Editor
KOMPAS.com - Lebaran Betawi menjadi salah satu agenda budaya tahunan yang rutin digelar Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi pasca-Idul Fitri, tetapi juga bagian dari upaya pelestarian budaya Betawi.
Pada tahun 2026, perayaan kembali digelar dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat.
Acara ini sekaligus memperkuat identitas Jakarta sebagai kota global yang tetap berakar pada tradisi lokal.
Lebaran Betawi merupakan acara tahunan yang diselenggarakan Pemprov DKI Jakarta sebagai bentuk pelestarian budaya Betawi.
Dilansir dari laman Dinas Kominfotik Pemprov DKI Jakarta, Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi DKI Jakarta, Uus Kuswanto, menyebut Lebaran Betawi memiliki makna penting sebagai momentum kebersamaan masyarakat Jakarta.
“Lebaran Betawi bukan sekadar perayaan, tetapi juga momentum untuk memperkuat persatuan, mempererat kebersamaan, serta melestarikan nilai-nilai budaya Betawi sebagai identitas Jakarta. Ini menjadi ruang bersama bagi masyarakat untuk bersilaturahmi, merawat tradisi, sekaligus memperkuat persatuan warga dalam suasana hari raya,” ujarnya di Jakarta, Jumat (3/4/2026).
Pada 2026, Lebaran Betawi yang telah diselenggarakan sejak 2008 akan memasuki pelaksanaan ke-18.
Kegiatan ini terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya pelestarian dan pemajuan budaya Betawi, sekaligus memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global yang tetap menjunjung kearifan lokal.
Mengusung tema “Lebaran Betawi untuk Jakarta: Memperkokoh Persatuan dalam Merawat Tradisi Menuju Jakarta Kota Global”, acara ini menghadirkan konsep halalbihalal akbar yang dikemas dengan beragam atraksi budaya dan hiburan khas Betawi.
Pemprov DKI Jakarta memastikan Lebaran Betawi 2026 digelar di Lapangan Banteng, Pasar Baru, Jakarta Pusat pada 10–12 April 2026.
"Meski ada beberapa pengurangan akibat dunia tengah dalam keprihatinan dan efisiensi anggaran, Lebaran Betawi tetap akan kami gelar secara khidmat," kata Asisten Kesejahteraan Rakyat Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta Ali Maulana Hakim dalam keterangan di Jakarta, Jumat, seperti dikutip dari Antara.
Ia menjelaskan, kegiatan ini menjadi wadah halal bihalal besar bagi masyarakat setelah Idul Fitri 1447 Hijriah sekaligus agenda budaya Betawi.
Pelaksanaan di Lapangan Banteng juga mempertimbangkan nilai historis lokasi sebagai salah satu landmark penting Jakarta.
"Apalagi kegiatan dilaksanakan di Lapangan Banteng yang memiliki historis. Kami berharap masyarakat bisa hadir meramaikan," ujar Ali.
Adapun perayaan Lebaran Betawi 2026 diselenggarakan melalui kolaborasi antara Pemprov DKI Jakarta, Bamus Betawi, Majelis Kaum Betawi, serta berbagai pemangku kepentingan.
Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya bersama dalam menjaga, mengembangkan, dan memperkenalkan budaya Betawi kepada masyarakat luas.
Selama tiga hari pelaksanaan, masyarakat akan disuguhkan berbagai kegiatan budaya dan sosial.
Diawali dengan malam syukuran yang diisi pengajian, maulid, tahlilan, tausiah, dan doa bersama.
Digelar atraksi budaya seperti ondel-ondel, tanjidor, silat, dan gambang kromong, serta silaturahmi akbar hingga hiburan rakyat seperti lenong Betawi dan layar tancep.
Diisi kegiatan interaktif seperti senam bersama, permainan tradisional, dongeng rakyat, karnaval budaya, prosesi hantaran, hingga pertunjukan musik.
Selain itu, masyarakat juga dapat menikmati kuliner khas Betawi dan mengunjungi bazar produk lokal yang melibatkan pelaku UMKM.
Ketua Dewan Adat Majelis Kaum Betawi (MKB), Fauzi Bowo atau Bang Foke, menjelaskan bahwa esensi Lebaran Betawi terletak pada pelestarian adat dan tradisi.
Tradisi tersebut mencakup saling memaafkan, mempererat silaturahmi terutama kepada orang tua atau sesepuh, serta kebiasaan berkunjung ke kerabat.
“Dulu, tradisi ini dilakukan di setiap pelosok, kampung, bahkan antar-kampung untuk menjaga ikatan silaturahmi, kekeluargaan, persaudaraan, dan persatuan kaum Betawi. Salah satu tugas MKB adalah menjaga marwah ini,” ungkap Bang Foke.
Selain itu, masyarakat juga dianjurkan membawa oleh-oleh atau anter-anter sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga yang dikunjungi.
Hal itu kemudian diadaptasi dengan penyerahan hantaran atau seserahan dari para wali kota kepada gubernur dan wakil gubernur.
Isi hantaran itu beragam, dan rata-rata merupakan kuliner khas Betawi, di antaranya ayam kuning, es selendang mayang, ongol-ongol, dodol kemayoran, gado-gado gondangdia, bebek oblok, dan wajik.
Berbagai pertunjukan tradisional Betawi dan sajian kuliner khas turut menjadi bagian dalam acara tersebut.
“Kami mengundang seluruh masyarakat Jakarta dan sekitarnya untuk hadir dan meramaikan Lebaran Betawi 2026. Dengan semangat kebersamaan, kami berharap kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan yang hangat bagi seluruh warga Jakarta,” ajak Sekda Uus.
Kegiatan ini diharapkan dapat menarik sekitar 20.000 pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum, pelajar, komunitas budaya, hingga wisatawan domestik dan mancanegara.
Lebaran Betawi tidak hanya menjadi ajang budaya, tetapi juga berkontribusi terhadap penguatan ekonomi lokal.
Melalui bazar UMKM dan sajian kuliner khas, kegiatan ini membuka peluang bagi pelaku usaha untuk berkembang sekaligus memperkenalkan kekayaan kuliner Betawi.
Secara keseluruhan, Lebaran Betawi menjadi simbol bahwa tradisi, kebersamaan, dan identitas lokal tetap dapat terjaga di tengah perkembangan Jakarta sebagai kota global.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang