagai kota penting.
Beberapa pertempuran penting yang dimenangkan pada fase ini antara lain:
Keberhasilan ini membuka jalan bagi ekspansi lebih dalam ke jantung kekuasaan Persia.
Ketika kepemimpinan beralih kepada Umar bin Khattab, strategi ekspansi mengalami perubahan signifikan.
Jika sebelumnya lebih bersifat ofensif cepat, pada masa Umar, pendekatan menjadi lebih terstruktur dan sistematis.
Dalam buku Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir, disebutkan bahwa Umar sangat berhati-hati dalam mengatur pergerakan pasukan. Ia menekankan pentingnya logistik, koordinasi, dan pemilihan panglima yang tepat.
Salah satu keputusan penting adalah menunjuk Saad bin Abi Waqqas sebagai pemimpin pasukan utama menghadapi Persia.
Baca juga: Kisah Abu Bakar Ash Shiddiq Dicaci Maki Orang Badui: Jangan Membalas Cacian
Perang Qadisiyyah menjadi salah satu momen paling menentukan dalam sejarah penaklukan Persia.
Dalam pertempuran ini, pasukan Muslim menghadapi kekuatan besar Persia yang dipimpin oleh Rustam Farrakhzad.
Meski kalah dalam jumlah dan perlengkapan, pasukan Muslim mampu memenangkan pertempuran melalui strategi dan ketahanan mental.
Kemenangan ini berdampak besar:
Dalam buku The Early Islamic Conquests karya Fred M. Donner, disebutkan bahwa Qadisiyyah menjadi simbol runtuhnya dominasi militer Persia di wilayah Irak.
Setelah Qadisiyyah, kemenangan demi kemenangan terus diraih. Salah satunya adalah Perang Jalula yang semakin mempersempit ruang gerak Persia.
Puncaknya terjadi dalam Perang Nahawand pada tahun 642 M. Dalam pertempuran ini, pasukan Muslim kembali meraih kemenangan besar yang disebut sebagai “kemenangan dari segala kemenangan”.
Kekalahan ini memaksa Kaisar Persia, Yazdegerd III, melarikan diri dari istana. Sejak saat itu, kekuasaan Dinasti Sassaniyah praktis runtuh.
Baca juga: Khalid bin Walid, Dari Lawan Tangguh Menjadi Pedang Allah
Keberhasilan pasukan Islam tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh beberapa faktor penting:
Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab dikenal tegas, visioner, dan mampu memilih panglima terbaik.
Pasukan Muslim mampu menyesuaikan taktik sesuai kondisi medan dan kekuatan lawan.
Keyakinan spiritual menjadi kekuatan utama yang membedakan mereka dari pasukan lain.
Konflik internal dan melemahnya struktur politik Sassaniyah turut mempercepat kejatuhan mereka.
Runtuhnya Persia bukan hanya menandai kemenangan militer, tetapi juga perubahan besar dalam peta peradaban dunia.
Wilayah yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Sassaniyah kini menjadi bagian dari dunia Islam yang terus berkembang.
Dari proses panjang sejak masa Abu Bakar hingga puncaknya di era Umar bin Khattab, penaklukan Persia menjadi salah satu episode paling monumental dalam sejarah Islam.
Lebih dari sekadar ekspansi wilayah, peristiwa ini menunjukkan bagaimana strategi, kepemimpinan, dan momentum sejarah dapat mengubah arah sebuah peradaban secara drastis.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang