Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lulusan UIN Jakarta Makin Dilirik, Hampir 50 Persen Sudah Kerja Sebelum Wisuda

Kompas.com, 5 April 2026, 13:37 WIB
Add on Google
Farid Assifa

Editor

Sumber Kemenag

KOMPAS.com – Tren positif ditunjukkan lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tak hanya cepat terserap di dunia kerja, kini semakin banyak mahasiswa yang bahkan sudah mendapatkan pekerjaan sebelum resmi diwisuda.

Data terbaru dari tracer study Pusat Karir UIN Jakarta mengungkapkan, sebanyak 49,69 persen lulusan tahun 2025 telah bekerja sebelum menyelesaikan studi. Angka ini terus meningkat dibanding tahun sebelumnya yang berada di kisaran 44,41 persen (2024) dan 38,00 persen (2023).

“Artinya, semakin banyak mahasiswa UIN Jakarta yang telah terserap dunia kerja bahkan sebelum wisuda,” ujar Kepala Pusat Karir, Muhammad Kholis Hamdy dilansir dari situs Kemenag.go.id.

Baca juga: Lulusan Cepat Terserap Kerja, UIN Jakarta Ungkap Strategi Sukses Tembus Dunia Industri

Masa Tunggu Kerja Semakin Singkat

Tak hanya itu, waktu tunggu lulusan untuk mendapatkan pekerjaan juga semakin cepat.

Sebanyak 44,51 persen lulusan berhasil memperoleh pekerjaan dalam waktu kurang dari enam bulan setelah lulus pada 2025. Angka ini meningkat dari tahun-tahun sebelumnya.

Sebaliknya, jumlah lulusan yang harus menunggu lebih lama justru terus menurun. Lulusan yang baru mendapatkan pekerjaan setelah 6–18 bulan turun drastis, begitu juga yang menunggu lebih dari 18 bulan—kini hanya tersisa di bawah 1 persen.

Tren ini menunjukkan bahwa lulusan UIN Jakarta semakin siap bersaing di dunia profesional.

Bukan Sekadar Ijazah, Tapi Keterampilan

Menurut Kholis, peningkatan daya saing ini tidak terjadi secara instan. Kampus secara aktif membekali mahasiswa dengan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri.

“Mahasiswa hari ini tidak cukup hanya unggul secara akademik. Mereka juga harus punya kemampuan komunikasi, literasi digital, kepemimpinan, dan pengalaman magang,” jelasnya.

Melalui berbagai program seperti pelatihan soft skills, career coaching, hingga job fair, mahasiswa didorong untuk lebih siap menghadapi dunia kerja sejak masih kuliah.

Didukung Kurikulum dan Jejaring Industri

Rektor UIN Jakarta, Asep Saepudin Jahar, menilai capaian ini sebagai bukti bahwa kualitas lulusan semakin relevan dengan kebutuhan zaman.

“Lulusan UIN Jakarta tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi, adaptabilitas, dan karakter yang dibutuhkan dunia kerja,” ujarnya.

Kampus juga terus memperkuat kurikulum, memperluas jejaring industri, serta meningkatkan program magang agar mahasiswa memiliki pengalaman nyata sebelum lulus.

Lulusan Makin Fleksibel, Karier Kian Beragam

Di sisi lain, pilihan karier lulusan juga semakin luas. Tak hanya bekerja di sektor formal, sebagian memilih melanjutkan studi, membangun usaha sendiri, hingga terjun dalam profesi berbasis pengabdian.

Bahkan di Fakultas Syariah dan Hukum, lulusan kini telah merambah berbagai profesi seperti analis hukum, advokat, hakim, perbankan syariah, hingga militer.

Menurut Wakil Dekan Kamarusdiana, hal ini menjadi kebanggaan tersendiri karena menunjukkan lulusan mampu beradaptasi dengan berbagai kebutuhan profesi.

Kampus yang Semakin Relevan

Capaian ini menegaskan posisi UIN Jakarta sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya fokus pada pengembangan ilmu keislaman, tetapi juga mampu mencetak lulusan yang siap kerja dan kompetitif.

Baca juga: Rektor UIN Palu Datangi Sekolah, 2.200 Mahasiswa Bisa Kuliah Gratis

Di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat, tren ini menjadi kabar baik—bahwa mahasiswa kini tidak lagi menunggu peluang, tetapi justru menjemputnya sejak masih di bangku kuliah.

Bagi banyak lulusan UIN Jakarta, wisuda bukan lagi garis awal mencari kerja.

Melainkan, hanya satu langkah kecil dari perjalanan karier yang sudah dimulai lebih dulu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
PBNU soal Penyiraman Air Keras: Tindakan Berbahaya, Tak Boleh Terulang
PBNU soal Penyiraman Air Keras: Tindakan Berbahaya, Tak Boleh Terulang
Aktual
PBNU Soroti Adanya Dugaan Makar, Dinilai Bahayakan Bangsa dan Negara
PBNU Soroti Adanya Dugaan Makar, Dinilai Bahayakan Bangsa dan Negara
Aktual
PBNU Minta Wacana “War Ticket” Haji Dikaji Matang, Tekankan Aspek Keadilan
PBNU Minta Wacana “War Ticket” Haji Dikaji Matang, Tekankan Aspek Keadilan
Aktual
Wamenhaj Ungkap Skema “War Tiket Haji”, Bisa Berangkat Tanpa Antre
Wamenhaj Ungkap Skema “War Tiket Haji”, Bisa Berangkat Tanpa Antre
Aktual
Viral “War Tiket Haji”, Wamenhaj Tegaskan Bukan Kebijakan dan Masih Wacana
Viral “War Tiket Haji”, Wamenhaj Tegaskan Bukan Kebijakan dan Masih Wacana
Aktual
Calon Jemaah Haji Asal Dumai Berangkat ke Embarkasi Batam Naik Kapal Cepat, Biaya Ditanggung Pemko
Calon Jemaah Haji Asal Dumai Berangkat ke Embarkasi Batam Naik Kapal Cepat, Biaya Ditanggung Pemko
Aktual
Hukum Tidur Tengkurap dalam Islam, Mengapa Posisi Ini Harus Dihindari?
Hukum Tidur Tengkurap dalam Islam, Mengapa Posisi Ini Harus Dihindari?
Aktual
Jemaah Haji Asal Embarkasi Surabaya Terima Tiket dan Paspor di Asrama Haji, Cek Jadwal Lengkapnya
Jemaah Haji Asal Embarkasi Surabaya Terima Tiket dan Paspor di Asrama Haji, Cek Jadwal Lengkapnya
Aktual
Gus Yahya Ingatkan Ancaman Krisis Minyak, Konflik Timur Tengah Bisa Guncang Indonesia
Gus Yahya Ingatkan Ancaman Krisis Minyak, Konflik Timur Tengah Bisa Guncang Indonesia
Aktual
Urutan Wali Nikah dalam Islam serta Syarat dan Penggantinya yang Sah
Urutan Wali Nikah dalam Islam serta Syarat dan Penggantinya yang Sah
Aktual
Gus Yahya: Indonesia Harus Jadi Sahabat Semua Negara di Tengah Konflik Timur Tengah
Gus Yahya: Indonesia Harus Jadi Sahabat Semua Negara di Tengah Konflik Timur Tengah
Aktual
 Hukum Tawaf dan Sa’i dengan Skuter bagi Jemaah Haji, Ini Penjelasan Ulama
Hukum Tawaf dan Sa’i dengan Skuter bagi Jemaah Haji, Ini Penjelasan Ulama
Aktual
PBNU Apresiasi Saudi dan Negara Teluk yang Tak Balas Serangan Iran
PBNU Apresiasi Saudi dan Negara Teluk yang Tak Balas Serangan Iran
Aktual
Yahya Cholil Temui Dubes Iran hingga AS, Bahas Konflik Timur Tengah
Yahya Cholil Temui Dubes Iran hingga AS, Bahas Konflik Timur Tengah
Aktual
PBNU Apresiasi Gencatan Senjata AS-Iran, Serukan Hentikan Perang Timur Tengah
PBNU Apresiasi Gencatan Senjata AS-Iran, Serukan Hentikan Perang Timur Tengah
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com