Editor
KOMPAS.com - Di tengah dunia yang semakin cepat dan terhubung tanpa henti, muncul tren tak biasa di Arab Saudi. Sejumlah anak muda—mulai dari mahasiswa, kreator, hingga profesional—justru memilih “mundur” dari teknologi canggih dengan beralih ke ponsel sederhana.
Bukan tanpa alasan. Di balik keputusan itu, ada kelelahan yang diam-diam dirasakan: notifikasi tanpa henti, scroll tak berujung, hingga rasa sulit fokus yang semakin nyata.
Fenomena ini dikenal sebagai digital minimalism—gaya hidup yang secara sadar mengurangi konsumsi digital untuk mendapatkan kembali kendali atas waktu dan pikiran.
Bagi Noura Al-Qahtani, kreator konten asal Riyadh, keputusan mengganti smartphone dengan ponsel sederhana menjadi titik balik.
“Aku tidak sadar berapa banyak waktuku hilang hanya untuk scrolling,” ujarnya.
Saat pertama kali beralih, ia justru merasakan sesuatu yang asing: kesunyian.
Namun, dari situlah muncul kejernihan. Ia bisa duduk lebih lama, berpikir lebih dalam, dan menyelesaikan pekerjaan tanpa gangguan.
Data menunjukkan, penetrasi media sosial di Arab Saudi telah melampaui 90 persen, dengan rata-rata penggunaan lebih dari tiga jam per hari. Angka ini menggambarkan betapa besarnya paparan digital dalam kehidupan sehari-hari.
Tak heran, banyak yang mulai merasa pikirannya “terpecah”.
Mahasiswa seperti Abdulrahman Al-Harbi merasakan dampaknya saat masa ujian.
“Saya belajar, tapi setiap beberapa menit refleks mengecek ponsel,” katanya.
Setelah beralih ke ponsel sederhana, ia menyadari sesuatu: bukan belajar yang sulit, tapi pikirannya yang terus meloncat.
Menariknya, tren ini bukan soal menolak teknologi. Justru sebaliknya—ini tentang mengatur ulang hubungan dengan teknologi.
Dengan menghilangkan aplikasi, notifikasi, dan algoritma yang adiktif, pengguna menciptakan ruang yang lebih tenang.
Sebagian bahkan memilih pendekatan “hybrid”: tetap memiliki smartphone, tapi tidak selalu membawanya.
Seperti yang dilakukan Sara Al-Zahrani, yang kini hanya menggunakan ponsel sederhana saat keluar rumah.
“Pikiran saya terasa lebih tenang. Tidak terus-menerus bereaksi,” katanya.
Fenomena ini juga menyentuh penggunaan teknologi lain, termasuk kecerdasan buatan seperti ChatGPT.
Omar Al-Salem mengaku sempat terlalu bergantung pada AI untuk hal-hal kecil, mulai dari menulis email hingga menyusun ide.
“Awalnya membantu. Tapi lama-lama saya merasa tidak berpikir sedalam dulu,” ujarnya.
Setelah mengurangi ketergantungan, ia merasakan perubahan: berpikir lebih lambat, tetapi lebih jernih.
Para ahli menilai, gangguan digital bukan hanya soal fokus, tapi juga kesehatan mental dan kualitas tidur.
Paparan layar sebelum tidur, misalnya, dapat mengganggu produksi melatonin—hormon penting untuk siklus tidur. Akibatnya, banyak orang sulit tidur nyenyak.
Tak hanya itu, gangguan terus-menerus juga membuat otak terbiasa mencari hal baru secara cepat, bukan mendalami sesuatu secara mendalam.
Baca juga: Fantastis! 89 Juta Orang Kunjungi Arab Saudi untuk Hiburan Selama 2025
Di tengah ambisi besar Arab Saudi sebagai negara maju secara teknologi, tren ini justru menghadirkan pertanyaan penting: seberapa jauh teknologi harus masuk ke hidup kita?
Bagi sebagian orang, jawabannya sederhana—tidak harus selalu lebih canggih.
Kadang, cukup kembali ke yang lebih sederhana untuk mendapatkan kembali sesuatu yang paling berharga: fokus, ketenangan, dan kendali atas diri sendiri.
Dalam dunia yang terus berisik, memilih hening bisa jadi adalah langkah paling radikal.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang