Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Saat Warga Arab Saudi “Turun Level” ke Ponsel Jadul demi Kesehatan Mental

Kompas.com, 5 April 2026, 07:14 WIB
Farid Assifa

Editor

Sumber Arab News

KOMPAS.com - Di tengah dunia yang semakin cepat dan terhubung tanpa henti, muncul tren tak biasa di Arab Saudi. Sejumlah anak muda—mulai dari mahasiswa, kreator, hingga profesional—justru memilih “mundur” dari teknologi canggih dengan beralih ke ponsel sederhana.

Bukan tanpa alasan. Di balik keputusan itu, ada kelelahan yang diam-diam dirasakan: notifikasi tanpa henti, scroll tak berujung, hingga rasa sulit fokus yang semakin nyata.

Fenomena ini dikenal sebagai digital minimalism—gaya hidup yang secara sadar mengurangi konsumsi digital untuk mendapatkan kembali kendali atas waktu dan pikiran.

Baca juga: Generasi “Side Hustle” Saudi: Kerja Kantoran Tak Lagi Cukup, Anak Muda Kejar Passion dan Cuan Sekaligus

Lelah Terhubung, Ingin Kembali Hening

Bagi Noura Al-Qahtani, kreator konten asal Riyadh, keputusan mengganti smartphone dengan ponsel sederhana menjadi titik balik.

“Aku tidak sadar berapa banyak waktuku hilang hanya untuk scrolling,” ujarnya.

Saat pertama kali beralih, ia justru merasakan sesuatu yang asing: kesunyian.

Namun, dari situlah muncul kejernihan. Ia bisa duduk lebih lama, berpikir lebih dalam, dan menyelesaikan pekerjaan tanpa gangguan.

Ketika Fokus Jadi Barang Mewah

Data menunjukkan, penetrasi media sosial di Arab Saudi telah melampaui 90 persen, dengan rata-rata penggunaan lebih dari tiga jam per hari. Angka ini menggambarkan betapa besarnya paparan digital dalam kehidupan sehari-hari.

Tak heran, banyak yang mulai merasa pikirannya “terpecah”.

Mahasiswa seperti Abdulrahman Al-Harbi merasakan dampaknya saat masa ujian.

“Saya belajar, tapi setiap beberapa menit refleks mengecek ponsel,” katanya.

Setelah beralih ke ponsel sederhana, ia menyadari sesuatu: bukan belajar yang sulit, tapi pikirannya yang terus meloncat.

Bukan Anti Teknologi, Tapi Mengambil Kendali

Menariknya, tren ini bukan soal menolak teknologi. Justru sebaliknya—ini tentang mengatur ulang hubungan dengan teknologi.

Dengan menghilangkan aplikasi, notifikasi, dan algoritma yang adiktif, pengguna menciptakan ruang yang lebih tenang.

Sebagian bahkan memilih pendekatan “hybrid”: tetap memiliki smartphone, tapi tidak selalu membawanya.

Seperti yang dilakukan Sara Al-Zahrani, yang kini hanya menggunakan ponsel sederhana saat keluar rumah.

“Pikiran saya terasa lebih tenang. Tidak terus-menerus bereaksi,” katanya.

Ketika AI Membuat Kita Terlalu Cepat

Fenomena ini juga menyentuh penggunaan teknologi lain, termasuk kecerdasan buatan seperti ChatGPT.

Omar Al-Salem mengaku sempat terlalu bergantung pada AI untuk hal-hal kecil, mulai dari menulis email hingga menyusun ide.

“Awalnya membantu. Tapi lama-lama saya merasa tidak berpikir sedalam dulu,” ujarnya.

Setelah mengurangi ketergantungan, ia merasakan perubahan: berpikir lebih lambat, tetapi lebih jernih.

Fokus, Tidur, dan Kesehatan Mental

Para ahli menilai, gangguan digital bukan hanya soal fokus, tapi juga kesehatan mental dan kualitas tidur.

Paparan layar sebelum tidur, misalnya, dapat mengganggu produksi melatonin—hormon penting untuk siklus tidur. Akibatnya, banyak orang sulit tidur nyenyak.

Tak hanya itu, gangguan terus-menerus juga membuat otak terbiasa mencari hal baru secara cepat, bukan mendalami sesuatu secara mendalam.

Baca juga: Fantastis! 89 Juta Orang Kunjungi Arab Saudi untuk Hiburan Selama 2025

Kembali ke Hal yang Sederhana

Di tengah ambisi besar Arab Saudi sebagai negara maju secara teknologi, tren ini justru menghadirkan pertanyaan penting: seberapa jauh teknologi harus masuk ke hidup kita?

Bagi sebagian orang, jawabannya sederhana—tidak harus selalu lebih canggih.

Kadang, cukup kembali ke yang lebih sederhana untuk mendapatkan kembali sesuatu yang paling berharga: fokus, ketenangan, dan kendali atas diri sendiri.

Dalam dunia yang terus berisik, memilih hening bisa jadi adalah langkah paling radikal.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Arab Saudi Masuk 22 Negara Paling Bahagia 2026, Dampak Vision 2030
Arab Saudi Masuk 22 Negara Paling Bahagia 2026, Dampak Vision 2030
Aktual
Ilmuwan Jepang Prediksi Terjadinya Kiamat, Bumi Kehilangan Oksigen
Ilmuwan Jepang Prediksi Terjadinya Kiamat, Bumi Kehilangan Oksigen
Aktual
Dari “Surga Terlupakan” ke Pusat Ekonomi Dunia: Makran Iran Bangkit di Jalur Perdagangan Eurasia
Dari “Surga Terlupakan” ke Pusat Ekonomi Dunia: Makran Iran Bangkit di Jalur Perdagangan Eurasia
Aktual
Menag Soroti MBG Belum Merata, Madrasah Baru 10–12 Persen
Menag Soroti MBG Belum Merata, Madrasah Baru 10–12 Persen
Aktual
Waspada Haji Jalur Cepat! Visa Ziarah Tidak Bisa Dipakai untuk Berhaji
Waspada Haji Jalur Cepat! Visa Ziarah Tidak Bisa Dipakai untuk Berhaji
Aktual
69 Ribu Santri Ikuti UAN Pendidikan Kesetaraan 2026, Ijazahnya Diakui Negara
69 Ribu Santri Ikuti UAN Pendidikan Kesetaraan 2026, Ijazahnya Diakui Negara
Aktual
Nama Penuh Makna: Kisah Bayi “Ali Khamanei” dan Jejak Inspirasi Lintas Bangsa
Nama Penuh Makna: Kisah Bayi “Ali Khamanei” dan Jejak Inspirasi Lintas Bangsa
Aktual
Panen Mawar Saudi Naik, Berpotensi Jadi Bahan Industri Kuliner Dunia
Panen Mawar Saudi Naik, Berpotensi Jadi Bahan Industri Kuliner Dunia
Aktual
Gurun Sebagai Jejak Peradaban: Misteri Kota Batu Hegra di Arab Saudi
Gurun Sebagai Jejak Peradaban: Misteri Kota Batu Hegra di Arab Saudi
Aktual
Megaproyek The Line NEOM: Kota Futuristik Tanpa Jalan di Arab Saudi
Megaproyek The Line NEOM: Kota Futuristik Tanpa Jalan di Arab Saudi
Aktual
Outfit Lebaran Idul Adha 2026: Dari Shalat Id hingga Nonton Kurban, Hindari Warna Mencolok
Outfit Lebaran Idul Adha 2026: Dari Shalat Id hingga Nonton Kurban, Hindari Warna Mencolok
Aktual
Surat Al-Baqarah Ayat 285-286: Doa Mustajab dan Pelindung Malam
Surat Al-Baqarah Ayat 285-286: Doa Mustajab dan Pelindung Malam
Doa dan Niat
Gubernur NTB Puji Khofifah sebagai Teladan Perempuan, Ajak Muslimat NU Perkuat Ketahanan Keluarga
Gubernur NTB Puji Khofifah sebagai Teladan Perempuan, Ajak Muslimat NU Perkuat Ketahanan Keluarga
Aktual
Cara Ulama Membaca Buku: Bukan Sekadar Banyak, Tapi Mendalam dan Bertahap
Cara Ulama Membaca Buku: Bukan Sekadar Banyak, Tapi Mendalam dan Bertahap
Aktual
Surga Mawar Arab Saudi! Panen Taif Melimpah, Hasilkan Minyak Wangi Termahal Dunia
Surga Mawar Arab Saudi! Panen Taif Melimpah, Hasilkan Minyak Wangi Termahal Dunia
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com